EXTRA PART : SANG IDOLA

3.6K 138 2
                                        

"Gue beri nasihat sama lo semua, kalau cinta sama idola itu jangan berlebihan!" Wanita cantik itu, membubarkan gerombolan siswi SMA yang sedang berdiri di depan komplek apartemennya.

Elin sudah mendengar kemarin, katanya ada seorang influencer terkenal yang pindah ke area tersebut.

"Iih, apaan sih ... dasar tante-tante!" kesal salah seorang siswi dengan tatapan sinis.

"Ehh! Apa lo bilang tadi?!" tanya Elin dengan suara meninggi. "Gue nggak tahu siapa idola lo, tapi mending lo bubar-bubar sana! Sekolah yang bener!" pesannya.

"Kalau tante punya idola, pasti tante juga kek kami ini!"

Elin menarik napas panjang, sepertinya bocah yang baru menjadi fangirl itu harus diberikan pencerahan.

"Tentu, gue tahu lah rasanya. Karena gue pernah di penjara karena idola gue."

Gadis-gadis muda itu saling bertatapan.

"Di penjara? Tante bohong, pasti!"

Elin mengeluarkan ponsel dari sakunya, lalu menunjukan wallpaper di mana dirinya berbaju tahanan sedang berpose dengan sang idola--Ryan Nall.

"Ini bukan editan, ya. Kayaknya waktu itu kalian masih SMP, cari aja beritanya pasti ketemu. Dari pada kalian bengong mending pergi sana, sekolah yang rajin biar jadi anak yang pandai."

Entah karena hal apa, gadis-gadis itu menurut begitu saja. Mereka membubarkan diri.

Semenjak lulus kuliah, Elin mendapatkan pekerjaan impiannya. Ia pindah dari kediaman sang bunda dan memilih untuk tinggal di apartemen yang sudah ia sewa selama tiga tahun ke depan.

"Kak Ryan, gimana kabarnya ya sekarang?"

Elin bertanya-tanya tentang keberadaan sang Idola yang menghilang tanpa jejak hampir dua tahun lamanya. Kakak iparnya juga tidak mengetahui di mana keberadaan pria bersuara emas tersebut.

•••

Pagi ini, Elin bangun agak lambat dari biasanya. Ia bergegas dengan penampilan agak berantakan keluar dari unitnya lalu bergegas masuk ke dalam lift yang hampir tertutup.

"Makasih," ucap Elin saat pintu lift terbuka. Wanita cantik itu menguap lebar, lalu mengucek matanya.

"Aku lihat kamu kemarin malam, kamu bicara sama penggemarku di gerbang."

"Hah?" Elin masih mengumpulkan nyawanya. Ia membuka matanya, lalu menemukan wajah pria asing dengan dua lesung pipi. "Oh, jadi kamu idola anak-anak SMA itu."

"Mungkin. Kelihatannya kamu nggak kenal ya sama aku. Iyasih, aku memang kurang terkenal."

"Nggak-nggak!" Elin menggeleng lemah. "Aku memang kurang up to date soal artis atau influencer, tapi aku sudah dengar dari unit di sebelah katanya ada orang terkenal yang pindah."

"Baiklah, kalau gitu ayo kita kenalan, aku Melvin," katanya memperkenalkan diri bersamaan dengan uluran tangan yang tampak hangat.

Elin membalas cepat. "Elin," jawabnya. Saat lift terbuka, Elin langsung berlalu pergi begitu saja.

•••

"Kak, aku ada kirimin kado ulang tahun Alana ke rumah sakit. Jangan lupa dikasih ya, maaf aku sibuk banget jadi belum bisa ketemu."

Elin menutup sambungan telepon dengan sang kakak. Hari-harinya benar-benar disibukan dengan rutinitas bekerja dan menjenguk bundanya di rumah sakit.

Sehabis kerja, sebisa mungkin Elin menemui Yuli di rumah sakit jiwa agar bundanya tidak merasa kesepian. Meski terkesan jahat, tapi bundanya adalah orang yang malang seluruh dunia seakan mengutuk Yuli.

Jam makan siang Elin habiskan untuk berada di dalam kantor, menikmati roti dan kopi kaleng yang ia beli tadi pagi. Merasa jenuh dengan deretan angka dan data yang harus ia input, Elin merebahkan diri sebentar.

"Melvin?"

Teringat akan tetangga barunya, wanita bercepol acak itu mengetik nama tersebut di pencarian.

"Ohh, jadi dia juga model. Pantas, badannya tinggi kek tiang."

Netra Elin melebar, saat melihat berita paling hangat dan terbaru di internet.

Ryan Nall akan liris album baru

Ryan Nall kembali setelah dua tahun

Ryan Nall menyapa penggemar dengan albumnya yang akan datang

"Kak Ryan akhirnya kembali!!!" pekik Elin gembira, beruntungnya kantor sedang kosong karena semua orang sedang makan siang.

The Second Life Memory (COMPLETED) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang