05 ~ CERITA DONA

13.2K 653 0
                                        

Jam kecil di sudut meja menunjukan pukul 23:00, Anna memperhatikan sekitar, rekan kerjanya yang lain tampak bersiap untuk pulang.

Anna teringat perkataan Dona, setelah selesai merapikan meja kerja, ia keluar dari ruangan dan menuju lantai 10, kantor sahabatnya itu.

"Duduk dulu, minum teh."

Anna terdiam melihat tingkah tidak biasa Dona. Wanita itu menyuguhkan segelas teh hangat untuknya.

"Aduh, Mbak, nggak usah repot." Anna merasa sungkan, meski sudah saling mengenal sejak SMA, Anna masih sangat menghormati Dona.

Dona duduk dalam diam di depan Anna, menatap sahabatnya lekat. Senyum Dona terbit, saat Anna menghabiskan tehnya.

Wanita dengan blazer hitam itu bangkit dari duduknya. "Sebenarnya, aku mau menitipkan sesuatu sama kamu, An."

"Ap itu, Mbak?" Anna mendongak, ekor matanya bergerak mengikuti Dona.

Dona mengambil benda kecil dari dalam laci, sebuah flashdisk kuning diletakan di atas meja.

"Ini, kamu simpan, An." Dona berkata terus terang, menyampaikan tujuan sebenarnya kenapa ia meminta sahabatnya itu datang menemuinya.

"Buat apa, Mbak?" tanya Anna tidak mengerti.

"Lo akan tahu nanti. Gue percaya sama lo ...," jawab Dona sengaja menggantung kalimatnya.

"Dan, kalau misal ada sesuatu terjadi sama gue, lo bisa gunain isi dari flashdisk ini." Dona melanjutkan ucapannya, ia bangkit dari duduknya menepuk pundak Anna dua kali.

Mendengar penjelasan Dona, Anna sama sekali tidak mengerti. Namun, pada akhirnya ia mengantongi flashdisk itu sesuai permintaan Dona.

•••

Keesokan harinya.

Pandangan Anna tertuju pada flashdisk kuning yang berada di atas meja, benda itu cukup membuatnya penasaran. Dalam pikirannya, ia bertanya-tanya apa maksud Dona menitipkan benda mungil itu?

Suara dering telepon, membuat Anna tersadar bahwa ia harus menjawab panggilan tersebut, melakoni pekerjaannya sebagai operator telepon.

Pekerjaan Anna selesai seperti biasa, pada pukul 23.00. Bersama dengan rekan lainnya, mereka keluar bersama dari dalam lift.

Saat berada di lobi Anna berpapasan dengan Dona yang baru saja kembali dari luar setelah membeli kopi.

"Mbak Dona, lembur lagi?" tanya Anna, sudah terbiasa melihat pemandangan seperti ini.

Tiada hari tanpa lembur untuk Dona, bahkan di akhir pekan wanita berusia dua tahun lebih tua dari Anna itu masih ke kantor. Pasti melelahkan.

Semenjak bekerja di TQ Qompany, Anna tidak pernah sekalipun melihat Dona pulang tepat waktu. Wanita gila kerja itu memang selalu sibuk.

"Iya, nih, banyak banget kerjaan. Ini sih, yang nggak enaknya jadi consultant keuangan perusahaan besar kek gini." Dona hanya bisa menunjukan wajah pasrah.

"Semangat, Mbak!" Anna menepuk pundak Dona.

•••

Sudah menjadi kebiasaan Anna semenjak shift malam, ia bangun kesiangan.

Sasa juga sepertinya paham, sepupunya itu tidak akan membangunkan Anna bahkan jika ada gempa hebat di luar rumah.

Tapi, entah karena apa, wanita kebo itu mendadak terbangun saat pukul 10.45.

Anna melihat ke arah jendela, matahari sudah bersinar dengan terik. Ia meregangkan tubuh, merasa sangat malas saat mengingat pakaian kotornya sudah menumpuk.

The Second Life Memory (COMPLETED) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang