25 ~ JUST YOU

8.2K 385 6
                                        

Di sebuah ruang makan, sebuah keluarga satu persatu berkumpul di meja makan.

Seorang wanita dengan piyama bergambar Hello Kitty dengan rambut acak-acakan menjadi orang terakhir yang bergabung bersama tiga orang lainnya.

"Mata Anti Elin kenapa?" tanya gadis kecil yang juga masih memakai baju tidur bergambar Doraemon.

Elin menggeleng. "Nggak apa-apa."

Semalaman penuh Elin menangis sang idola yang ternyata punya kekasih. Ia benar-benar patah hati, tidak menyangka jika Ryan Nall akan mengkhianati para penggemar.

Terlebih, siapa orang beruntung yang bisa menjadi pacar sang idola?

Mengingat pacar Ryan Nall yang identitas dirahasiakan karena merupakan orang biasa. Tidak menutup kemungkinan jika Elin juga bisa mendapatkan hati sang idola?

Karena itu, meski sedang patah hati. Elin berdoa kuat-kuat agar pasangan itu segera berpisah.

"Kamu menangisi pacar halumu itu, kan? Suara tangismu sungguh menganggu!" Yuli---bundanya menyipit pada si Bungsu.

"Nggak, kok!" tepis Elin, tidak mau dicap cengeng.  "Aku sakit gigi, tadi malam."

"Anti sakit gigi, ya? Itu pasti karena Anti jarang gosong gigi!" timpal Alana. Tingkah menggemaskan gadis berusia tujuh tahun itu, mengundang senyum bahagia semua orang.

Elin mengelus rambut keponakannya. Lalu menatap sang bunda dengan wajah sedih.

"Bunda, keknya aku mau berhenti kuliah saja, deh!" Sebenarnya Elin sudah muak kuliah, ia memang suka belajar dan pintar secara akademis. Akan tetapi, sampai di semester delapan ini. Elin merasa kehilangan jati diri. Seolah, kuliah bukan jalan yang ia mau.

Elin tidak bercita-cita menjadi pengacara, jaksa, notaris atau sebagainya. Apalagi mengikuti jejak mendiang sang papa menjadi seorang hakim. Entah, karena apa ia berani mengambil kuliah hukum. Bagi Elin, itu semua bukan mimpinya. Karena dari kecil, ia selalu ingin tampil di panggung yang besar dan disorot banyak kamera. Hanya saja, sudah jelas tidak ada satu orang pun yang mendukung mimpinya.

"Mau jadi apa kamu kalau tidak kuliah?!" hardik Yuli.

"Aku jadi artis saja, Bun. Bagaimana?"

"Kamu nggak punya bakat," timpal Alvaro.

"Itu dengar, apa kata, Al. Lebih baik selesaikan dulu kuliahmu!"

"Aku cuman butuh dukungan kalian padahal. Tega banget, sih!" celetuk Elin menahan kesal.

"Alana dukung Anti Elin, kok!" Alana tersenyum pada sang tante.

"Ini baru keponakan Anti. Cuman kamu yang ngertiin Anti, Alana. Kamu mau Anti ambilin apa, ayam, sayur atau buah?"

"Nggak usah Anti, Alana bisa sendiri."

Melihat interaksi Alana dan Elin. Alvaro tersenyum bangga melihat putri kecilnya. Ia merasa Alana tumbuh dengan baik, pengertian, ceria dan mandiri. Persis seperti ibunya.

"Oh, iya, Yah." Setelah berbicara dengan Elin, Alana menoleh pada Alvaro.

"Apa, Sayang?" tanya Alvaro lemah lembut. Ia membelai rambut hitam legam Alana.

"Hari Rabu nanti, Alana ada acara di sekolah."

"Oh, ya?"

"Iya, Ayah."

"Tapi, kenapa cemberut?" tanya Alvaro menyadari perubahan di wajah Alana. Putrinya tidak seceria tadi.

"Katanya harus membawa orang tua," jawab Alana sedih sambil menunduk.

The Second Life Memory (COMPLETED) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang