Wanita cantik dengan wajah penuh riasan itu duduk dengan kaki menyilang di atas sofa sambil menyortir beberapa naskah sinetron yang masuk. Namanya, semakin melambung tinggi semenjak membintangi film Young Lady---film terlaris sejak akhir tahun.
Meski sudah dua bulan berlalu, film tersebut sampai saat ini masih di putar di bioskop. Sepertinya para menonton memang tergila-gila pada cerita berakhir tragis tersebut. Konon katanya, sad ending memang lebih mengesankan.
Suara ketukan pintu, membuat Amanda menegakan kepala untuk melihat siapa yang datang. Wanita berambut kecoklatan itu meletakan naskah yang tadinya ia baca di atas meja.
"Lo ngapain ke sini?!" tanya Amanda dengan kedua tangan terlipat di dada, menatap juniornya tajam.
"Ya, nggak apa-apa. Mau ketemu sama lo, aja." Pria itu menjawab jujur, ia duduk di sofa kosong yang berukuran lebih kecil. "Kenapa uring-uringan?"
Amanda melirik Ryan, pria yang berusia lebih muda darinya itu memang sangat hebat membaca pikiran orang lain. Tahu saja, jika dirinya memang sedang galau brutal.
"Bara sibuk banget karena insiden itu." Dengan wajah merengut, Amanda menyampaikan keluh kesahnya pada sang sahabat.
"Karena kejadian bunuh diri di atap itu?" Ryan adalah orang pertama yang mengabari Amanda kala itu. Saat pertama kali mendengar berita itu dari sang manager yang paling up to date soal gosip, ia juga tidak kalah kaget.
"Hmm, kasihan. Bara pasti sibuk banget ngurusin banyak hal."
Ryan menghela napas panjang, hanya bisa menatap dalam diam wajah sedih sang sahabat. Ia sudah tidak kaget dengan cinta sepihak Amanda untuk Bara. Itu bukan hal umum lagi, karena semua orang terdekat artis cantik itu pasti mengetahui seberapa cinta Amanda pada pengusaha muda itu.
"Bara, Bara, Bara dan Bara lagi. Lo nggak bosan apa?" kesal Ryan pada akhirnya mengutarakan isi hatinya.
"Cih, siapa lo, ngatur gue?!" balas Amanda sinis.
"Ya, orang yang selalu ada buat lo?!" ucap Ryan percaya diri sambil memberikan senyuman lebar sok ganteng yang terkesan menyebalkan.
Dengan cepat Amanda bergidik ngeri, lalu berakting muntah di hadapan lawan bicaranya.
"Jahat amat lo, Man!" protes Ryan sabar.
Mencoba mengalihkan pembicaraan, fokus Ryan berpindah pada beberapa naskah yang tergeletak di atas meja.
"Banyak naskah, nih! Lo bakal ngambil peran apa?" tanya Ryan sekadar basa-basi.
Amanda memutar bola matanya, tidak tahu harus menjawab apa. "Entah, gue juga bingung. Lagi pengen istirahat dan ngurangin job dulu akhir-akhir ini."
"Ide bagus, tuh! Gue lihat jadwal lo juga padat banget."
"Nggak sepadat lo juga kali!!" Amanda melempar senyum manis pada penyanyi pendatang baru yang sedang naik daun itu. "Yan, selain dunia akting ... menurut lo, apa seharusnya gue terjun ke dunia tarik suara juga?"
Mendengar hal itu, Ryan rasanya tersedak meski tidak sedang meminum apapun. Ia kaget bukan main.
"Saran gue, jangan sampai, deh. Suara lo itu kek kambing kepecirit. Fans lo bisa-bisa kabur semua." Ryan tidak setuju, menolak secara kasar gagasan tidak masuk alal itu.
"Kan' bisa diedit, ada auto tune juga? Lo kenalin lah, gue sama produser." Amanda meminta dengan sungguh-sungguh, sambil berlagak memohon.
"Ngancurin nama baik gue kalau itu sampai terjadi. Ogah, ah!" Sebelum terbujuk, Ryan bangkit dari duduknya. Ia harus melarikan diri demi kebaikan bersama.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Second Life Memory (COMPLETED)
Romance~•~ follow dulu sebelum membaca, thx. Amanda Shopia artis paling fenomenal dengan banyak skandal dan anehnya ia masih wara-wiri di dunia hiburan. Arogan dan angkuh, hanya wajah cantik bak dewi itu yang menjadi daya tariknya. Tapi, dibalik itu semu...
