Bugh!
Satu kepalan tinju menghantam Bara tanpa aba-aba. Tidak bisa menghindar, Bara tersungkur jatuh ke tanah dengan sudut bibir mengeluarkan darah segar.
"Di mana Anna?!"
Tidak cukup dengan serangan mendadak itu, Alvaro meraih kerah kemeja yang dikenakan Bara.
"Gue nggak tahu!" Bara melepaskan tangan Alvaro dari kemejanya. Ia memberikan tinju balasan pada pria itu telak.
"Jangan bohong lo! Gue tahu, kalau lo mencelakainya. Dari awal lo memang sudah ingin membunuh Anna, kan?!"
Bara menahan tinju Alvaro. Bara tahu, pria itu tengah terbakar amarah.
"Sadarkan diri lo bajingan!" teriak Bara mengingatkan Alvaro.
"Anna bilang dia pergi menemui lo!" sahut Alvaro dengan nada tinggi, ia melayangkan bogem mentah itu lagi ke pipi Bara.
"Sialan!" kesal Bara. Bukan pada Alvaro. Melainkan, pada orang yang ia rasa sedang bertemu Anna saat ini.
•••
Alvaro mengikuti Bara yang tampak tergesa-gesa. Ia tampak sibuk mencari sesuatu dari dalam sakunya.
"Ada apa?" tanya Alvaro ingin tahu. Jika, hal itu menyangkut Anna. Maka, ia juga perlu tahu.
"Anna dalam bahaya sekarang!" kata Bara pada Alvaro.
"Apa maksud lo?" selidik Alvaro.
"Gue harus nemuin Anna sekarang!"
"Sama gue!" kata Alvaro, dengan cepat ia menuntun Bara menuju mobilnya yang terpakir tidak jauh dari posisi mereka berdiri.
Dua pria itu tampak tergesa-gesa, Alvaro masuk ke kursi pengemudi sedangkan Bara duduk di kursi penumpang.
"Om Bara?" Alana menoleh ke belakang saat Bara membuka pintu dan masuk mobil.
"Buruan ke TQ Company!" perintah Bara pada Alvaro.
•••
Anna sudah menebak sejak awal pesan yang dikirimkan atas nama Bara itu hanya jebakan.
"Udara yang segar," kata Anna, ia melebarkan tangan sambil menghirup udara segar.
"Apa kamu ingat tempat ini?" tanya pria itu, ia menatap pemandangan cantik dan indah dari gedung-gedung bertingkat dan bercahaya yang terlihat dari atap gedung.
"Tentu saja," jawab Anna berpura-pura. Anna berakting polos. "Kenapa kamu memanfaatkan nama Bara untuk menemuiku?"
"Itu hanya umpan untuk menangkap orang sepertimu."
Udara malam terasa menyegarkan bagi Anna. Langit tampak indah, serta pemandangan yang terlihat dari atas atap juga tidak kalah.
"Tempat ini terlalu cantik jika kamu ingin membunuhku."
"Tutup mulutmu, Jalang!"
Kata kasar yang terlontar di mulut Anton membuat Anna bertanya-tanya bagaimana bisa pria yang terkenal berbudi luhur bisa berubah begitu cepat.
"Bagaimana bisa kamu tumbuh sebrengsek ini?" tanya Anna berterus terang.
Plak!
Satu tamparan, membuat Anna meringis menahan sakit. Bayangkan saja, jika tangan besar dengan tenaga penuh itu mendarat di pipi mulusnya.
"Kamu pasti sudah bosan hidup!"
Tangan Anton bergerak meraih bahu Anna, namun dengan cepat Anna melakukan serangan balasan dengan membanting Anton.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Second Life Memory (COMPLETED)
Romansa~•~ follow dulu sebelum membaca, thx. Amanda Shopia artis paling fenomenal dengan banyak skandal dan anehnya ia masih wara-wiri di dunia hiburan. Arogan dan angkuh, hanya wajah cantik bak dewi itu yang menjadi daya tariknya. Tapi, dibalik itu semu...
