EXTRA PART : ALIBI

3.7K 147 3
                                        

Bara turut berduka atas kematian mendadak Dona. Meskipun, wanita itu telah berbuat jahat dan menyusahkannya selama beberapa waktu tapi Bara tetap berbelas kasihan pada wanita malang itu. Ia juga memberikan dana bela sungkawa tanpa inisial yang ia berikan untuk keluarga yang ditinggalkan.

"Pak Bara, biar saya anterin." Anton mengekori Bara ketika keluar dari rumah duka.

"Nggak, Ton. Aku pulang sendiri saja, soalnya mau ketemu Amanda. Itu anak pengen ditraktir makan katanya." Bara menoleh pada Anton. Sahabat sekaligus asisten pribadinya itu sangat setia padanya.

"Iya, Pak." Anton menurut lalu menyerahkan kunci mobil pada sang atasan.

Baru beberapa minggu berselang sejak kepergian Dona. Bara dikejutkan lagi dengan kehadiran pegawainya yang datang begitu saja dan menuntutnya atas tindak kejahatan yang telah dimanipulasi seseorang.

Anna namanya, Bara juga mengetahui bahwa pegawai rendahan itu dipekerjakan melalui rekomendasi Dona.

Bahkan, setelah wanita itu pergi. Bara masih direpotkan olehnya, uang yang digelapkan Dona pun masuh sebagian yang ditemukan sementara sisanya entah ada di suatu tempat.

Sudah terlalu pusing menghadapi banyak hal, Bara meminta Anton untuk mengurus dan menyelesaikan semuanya. Karena hanya Anton orang yang dapat Bara percaya di TQ Company.

•••

Tapi, sepertinya ada yang tidak beres. Firasat Bara mengatakan ada yang tidak beres antara Anton dan pegawai suruhan Dona tersebut.

Belakangan ini, Anton benar-benar mencurigakan. Seperti yang ada suatu hal yang sedang ia tutupi.

Anton menyandarkan dirinya di kursi kerja, tidak tertarik pada tumpukan berkas yang harus ia tanda-tangani.

Bara melirik ponselnya, sebuah pesan teks ia terima.

Amanda :
Kamu sibuk ya, Bar?
Kok, nggak ngehubungin aku, sih.

Pria bertubuh kekar itu bangkit dari posisinya. Ia memanggil Anton namun tidak ada jawaban. Tidak biasanya.

Seperti sebuah tanda, panggilan dari nomor tidak dikenali masuk membuat Bara terpaksa menjawab panggilan itu.

"Pak Bara benar-benar iblis, bagaimana bisa Anda memerintahkan seseorang untuk membunuh saya!" Suara wanita itu tercekat. Bara waspada, khawatir jika ini adalah panggilan scam atau penipuan seperti trik yang digunakan Dona.

"Mati kamu jalang!" umpatan itu terdengar dari seberang telepon.

Dan, benar saja. Bara mengenali suara itu, itu suara milik Anton.

"Aku akan membunuhmu malam ini!"

Tidak lama, suara yang cukup keras terdengar membuat Bara buru-buru menjauhkan benda pipih itu dari telinganya. Sepertinya ponsel tersebut, dilempar sangat keras hingga panggilan pun terputus.

Bara berlari ke beberapa tempat untuk mencari keberatan Anton, sambil berusaha menghubungi pria tersebut.

Sampai, Bara terpikirkan suatu tempat yaitu lantai tertinggi di perusahaannya. Yaitu, rooftop.

Saat membuka pintu besi berkarat itu, Bara menemukan Anton sedang berdiri dan di depannya ada wanita yang Bara kenal sebagai Anna.

"Anton, hentikan!" teriak Bara cepat! Ia sama sekali tidak menyangka jika Anton sedang mencekik leher wanita itu.

"Pak Bara," sahut Anton terkejut, ia menoleh pada atasannya. Tanpa sadar, tangan Anton bergerak begitu saja membuat Anna yang sudah terlihat lemah dan pucat yang sudah berdiri di ujung terdorong olehnya.

"Arggh!" teriak Anna nyaring dan akhirnya wanita malang itu benar-benar jatuh.

"Anton apa yang kamu lakukan?! Kamu membunuh seseorang!" Bara melayangkan tinjunya, menarik kerah kemeja yang dikenakan Anton. Bara benar-benar syok, ia menoleh ke bawah untuk melihat keadaan Anna yang tergeletak begitu saja di halaman perusahaan. Hanya menunggu waktu, sampai orang-orang melihat Anna di sana.

"Saya nggak bermaksud Pak, saya ...."

"Sudah cukup!" Bara mengambil ponselnya berniat menghubungi pihak berwajib.

Namun, dengan cepat Anton merampas benda itu.

"Apa yang kamu lakukan? Kamu sudah gila!!!!"

"Jika Pak Bara menelepon polisi, saham perusahaan akan anjlok, Pak. Selain itu, pak Bara ada di sini sebagai saksi, saya tidak mau Pak Bara terlibat apapun mengenai kejadian malam ini." Anton gemetaran, ia sangat mengkhawatirkan Bara. Tidak peduli tatapan murka atasannya itu. Anton harus menyelematkan Bara. "Pak Bara harus segera pergi sebelum ada banyak orang di sini."

"Kamu gila ya, Ton!"

"Saya akan menyerahkan diri, Pak. Tapi, Bapak harus segera pergi dari sini. Pak Bara tidak boleh terlihat berada di sini!" Anton mendorong tubuh Bara. "Saya mohon, Pak!"

Bara mengusap wajahnya gusar.

"Hari ini, ada acara penghargaan Manda. Bapak harus pergi ke sana sebelum berita ini ramai, saya akan mengurus wanita itu dan akan secepatnya menyerahkan diri!"

Bara tidak bisa berpikir, ia berjalan keluar dari atap gedung dengan tangan yang masih bergetar. Dalam hati, Bara berdoa semoga wanita malang itu mendapat keajaiban dan tidak meninggal dunia.

•••

Dengan kondisi pikiran yang benar-benar kacau Bara tiba di tempat acara penghargaan itu diadakan.

Langkah Bara terasa berat sekali. Ia menarik napas panjang, tersenyum kecil saat melihat Amanda tengah berbincang dengan seseorang.

Bara mendekat dengan hati-hati, Amanda menoleh ke belakang tidak lama kemudian.

Selamat, ya." Bara menyodorkan bucket bunga yang ia beli sebelumnya.

Dengan cepat, Amanda langsung mengambil bunga itu dan mendekap hangat tubuh Bara. Bara, menenangkan dirinya dalam pelukan Manda. Hari ini adalah hari yang berat baginya.

"Katanya nggak mau datang! Makasih, udah datang nemuin aku ya, Bar."

Bara menarik dirinya dari pelukan Amanda, ia butuh lebih banyak waktu dengan wanita cantik itu untuk menghilangkan kegelisahan.

"Pulang bareng aku ya, Man. Aku anterin."

•••

Maaf kalau ada typo.
Kalau mau extra part lagi, komen aja ya. Terus extra part bagian apa, yang spesifik aja.

The Second Life Memory (COMPLETED) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang