12 ~ HARGA DIRI

12.7K 576 5
                                        

Bara masuk lift menuju kantornya yang berada di lantai 12. Beberapa orang pegawai menunduk dan menyapanya sopan, menunjukan rasa hormat mereka pada pemilik perusahaan.

Langkah Bara terhenti, ia menoleh saat mendengar suara hak tinggi yang bersentuhan dengan lantai. Ia menoleh dan menemukan seorang wanita bergaun hitam dengan sepatu heels berwarna merah, yang terlihat tidak asing.

Bara mengucek mata, meyakinkan penglihatannya. Ada wanita yang mirip sekali dengan Amanda, dari gaya berjalan dan caranya berpakaian.

Dengan rasa penasaran Bara menghampiri wanita itu, ia ngin melihat wajahnya. Hebat juga, jika wanita itu sungguh meniru Amanda hanya untuk menarik perhatian Bara.

"Tunggu!" panggil Bara mengikuti langkah cepat wanita itu di belakang.

Wanita berambut agak kecoklatan itu mengabaikan Bara. Caranya, berhasil memancing rasa penasaran Bara hingga pria itu rela berlari mengejarnya.

Bara menahan lengan wanita itu tanpa sadar.

"Dari mana kamu mendapatkan heels ini?" tanya Bara. Sementara, wanita itu masih membelakanginya dan enggan memberikan jawaban.

Bara menunggu dalam diam, wanita itu menepis tangan Bara darinya.

"Bukankah kamu yang memberikannya padaku, Bara?" Wanita itu balik bertanya, ia menoleh ke arah Bara dan tersenyum dengan sangat indah.

"Manda," panggi Bara mengenali wanita di depannya. Ia meraba pipi lembut itu dengan kedua tangannya.

"Jadi, sekarang apa kamu merindukanku?"

"Apa kamu mencintaiku, Bara?"

"Apa akhirnya kamu sadar, kalau kamu mencintaiku?"

Amanda menodongkan banyak pertanyaan untuk Bara, membuat lelaki itu kesulitan untuk menjawab yang mana lebih dulu.

Wajah manis dan cantik Amanda seketika berubah datar.

"Ternyata ... kamu masih tidak mencintaiku."

Dan keanehan terjadi, saat cairan berwarna merah keluar dari mata Amanda, tangis darah itu jatuh ke lantai. Lambat laun, tanpa sadar akhirnya menenggelamkan mereka berdua.

Keringat dingin mencucur dari kening Bara.

Dari tempatnya berdiri Lilis---sekretarisnya--- ragu untuk membangunkan atasannya yang tengah tertidur itu.

Pantas saja, sedari tadi Lilis mengetuk pintu tidak ada jawaban dari Bara dan akhirnya ia menerobos masuk.

Lilis menyentuh bahu Bara lembut.

"Pak Bara, bangun Pak, Bapak ada rapat sebentar lagi."

"Manda ...," racau Bara dalam mimpinya.

"Pak Bara!" panggil Lilis kali ini lebih keras dan benar saja hal yang ia lakukan berhasil membangunkan Bara.

Pria berkemeja putih dengan dasi longgar itu terbangun dari tidurnya dengan wajah linglung. Bara meraih beberapa lembar tisu di ujung meja, mengelap keringat yang membanjiri keningnya.

"Ada apa Lilis?"

"Bapak ada rapat siang ini, dan materinya sudah dikirim Mas Anton di email Bapak. Jadi, Pak Bara bisa bersiap sekarang."

Bara paham. Ia tersenyum kecil pada Lilis. "Baiklah, kamu bisa ke luar."

"Iya, Pak, terima kasih."

Seusai kepergian Lilis, Bara tidak langsung bersiap. Ia termenung selama beberapa menit karena memikirkan mimpi aneh yang akhir-akhir ini dimimpikannya. Dan lebih aneh adalah fakta bahwa semua mimpi itu, selalu berkaitan dengan sosok Amanda.

The Second Life Memory (COMPLETED) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang