Cincin berlian yang berkilau cantik itu disodorkan ke hadapan Anna, tidak lupa Bara juga berlutut di hadapannya.
Anna menahan diri, untuk tidak mengambil benda yang sudah ia inginkan sejak lama itu.
Kedua tangan Anna mengepal erat di samping tubuhnya.
"Aku tidak bisa, Bara!" Anna menolak, ia beranjak dari kursi itu. Ia mengurungkan niat awalnya untuk menemui Bara.
Tega, itu kata yang pasti dipikirkan Bara tentang dirinya.
Tapi, Bara mungkin tidak tahu. Bahwa, Anna hampir menyerah dan melupakan kecurigaannya pada Bara begitu saja.
Bara menyusul Anna, menahan pergelangan tangan wanita cantik itu erat.
"Aku butuh alasan, kenapa kamu menolakku? Apa yang kurang di matamu, aku akan segera memperbaikinya?"
Sudut bibir Anna terangkat, ia menepis tangan Bara kasar.
"Aku sama sekali tidak mengerti denganmu, Bara."
"Apa maksud kamu?" Bara butuh alasan, ia sangat yakin jika Anna juga memiliki perasaan yang sama dengannya.
"Bagaimana bisa kamu mencintai orang yang nyaris kamu bunuh ---
Deg!
Kedua bola mata Anna melebar dengan sempurna, ia sendiri tidak sadar dengan yang barusan ia katakan.
Bukan hanya Anna, Bara juga tampak terkejut dengan apa yang barusan Anna katakan.
"Bagaimana kamu ---?"
"Jangan mendekat!" kata Anna sambil melangkah mundur begitu melihat Bara bergerak mendekatinya.
Meraih benda-benda di sekitarnya, Anna mendapatkan gelas kaca, memecahkannya ke tembok lalu menyodotkan benda tajam itu dengan berani ke hadapan Bara.
Anna sama sekali tidak takut.
"Bagaimana kamu tahu hal itu, Anna?" tanya Bara, nyaris tidak percaya.
"Sampai kapan kamu mau menutupi dan merahasiakan hal ini dariku. Bahwasanya, kamu itu seorang pembunuh!"
Anna melayangkan gelas pecah itu ke wajah Bara. Dengan cepat Bara langsung memegangi pipinya yang mulai mengeluarkan darah segar.
Ada kekecewaan di mata Bara, saat Anna melakukan hal itu padanya.
"Dengar, penjelasanku Anna ... kamu salah paham."
"Salah paham? Kamu orang ada di atap bersamaku malam itu, saat aku bunuh diri!"
"Tidak, kamu salah paham." Bara mencoba mendekati Anna, ia mencoba mengambil pecahan gelas yang ada di tangan Anna.
"Sekali lagi kamu mendekat, aku tidak sengan-segan akan membunuhmu!" teriak Anna lantang.
"Kamu harus dengerin aku dulu!" Suara Bara meninggi, ia merampas paksa gelas yang dipegang Anna. Tidak peduli, jika tangannya terluka karena meremas benda tajam itu.
"Mendengarkan apa lagi? Kamu itu pembunuh!" hardik Anna. Ia menatap Bara tajam. "Aku sudah mengetahui semua kebusukan dan korupsi yang kamu lakukan."
Bara tersenyum getir. Ia sama sekali tidak peduli dengan rasa sakit di wajah dan tangannya.
Namun, ketika orang yang dicintainya menatapnya dengan sorot mata asing itu. Bara merasa sangat sakit.
Mungkin, sekarang bukan waktu yang tepat untuk mengaku. Tapi, Bara akan mengatakannya.
"Kamu benar, aku adalah orang yang ada di atap bersamamu tapi aku datang untuk menghentikan pembunuhan itu, meski terlambat."
"Jangan berbohong, kamu pikir aku akan percaya dengan ucapanmu?!"
KAMU SEDANG MEMBACA
The Second Life Memory (COMPLETED)
Romance~•~ follow dulu sebelum membaca, thx. Amanda Shopia artis paling fenomenal dengan banyak skandal dan anehnya ia masih wara-wiri di dunia hiburan. Arogan dan angkuh, hanya wajah cantik bak dewi itu yang menjadi daya tariknya. Tapi, dibalik itu semu...
