"Maaf Tante," kata seorang gadis kecil yang sedang berlarian di koridor rumah sakit. Ia merasa bersalah karena tidak berhati-hati dan menabrak wanita cantik yang terlihat tidak asing di matanya.
"Nggak apa-apa, lain kali hati-hati ya. Karena kalau kamu berlarian seperti itu, kamu bisa mencelakai orang lain." Wanita cantik berambut pendek kecoklatan itu memberi masukan dengan sangat ramah. Ia berjongkok meski sulit, menyamai posisinya dengan gadis berusia 10 tahun itu.
Alana, panggilan akrab untuk gadis kecil itu segera mengangguk. Ia menoleh saat seseorang memanggil namanya. Pria tampan dan rupawan yang tampak keren dengan jas dokternya mendekat.
"Ayah!" Tanpa ragu, Alana langsung berlari ke pelukan sang ayah, ia masih manja seperti dahulu kala.
Wanita cantik yang sedang memegangi perut buncitnya itu mengenali Alvaro.
"Dokter Alvaro!"
"Tamara," balas Alvaro ramah. Wanita yang sering tampil di layar kaca itu pernah berkonsultasi dengannya beberapa kali.
"Saya nggak tahu, kalau Dokter Alvaro sudah punya anak segede ini." Tamara kaget, selama ini ia mengira dokter yang cukup terkenal di rumah sakit itu adalah bujangan. Namun, ia salah besar. "Mirip Dokter apa mirip ibunya?"
"Kata orang aku mirip mama." Alana menjawab cepat, meski pertanyaan itu tidak diajukan padanya.
Alvaro mengangguk setuju dengan jawaban putri semata wayangnya itu. "Kamu habis check up kandungan sama Dokter susan?"
"Iya, Dokter Susan-nya barusan keluar ada urusan katanya."
•••
Setelah diantarkan Elin ke rumah sakit tempat sang ayah bekerja. Ayah dan anak itu menuju salah satu restoran keluarga yang cukup terkenal akhir-akhir ini.
Ada seseorang yang sudah menunggu mereka sejak tadi. Wanita yang bekerja di pemerintahan itu, tampak menawan dengan seragam kantornya.
"Mama!" Alana langsung memeluk Anna erat.
Melihat wajah Alana, membuat rasa lelah Anna menghilang dengan cepat. Ia sudah cukup lelah dengan bekerja di pemerintahan ditambah ia sibuk mempersiapkan pernikahan.
Setelah memesan, mereka menunggu sambil bercerita banyak hal.
"Mama, tadi aku ketemu tante itu. Dia cantik banget, loh!" kata Alana menunjuk salah seorang wanita cantik yang dikenal dengan nama Tamara Nadie muncul dalam iklan mie goreng di televisi yang berada di sisi kanan bangunan.
"Tapi, lebih cantikan Mama." Alvaro menimpali percakapan ibu dan anak itu.
"Kalau itu, Alana setuju." Alana menoleh ke arah sang ayah lalu mengacungkan jempolnya.
Anna tersenyum bahagia, pandangan matanya beralih pada layar ponsel di atas meja yang bergetar.
Bara is calling ....
"Sebentar, aku angkat telepon dulu." Anna meraih ponselnya lalu beranjak dari meja dan menjauh.
Tombol hijau ditekan, panggilan terhubung.
"Aku kangen kamu, lagi di mana?" tanya Bara begitu tersambung.
"Jangan lebay! Gimana persiapan semuanya? Lancar?" tanya Anna memastikan.
"Pusing banget. Tapi, menurut kamu cincin yang kemarin udah oke, kan?"
"Oke banget, menurut aku itu cincin kawin paling cantik." Anna memuji cincin yang ia pilih dengan Bara setengah bulan yang lalu.
"Kamu lagi di luar ya? Lagi sama Bara dan Alana?"
"Iya, kami makan siang bareng. Setelah ini, aku balik kerja sekalian ngurus buat beli dan pilih kain buat bridesmaid nanti." Anna menjawab jujur, tidak menutup-nutupi apapun.
"Yaudah, kalau gitu semangat! Sampai ketemu di hari pernikahan nanti."
Panggilan berakhir. Anna tersenyum tidak jelas, mengingat Bara dan kekonyolan laki-laki itu. Setelah menelepon, Anna kembali pada Alvaro dan Alana.
"Urusan pernikahan lagi?" tanya Alvaro sudah hapal.
"Iya, dia selalu nelepon buat tanya urusan pernikahan ini dan itu, pusing banget jadinya." Anna memijit pelipisnya.
Tidak lama satu persatu makanan pesanan mereka disajikan. Anna buru-buru menutup mulut dan hidungnya begitu ikan bakar pesanan Alana disajikan di atas meja. Perutnya mendadak mual sekali.
Sekali lagi, Anna meninggalkan kursinya dan berlari ke arah wastafel yang ada di luar ruangan, sekaligus untuk menghirup udara segar.
Melihat ada yang tidak beres pada Anna, Alvaro mengikuti. Ia mendekat dan mengelus punggung Anna lembut.
"Aku mual banget," kata Anna sambil mengelap mulutnya.
Sebagai dokter kandungan, Alvaro bisa dibilang terbiasa dengan situasi ini.
"Kamu sudah periksa?" tanya Alvaro penasaran.
"Apanya?" tanya Anna tidak mengerti.
"Testpack, ini udah pertengahan bulan dan kamu belum dapet, kan?"
Anna menutup mulutnya rapat, mungkin karena kesibukannya setelah perjalanan dinas dan lain sebagainya. Anna tidak begitu perhatian lagi dengan jadwal datang bulannya yang tidak lancar.
"Maksud kamu aku hamil?" tanya Anna masih tidak percaya, namun ia bisa menangkap jelas apa yang dimaksud Alvaro.
"Aku nggak bisa memastikan untuk saat ini. Setelah ini, kamu jangan ke mana-mana, ikut aku ke rumah sakit, biar aku periksa."
Anna memasang wajah memelas.
"Bisa nanti nggak? Aku sibuk banget, aku juga harus urus kain bridesmaid."
"Ini lebih penting!" Alvaro menahan bahu Anna kuat, menatap pupil terang wanita cantik itu. "Kamu yang paling tahu sekeras apa usaha suamimu ini, supaya bisa bikin kamu hamil!"
Mendengar hal itu Anna langsung melangkah mundur.
"Jangan genit!" protesnya.
"Aku bicara fakta!" Alvaro memeluk tubuh Anna, berharap jika wanita itu benar-benar mengandung seperti dugaannya. "Kamu itu seksi banget, aku mana tahan."
Anna membalas pelukan Alvaro.
"Kalau aku nggak hamil kamu jangan kecewa, ya! Aku sudah sangat bahagia punya kamu dan Alana, kok."
•••
DAHHH YA, SEMOGA PUAS SAMA EXTRA PART KALI INI.
KALAU KOMENNYA BANYAK, NANTI AKU UPDATE EXTRA PART YANG BANYAK JUGA.
SELAMAT MALAM! 😘😴
KAMU SEDANG MEMBACA
The Second Life Memory (COMPLETED)
Romance~•~ follow dulu sebelum membaca, thx. Amanda Shopia artis paling fenomenal dengan banyak skandal dan anehnya ia masih wara-wiri di dunia hiburan. Arogan dan angkuh, hanya wajah cantik bak dewi itu yang menjadi daya tariknya. Tapi, dibalik itu semu...
