30 ~ A LOT THE THINGS

7.2K 391 7
                                        

"Kamu sungguh baik-baik aja?"

Keheningan yang terjadi di dalam mobil, membuat Anna menoleh pada pengemudi yang berbaik hati memberinya tumpangan. Pria itu bertanya dengan wajah tenang.

"Iya, aku baik-baik aja."

Daripada rasa sakit dan malu karena penyerangan yang dilakukan Yuli. Anna lebih kesal karena tidak bisa memenjarakan wanita itu.

"Wanita tadi itu, ibu mertuamu?"

Pertanyaan yang diajukan Bara, membuat Anna mengalihkan pandangan menatap ke luar jendela.

Ia benci mengakui kebenaran kehidupannya sekarang di depan Bara.

"Iya," jawab Anna terpaksa. Lebih baik ia berkata sekarang daripada Bara tahu belakangan.

"Kalau pria yang berbicara denganmu tadi?"

"Dia mantan suamiku." Anna tidak ingin menutupi apapun.

Apa lagi yang bisa ia harapkan setelah pengakuan cintanya ditolak Bara?

Selain, belas kasihan pria itu agar mencintai orang biasa sepertinya. Kecil kemungkinan, untuk Anna meluluhkan hati Bara.

Bahkan, setelah perpisahannya dengan Tamara. Anna masih tidak yakin apa Bara akan meliriknya?

Namun, tidak menutup kemungkinan pula. Jika dari kesempatan sekecil itu, Anna punya peluang. Setidaknya, untuk dicintai dengan tulus oleh Bara

"Jangan terlalu dipikirkan. Semuanya pasti baik-baik aja," kata Bara memberi semangat.

•••

Seperti pelangi yang muncul setelah hujan. Anna tidak pernah menduga bahwa Ryan mengajaknya bertemu setelah menemukan jadwal kosong di sela kesibukannya.

Meski berapa kali, Ryan ingin menjemput Anna. Tapi, Anna menolak, mengingat Ryan adalah orang terkenal yang bisa saja dikenali tetangga-tetangga di daerah tempat tinggalnya. Itu berbahaya.

Karenanya, Anna selalu mengalah dan menemui Ryan di apartemen mahal pria itu.

Tidak dengan Micky. Ryan memegang kunci mobil, ia ingin sekali-sekali mengajak Anna berkeliling. Dalam suatu hubungan, Ryan merasa timbal balik itu perlu.

Mobil sport Ryan yang sudah lama tidak Anna tumpangi masih terasa sama. Pupil mata Anna melebar, saat atap mobil itu perlahan-lahan terbuka, mengekspos mereka berdua dengan sempurna.

"Yan, tutup aja! Percuma kamu pakai topi dan masker, kalau mobil kamu terbuka begini?!" protes Anna seperti ibu yang mengomeli anaknya.

Ryan tersenyum di balik maskernya, ia menoleh ke arah Anna lembut dengan mata bulan sabit yang terlihat hangat. Ia tidak menggubris Anna.

"Aku suka anginnya, ini terasa menyegarkan." Ryan buka suara, mengalihkan fokusnya kembali ke jalan.

Apa yang dikatakan Ryan benar, angin kencang yang menghantam mereka terasa sangat menyegarkan dan mengangkat semua beban pikiran Anna.

Tidak punya kuasa seperti dulu yang bisa mengatur Ryan dengan mudah. Anna memilih untuk mengalah, ia menutup kedua mata dan merasakan udara malam yang disukainya.

Beberapa menit, hingga Anna membuka matanya kembali. Pandangan matanya menunduk, menatap tangan Ryan yang sedang menggenggam erat tangannya.

"Aku rasa aku suka kamu, Anna."

Tiada angin tiada hujan, Ryan tiba-tiba mengakui cintanya. Anna merasa seperti tersambar petir di tengah-tengah situasi saat ini.

Anna berusaha menarik tangannya dari pegangan Ryan yang cukup kuat. Namun, gagal.

The Second Life Memory (COMPLETED) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang