37 ~ BERPISAH

7.7K 383 7
                                        

Bukan penggemar?

Anna mencerna baik-baik ucapan Ryan tersebut. Penyanyi populer itu pasti merasa hampa karena merindukan sorakan penggemar yang selalu mendukungnya.

Memang benar, di situasi seperti sekarang, dukungan orang-orang akan membantu seseorang bangkit dengan mudah.

"Kamu pasti bercanda, kan? Tentu saja aku penggemarmu!" jawab Anna lantang.

"Kalau begitu, biar aku tanya satu hal lagi."

Anna menghela napas, lagu mengangguk-angguk. Sebanyak apa sebenarnya pertanyaan yang disiapkan Ryan?

Jujur, Anna sama sekali tidak keberatan bahkan jika dua atau tiga pertanyaan tambahan lagi, ia siap sedia untuk menjawabnya.

Bukannya bertanya, Ryan malah memamerkan suara merdunya dengan menyanyikan sepenggal bait lagu bernuasa sedih.

Cintaku padamu belum usai~
Tapi, kamu pergi lagi~
Ku hanya menunggumu kembali~

Kening Anna berkerut, lagu yang dinyanyikan Ryan telah usai. Apa maksudnya?

"Bisa kamu sebutan judul dari lagu yang barusan aku nyanyikan?" tanya Ryan tiba-tiba.

Pupil Anna melebar kaget.

Sial! Anna terkecoh dengan wajah sedih dan murung Ryan.

Pria itu menjadi lebih cerdas  dan bahkan berhasil memberikan pertanyaan jebakan untuknya.

Anna terlihat gelagapan. Sejujurnya, ia bukan penikmat lagu-lagu Ryan. Itu adalah nilai minus di situasi sekarang.

Beruntungnya, Anna punya bakat akting alami yang bisa digunakan di saat seperti ini.

"Emm, itu ... eee, aku pernah mendengarnya tapi aku lupa," jelas Anna berpura-pura. Ia berlagak polos, berharap Ryan tertipu. "Sebenarnya, aku cukup sulit untuk mengingat judul-judul lagu, maaf."

"Benarkah?" Ryan tampak tidak percaya.

"Iya, ini lagu yang bagus dan punya makna yang dalam. Tapi, aku tidak begitu sering mendengarkannya," imbuh Anna menjadi sok tahu. Ia tengah berusaha keras meyakinkan Ryan.

"Lagu yang bagus dan punya makna yang dalam ... kamu yakin?!" pancing Ryan ingin membuktikan keraguannya.

"Iya, aku serius! Aku akan mendengarnya lagi nanti."

"Benarkah?"

Anna menatap Ryan bingung, tidak lama saat suara gelak tawa kecil terdengar. Anna sendiri tidak tahu, bagian mana yang lucu hingga Ryan tertawa tanpa alasan seperti itu.

"Sebenarnya, lagu yang kunyanyikan tadi ... belum pernah liris di mana pun. Entah, dari mana kamu mendengarnya," jujur Ryan, ia merasa dibodohi selama ini oleh Anna. "Aku baru menulis lirik lagu ini kemarin lusa."

"Oooh, benarkah? Sepertinya aku salah mengira." Anna menyahut cepat, intinya ia tidak boleh lengah. Meski rasanya, ia seperti tertangkap basah.

Anna bangkit dari duduknya, beralasan ke dapur untuk mengambil tambahan snack yang dari awal tidak disentuh oleh keduanya.

Langkah Anna terhenti, jantungnya hampir copot saat Ryan secara tidak terduga memeluk tubuhnya dari belakang. Membuat Anna membeku beberapa saat.

"Aku tahu kamu," bisik Ryan tepat di telinga Anna. Dagunya bersandar dengan nyaman pada bahu Anna.

"Apa maksudmu?" tanya Anna datar.

"Amanda," panggil Ryan. Memanggil nama yang sudah lama tidak ia ucapkan.

The Second Life Memory (COMPLETED) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang