Kepintaran Anna memang tidak terlalu mencolok. Tapi, ia selalu punya cara untuk menyelesaikan masalah.
"Akhirnya! Aku sangat merindukan kalian semua!" Anna langsung berlari masuk begitu berhasil membuka apartemen yang dulu ia tinggali.
Kebahagiaan memuncak ketika melihat lemari-lemari dengan berbagai macam koleksi dari tas, sepatu, jam tangan bahkan pakaian mewah yang tidak ada di rumah sewaan tersebut.
Dengan tote bag besar yang ia bawa, Anna memasukan semua jam tangannya lalu masuk ke dalam kamar. Mengambil semua perhiasan dan uang tunai yang ia simpan di brankas.
Sayang sekali, Anna tidak menemukan kartu atm dan buku tabungannya. Ia yakin, ada lebih banyak uang di sana. Kenapa juga, ia meminta managernya untuk mengurusi hal tersebut?
Tapi, meskipun ada, Anna tidak berani memakainya. Karena sudah pasti transaksi yang ia lakukan akan masuk ke pemberitahuan managernya.
Anna memasukan barang dengan hati-hati, sebanyak yang ia bisa. Jika, mengambil semua barangnya tidak sempat hari ini, Anna akan melakukan besok, dan besoknya lagi.
Kedua pupil matanya melebar, Anna langsung bersembunyi begitu mendengar suara pin pintu ditekan dari luar. Seolah, ada orang yang akan masuk ke dalam apartemen.
Pintu benar-benar terbuka. Anna bisa melihat siapa yang datang, yaitu pengacaranya Pak Jaris dan wanita cantik dengan wajah sendu yang ia rindukan.
"Mami?" panggil Anna.
Meski, tidak memiliki hubungan darah dengan Dini. Anna sangat menyayangi wanita berumur yang terlihat sangat cantik itu. Dia adalah gambaran wanita seorang Bara.
"Karena Amanda tidak memiliki ahli waris, dan di wasiat yang pernah dia buat. Semua harta benda akan dibagikan secara merata pada Bara, Nyonya Dini, Pak Budi dan Panti Asuhan Cemara," ujar Pak Jaris membacakan surat wasiat.
Anna menutup rapat mulutnya. Sialan, ia baru ingat bahwa dirinya pernah membuat surat wasiat.
"Tolong tanda tangani," kata Pak Jaris memberikan dokumen tersebut pada Dini.
Dari tempat Anna bersembunyi, Anna bisa melihat kesedikan dan duka mendalam di wajah Dini.
"Mami nangis?" Anna berkaca-kaca, tidak tega melihat wajah pucat Dini.
Setelah berkeliling sebentar, Dini tampak emosional.
"Ayo kita keluar Pak, saya tidak bisa lama-lama di sini."
Dini dan Pak Jaris keluar dari apartemen, meninggalkan Anna seorang diri.
Sama seperti Dini. Anna juga tidak bisa berlama-lama, ia tidak boleh tertangkap basah. Ia keluar dari tempat persembunyian, tote bagnya juga sudah penuh dan tidak muat untuk menampung benda curian lain.
Namun, saat hendak keluar Anna teringat sesuatu. Ia berlari ke kamar, mengambil benda yang terletak di atas meja. Sebuah box berisi hadiah berupa sepatu heels berwarna merah yang diberikan Bara sebagai hadiah ulang tahun.
•••
Keberuntungan satu hari itu, telah habis. Keesokan harinya, saat Anna ingin merampok lagi. Semua akses untuk masuk ditutup, kata sandi apartemen juga telah berubah.
Ia mendengus kesal. Anna menyesal, harusnya ia mengambil lebih banyak barang kemarin.
Kembali dengan tangan kosong. Anna lebih miris lagi saat berdiri di depan jalan. Ia menatap bangunan sewa kecil yang ditempatinya.
"Aku benci rumah jelek ini!" ucap Anna jujur.
Sampai, ia bertanya-tanya. Jika, semua perhiasan itu dijual, apa ia bisa punya rumah yang lebih layak?
KAMU SEDANG MEMBACA
The Second Life Memory (COMPLETED)
Romance~•~ follow dulu sebelum membaca, thx. Amanda Shopia artis paling fenomenal dengan banyak skandal dan anehnya ia masih wara-wiri di dunia hiburan. Arogan dan angkuh, hanya wajah cantik bak dewi itu yang menjadi daya tariknya. Tapi, dibalik itu semu...
