20 ~ TEGA

9.5K 460 3
                                        

Setelah dihubungi Anna, Alvaro langsung menuju rumah sakit.

"Mana Alana?" tanya Alvaro.

"Dia sedang istrahat," jawab Anna apa adanya. Alana sudah diberi penanganan yang tepat oleh dokter.

Alvaro lega bahwa Alana tidak benar-benar hilang, tapi rasa khawatir itu belum usai karena gadis kecil sangat ia sayangi malah terbaring di hospital bed dan masih belum sadarkan diri.

"Dia nggak apa-apa, kan?" tanya Anna sedari tadi mondar-mandir. Bertanya pada Alvaro mungkin akan membantu rasa cemasnya hilang. Pertama Alvaro adalah ayah Alana dan kedua Alvaro juga seorang dokter.

Bukannya menjawab, Alvaro menarik Anna keluar dari ruangan Alana dirawat.

"Kamu pasti sudah gila, Na!" bentak Alvaro tidak tertahankan.

"Apa maksdumu?" Anna bingung karena Alvaro menunjukan sisi baru dari dalam dirinya. Untuk pertama kalinya juga, Anna melihat Alvaro semarah ini.

"Alana itu alergi kacang! Kamu ngasih makan dia apa? Kamu mau bikin dia celaka?!" todong Alvaro. Tidak mungkin alergi Alana kambuh jika tidak ada pemicunya.

Anna diam dan berpikir sejenak. Ia baru ingat, bahwa Alana memakan cukup banyak mochi berisi kacang tanah beberapa jam yang lalu.

"Aku sama sekali nggak tahu." Anna berkata jujur, ia berusaha tenang dan mengalah. Alvaro juga sepertinya salah paham padanya.

"Tentu saja, kamu nggak tahu, Na! Karena kamu sudah hidup di atas angin sekarang!"

"Alvaro ---" Anna mencoba menenangkan amarah Alvaro.

"Tunggu, aku belum selesai!" Alvaro menepis Anna kasar, menatap mantan istrinya tajam. "Kamu memang punya semuanya sekarang, Na. Jadi, kamu bersikap nggak acuh lagi sama anak kamu."

Anna menunduk hanya diam mendengarkan. Benar sedikitnya, Alvaro ada benarnya. Meski Anna merasa bukan ibu untuk Alana. Tapi, pandangan Alana pasti berbeda.

"Aku minta maaf," lirih Anna mengalah.

Alvaro memindai penampilan Anna yang terlalu banyak berubah, baju kaus crop top ketat dan rok mini yang mungkin tersingkap jika tertiup angin.

"Laki-laki mana lagi yang kamu rayu dan kamu deketin dengan penampilanmu yang seperti ini?"

Mendengar hal itu, Anna mendongak. Tatapan matanya tertuju pada Alvaro yang tampak menilainya sebelah mata.

"Bicaramu sudah keterlaluan, aku bilang aku minta maaf karena aku nggak tahu sama sekali kalau Alana alergi kacang!" terang Anna penuh penekanan, ia harap Alvaro bisa diam dan berhenti menyalahkannya.

"Kamu berubah, Na. Ternyata selama ini, aku salah menilai kamu! Bagaimanapun penampilan kamu sekarang, aku mohon kamu jangan lupain Alana, karena dia tetap darah daging kamu."

Anna menarik napas dalam, ia berusaha membujuk Alvaro.

"Kamu kelihatan sangat lelah hari ini, Al! Sepertinya kamu butuh istirahat, kita duduk atau minum dulu, agar kita bisa bicara dengan suasana yang lebih bagus ---"

"Apa kamu mengenalkan Alana pada pacar barumu?!"

Bukan hanya memotong pembicaraan Anna, Alvaro juga membuat kesabaran Anna mulai berkurang.

"Apa maksudmu?"

"Lelaki di live streaming itu mantan pacarmu, kan? Dan pasti sekarang kamu juga sudah punya pacar baru. Jadi, ada berapa banyak lelaki cadangan yang kamu punya?"

"Bicara kamu terlalu jauh sekarang, Al!" tegur Anna dengan tatapan tajam.

"Apa aku salah, Na?!"

"Tentu! Kamu salah menilaiku, Al!"

The Second Life Memory (COMPLETED) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang