13 ~ KATA ANTI FANS

11.7K 597 3
                                        

"Aku pikir urusan kita sudah selesai, dan kamu jangan menghubungiku lagi. Aku sudah membantumu jadi kita impas sekarang!" tegas Anna pada lawan bicara yang mengejarnya sampai ke ujung jalan.

"Na! Aku minta maaf mewakili mereka, aku tahu banget kalau mereka sangat keterlaluan." Alvaro mengusap wajahnya gusar, situasi yang terjadi sungguh kacau balau.

"Baguslah, kalau kamu tahu itu!" Anna menepis kasar tangan Alvaro dari lengannya.

"Aku akan mengirim kembali semua uang itu, atau aku bisa mengirim lebih banyak ---" ucapan Alvaro terhenti.

Anna marah sampai ke ubun-ubun, di situasi seperti sekarang sungguh tidak masuk akal rasanya, jika Alvaro berbicara soal uang padanya.

"Apa di matamu aku cewek mata duitan?"

"Bukan itu maksudku, Na!" ralat Alvaro cepat, namun Anna sudah terlanjur tidak peduli.

"Sudah cukup, aku muak. Sekarang bukan soal uang lagi, melainkan harga diri. Lagipula, urusan kita sudah selesai jad jangan menghubungiku lagi." Anna menegaskan, ia harap hari ini adalah pertemuannya dengan Alvaro. Ia tidak ingin terlibat lagi dengan sang mantan suaminya, bocah manja, atau dua penyihir di rumah itu.

"Tunggu, Na. Biar, aku antar."

"Nggak usah!"

Sekali lagi, Alvaro menahannya. Anna sudah kehabisan energi untuk marah-marah.

"Aku khawatir, Na. Wajah kamu kelihatan pucat dan badanmu juga panas."

Anna menarik napas panjang, ia menatap Alvaro lelah. Jadi, apa ini alasan sebenarnya dari rasa pusing yang ia alami sejak bangun tidur?

"Terserah, deh!" Anna terlalu malas untuk berdebat, apalagi saat kepalanya mulai berdenyut tidak karuan.

Anna membuka mata, menemukan dirinya terbangun di dalam mobil Alvaro dengan berselimut jaket hitam pria itu.

Kepalanya masih terasa pusing, ia menoleh ke samping mencari keberadaan Alvaro. Namun, kursi kemudi kosong, hanya Anna seorang diri di dalam mobil.

Tidak lama, Alvaro kembali dengan membawa plastik hitam.

"Ini obat untukmu, aku juga membelikan makan siang."

Tidak ada kata terima kasih, Anna mengambil plastik yang diberikan Alvaro, ia juga segera meminum obat untuk meredakan sakit kepalanya.

Setelah cukup lama di perjalanan, akhirnya mobil Alvaro tiba di tempat tujuan. Perjalanan yang mereka tempuh menjadi lama karena pria itu menuju ke rumah lama yang sebelumnya ditempati Anna.

Wanita berwajah pucat itu turun dari dalam mobil, tanpa ucapan terima kasih. Alvaro pun mengikuti.

"Kamu pindah rumah, kenapa tidak memberitahuku, Na?"

"Kenapa aku harus memberitahukanmu?" tanya Anna balik.

"Lupakan."

Anna sama sekali tidak peduli, ia berjalan lurus ke depan tanpa menoleh ke arah Alvaro sedikitpun.

"Diyana!"

Langkah Anna terhenti sesaat, namun ia tidak akan terkecoh. Ia lanjut berjalan bersikap seolah tidak mendengar apapun.

"Aku minta maaf untuk semuanya, sekarang sudah saatnya kamu bahagia. Aku akan mendukung dan menghargai keputusanmu dari tempatku berada."

Perkataan aneh Alvaro sungguh di luar prediksi Anna. Ia sangat tercengang.

Siapa dia?

Apa haknya berkata seperti itu?

"Ckckck, dasar aneh."

The Second Life Memory (COMPLETED) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang