Gadis kecil kelas 6 sekolah dasar itu menghambur masuk begitu mobil sang tante berhenti di depan kediaman keluarganya.
"Ma, Tante Madison sama Theo ajakin Alana liburan ke Paris!" teriaknya, berlari menuju ke dapur dengan napas ngos-ngosan.
Wanita yang sedang memakai celemek bergambar bergambar beruang itu, menoleh pada sang putri.
"Alana boleh pergi, kan? Tolong bujuk ayah ya, Ma ...." Alana merengek manja, menarik-narik dress rumahan yang dipakai Anna.
"Peringkat kamu turun 'kan semester ganjil kemarin? Ayah pasti nggak akan setuju." Anna berjongkok, memberi penjelasan agar sang putri mengerti.
Alana memasang wajah cemberut, ia selalu dituntut oleh sang ayah untuk punya nilai yang bagus.
"Kenapa sih, keluarga Ayah sangat terobsesi dengan nilai dan angka-angka. Nggak Ayah, nggak Tante Elin, sama aja!"
Mendengar hal itu, Anna hanya bisa tertawa kecil. Sepertinya Alana lebih mirip dengan dirinya ketimbang Alvaro.
"Mama nggak tahu, ya. Mama nggak bisa bantu bujuk Ayah, kecuali jika nilai kamu naik." Anna mengusap lembut rambut Alana, melanjutkan perkataannya. "Kamu ganti baju dulu, kita makan siang, Mama tinggal panaskan sup ayam kesukaan kamu."
"Yaudah, kalau begitu."
Tampaknya, Alana masih merajuk melihat dari respon dinginnya pada Anna.
"Jangan semangat dan tetap menyerah, Sayang."
"Kebalik Mama!"
•••
Beberapa hari kemudian.
Alvaro lega karena hari ini ia bisa mengambil libur dari pekerjaannya yang melelahkan di rumah sakit. Bertemu dengan keluarga kecilnya seperti adalah hal paling membahagiakan di hidupnya.
"Halo, Aldan ... Ayah kangen banget sama kamu."
"Aya yah!" Bocah laki-laki berusia dua tahun itu menyapa sang ayah setelah mendapat kecupan beruntun dari Alvaro. Setelah menemui Aldan yang sedang bersama dengan pengasuhnya, Alvaro langsung menuju seseorang yang paling ia rindukan.
"Alana mana?" tanya Alvaro, memeluk erat tubuh sang istri sambil memberi ciuman singkat di bahunya.
"Dijemput Elin tadi, katanya mau jalan-jalan ke tempat syuting Ryan," jawab Anna, ia menoleh menatap penuh kasih pada suaminya.
"Ohh, gitu."
"Capek ya hari ini?" Anna memijat lembut bahu sang suami.
"Nggak capek kok, cuman pengen dipeluk aja." Alvaro melebarkan tangan, ia mendekap wanita cantik itu lebih lama.
"Sini sini, dasar bayi raksasa."
•••
Keesokan harinya.
Anna memiliki janji untuk bertemu seseorang di luar. Wanita berambut pendek dengan gaun coal itu menghampiri Anna dengan senyum hangat.
"Kupikir si Kecil ikut," katanya menyadari Anna tidak mengajak siapapun.
"Nggak, Aldan sama Alana di rumah aja sama ayahnya, kebetulan hari ini Alvaro masih cuti." Anna menjawab jujur.
Dua wanita itu berkeliling area mal, masuk ke salah taku toko pakaian mewah untuk membeli atasan untuk Bara.
"Ini apa yang ini?"
Anna diam sesaat, memperhatikan kemeja yang dipegang Julie di tangan kanan dan kirinya.
"Hmm, menurut kamu bagus yang mana?" Anna balik bertanya.
"Aku ngajak kamu belanja, buat bantuin aku pilih kado ulang tahun buat Bara, An. Tapi, kamu malah tanya aku balik, gimana ceritanya."
Julie memang seperti itu, dia selalu plin-plan dan penuh keraguan.
"Kamu nggak butuh pendapat aku, Julie. Dia itu suami kamu, dia pasti suka semua pemberian dari kamu."
"Tapi, kamu kan orang yang spesial di hidup Bara, An." Julie menjawab tanpa beban, tidak ada sedikitpun rasa cemburu pada wanita itu.
"Nggak se-special kamu, istrinya."
Julie mengangkat satu atasan berwarna abu-abu. "Kalau gitu aku pilih yang ini aja. " Gimana?"
"Bagus."
Setelah selesai berbelanja pakaian, Anna dan Julie keliling mal, mereka juga telah selesai makan siang bersama.
Begitu keluar dari restoran, sebuah panggilan masuk.
My husband is calling ....
Julie menatap layar ponselnya cukup lama.
"Angkat aja," kata Anna tidak masalah.
Julie melirik Anna sekali lagi, panggilan dari sang suami bukan telepon biasa, melainkan video call.
"Halo Sayang, lagi di mana?"
"Aku lagi di luar, nih." Julie menjawab malu-malu.
"Aku kangen sama kamu. Malam ini kita jadi ngedate kan?"
"Jadi, aku lagi di luar sama Anna."
"Oh, sama Anna." Bara manggut-manggut paham, dengan siapa lagi Julie bergaul jika bukan dengan Anna. Istrinya itu sangat pemalu.
"Hal-hai, Bara. Apa kabar?" Kepala Anna menyembul sedikit, ikut bergabung dalam video call pasutri tersebut.
"Baik, kamu sendiri?"
"Luar biasa baik."
"Jagain Julie ya, An." Bara berpesan pada Anna, membuat wanita itu terkekeh.
"Harus aku kandangin gitu? Posesif amat!"
"Nggak juga, aku takutnya dia digoda sama cowok-cowok di luar sana."
Julie tersipu malu, sedangkan Anna sengaja menggoda mereka berdua.
"Udah telat kamunya, Julie udah dikasih bunga sama berondong tadi." Anna menyahut, terdengar sangat meyakinkan.
Mendengar hal itu, Julie langsung menyikut Anna dan menjauhkan ponselnya sebelum Anna berbicara melantur.
"Nggak, kok. Anna bohong, Yang."
"Aku beneran cemburu Sayang. Aku nggak percaya sama kamu!"
"Lihat nih, nggak ada apapun."
"Bisa jadi, bunganya kamu sembunyikan."
"Kamu kok nggak percaya aku, sih." Julie memasang wajah memelas.
Sedangkan Anna, masih berdiri di tempatnya tadi. Mengamati mereka dengan perasaan geli dan merinding. Sepertinya Bara yang ia kenal sudah berubah karena sering bergaul dengan Alvaro.
"Nggak, sebelum aku lihat sendiri! Kamu di mana, Sayang ... share lock, ya. Aku ke sana sekarang ...."
Panggilan diputus.
Julie memandang layar ponselnya yang telah mati.
"Gimana ini, An?" tanyanya seperti orang kebingungan.
"Kamu kenapa, Jul? Takut Bara marah?"
Julie menggeleng. "Bara nggak pernah marah sama aku." Senyumnya mengembang sempurna.
"Terus?" Satu alis Anna terangkat.
"Suamiku menggemaskan banget, An. Aku jadi rindu dia ...."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Second Life Memory (COMPLETED)
Romansa~•~ follow dulu sebelum membaca, thx. Amanda Shopia artis paling fenomenal dengan banyak skandal dan anehnya ia masih wara-wiri di dunia hiburan. Arogan dan angkuh, hanya wajah cantik bak dewi itu yang menjadi daya tariknya. Tapi, dibalik itu semu...
