35 ~ CONFUSED

7.4K 389 9
                                        

"Ini aneh," kata Alvaro.

Ia masih ingat perkataan Dokter Kiky setelah pemeriksaan yang dilakukan Anna tadi siang.

Anna memang pernah menderita kanker stadium 4 yang kemungkinan pulihnya kecil dan hanya beberapa persen saja.

Namun, kini ... kanker di tubuh Anna dinyatakan hilang total. Entah, bagaimana caranya.

Dokter Kiky bahkan sempat berpikir salah diagnosa. Tidak tanggung-tanggung, ia juga memeriksaan untuk yang kedua kali dan hasilnya pun tetap sama.

Tentu, Alvaro gembira mendengar berita itu. Tapi, ia sendiri seorang dokter ... hal seperti itu sungguh mengganjal baginya.

"Apa yang sebenarnya terjadi sama kamu, Na?"

Pintu ruang kerjanya dibuka dengan kasar tanpa mengetuk pintu lebih dulu. Yuli menerobos masuk begitu saja.

"Al, bagaimana bisa kamu tidak peduli sedikitpun pada Elin?!" teriak Yuli, seperti biasa.

Alvaro menutup buku kedokteran besar yang ia baca. Menatap datar pada Yuli.

"Adik kamu di penjara, apa kamu akan tetap diam seperti ini terus-menerus?"

"Iya, Al bakal tetap kayak gini. Elin harus menerima konsekuensi atas perbuatannya."

"Tidak bisa begitu, Al! Memangnya, apa yang dilakukan Elin sampai harus mendekam di penjara?"

"Bunda jangan menutup mata dan pura-pura tidak tahu kejahatan Elin."

"Kejahatan? Adikmu hanya merilis kebenaran dari hubungan Diyana dan penyanyi muda itu ...."

"Dari berita yang diliris itu, Anna mendapat banyak hujatan dan pihak agensi dari penyanyi itu juga menuntut ganti rugi yang banyak pada Elin. Di mata Bunda mungkin perbuatan Elin bukan apa-apa. Tapi, bagaimana untuk orang-orang yang terluka dan terkena dampak dari berita itu? Apa Bunda pernah berpikir sampai situ?"

Yuli berdecak kesal. "Terserah, yang penting kita harus membebaskan Elin dari penjara."

"Aku tidak tertarik untuk melakukannya!" tegas Alvaro, ia teguh pendirian.

"Anak sialan!" Yuli melemparkan vas bunga hingga mengenai sisi kanan kepala Alvaro.

Alvaro tidak sempat menghindar, ia meraba keningnya yang terluka dan mengeluarkan darah, sementara vas bunga yang mengenainya telah jatuh ke lantai dan hancur berkeping-keping.

"Al ... Bunda ...." Yuli menutup mulutnya, ia sendiri tidak sadar bahwa tindakannya melukai putra sulungnya. Ia merasa bersalah atas hal itu.

"Jika, kehidupan selanjutnya itu nyata. Al berharap untuk tidak terlahir sebagai anak Bunda lagi." Alvaro berterus terang, ia melangkah pergi meninggalkan ruang kerja dan Yuli seorang diri.

•••

Sekembalinya dari rumah sakit, Anna langsung memeriksa isi dari flashdisk kuning yang diberikan Alana padanya.

Anna melihat ada sebuah video rekaman berdurasi hampir dua menit.

Dua buah rekaman suara.

Dan, beberapa berkas yang membutuhkan kata sandi untuk dibuka.

Anna meng-klik video untuk melihat tayangan apa yang ada di dalam sana.

Beberapa detik berlalu tidak ada apa-apa, hanya ruangan remang-remang seperti sebuah gudang kosong yang disorot.

Di menit ke-30, Anna mendengar jeritan kencang. Tidak lama, seorang wanita berpenampilan berantakan muncul di video.

Anna menekan spasi pada keyboard laptop, membuat video itu berhenti sesaat.

The Second Life Memory (COMPLETED) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang