EXTRA PART : IMPIAN BARU

4.8K 173 12
                                        

Setelah dua tahun, akhirnya Anna benar-benar bisa melepaskan diri dari hal-hal yang membuatnya menyerupai Manda.

Semua uang dan harta berharga milik Amanda ia sumbangkan ke badan amal melalui Bara. Bahkan, pakaian bermerk yang biasanya Anna jadikan pajangan pada akhirnya bisa ia relakan.

Hasrat berbelanja itu, telah sirna. Saat ini, Anna berpikir sepuluh kali untuk membeli sebuah barang, dengan berat pertimbangan. Apakah ia membutuhkan benda itu atau sekadar menginginkannya saja.

"Ini perlu diletakin di mana, Na?"

Anna menoleh pada pertanyaan Alvaro. "Letakin di atas meja aja."

"Oke," jawab lelaki itu singkat.

Anna membalikan badan, menyandarkan punggungnya pada tembok yang baru di kemarin.

"Pak Dokter nggak kerja, hari ini hari Senin, loh?"

"Aku ambil libur."

Anna tercengang mendengar jawaban Alvaro. "Bisa-bisanya kamu ngambil libur, kamu itu dokter tau."

Alvaro meletakan kotak besar yang ia angkat di lantai. Menatap ke arah Anna sambil menggulung lengan bajunya.

"Kamu pindah rumah hari ini, ya aku harus bantuin kamu."

"Aku bisa minta bantuan orang lain atau bayar jasa pindahan."

"Karena itu, aku nggak mau."

"Terserah kamu, deh!" Anna tidak bisa melawan lebih. Melihat Alvaro yang bekerja keras dari pagi menjelang siang, membuat Anna merasa tidak enak. "Kamu lapar nggak, mau pesan sesuatu nggak? Biar aku go food-in?"

"Mau makan kamu, boleh?"

Mata Anna melotot tajam, lalu tinjunya melayang ke udara. "Jangan macam-macam, jangan menggodaku!"

"Kalau gitu, aku lihat apa yang ada di sini?" Alvaro berjalan ke arah kulkas, membuka lemari pendingin itu untuk melihat isinya.

"Nggak usah masak ribet."

"Tapi, kamu suka 'kan, masakan aku?"

Anna tidak bisa berkata tidak, karena pada dasarnya Alvaro memang koki yang cukup handal. Semua masakan yang dibuat pria itu sangat cocok di lidahnya.

"Suka-suka kamu deh, Al!"

"Oke, kalau gitu kamu tinggal duduk manis dan tunggu makanannya siap."

Anna menurut, ia duduk di meja makan sambil memainkan ponselnya.

"Alana bentar lagi pulang sekolah, aku jemput dia dulu ...." Anna bangkit dari kursi.

"Aku sudah ngehubungin Elin tadi, biar dia dijemput Elin." Alvaro menyahut meski sedang sibuk memasak.

Mendengar hal itu, Anna duduk kembali. "Yaudah, kalau gitu. Setelah rapat Bara ke sini katanya, jadi masak yang lebih biasanya dia setelah rapat pasti lupa makan."

Alvaro menoleh ke arah Anna. "Porsinya cukup buat kita berdua aja."

Tidak lama setelah masakan yang dibuat Alvaro selesai, Bara datang berkunjung ke rumah baru Anna sambil membawa bingkisan buah dan beberapa cemilan.

"Nggak usah repot-repot Bar, tapi makasih ya." Anna tersenyum lebar, menerima semua pemberian Bara dengan hati senang.

Anna benar-benar berubah kepribadian sekarang. Ia suka hal-hal yang gratis. Ajaib bukan?

"Wahh, enak banget, nih. Masak apa?" celetuk Bara langsung mendapat tatapan sinis dari Alvaro.

"Ayo, kita makan dulu!" ajak Anna, ia menyuruh dua pria yang bertatapan sengit itu untuk duduk.

Makan siang tiga orang itu berlangsung dengan tenang, baik Anna ataupun Bara tampaknya punya selera yang sama terhadap masakan Alvaro.

"Masakan lo nggak pernah gagal! Keknya lo harus berhenti jadi dokter dan banting stir buka restoran aja, Al! Gue beri saran sebagai seorang pengusaha!" Bara memecah keheningan di ruangan yang tidak begitu luas tersebut.

"Nggak deh, kalau jadi pengusaha nanti lo kalah saing sama gue!" Alvaro membalas.

Anna menatap dua orang itu heran. Jika dipertemukan keduanya benar-benar seperti karakter kartun tom and jerry yang tidak pernah akur.

"Berhubung kalian berdua di sini, aku mau menyampaikan sesuatu."

Mendengar hal itu, Alvaro dan Bara langsung memasang telinga lebar-benar.

"Meskipun aku hanya lulusan SMA, tapi aku mau mencoba belajar dan ikut tes CPNS!"

"CPNS?" Alvaro dan Bara bertatapan.

"Kamu serius, Na?" tanya Alvaro lebih dulu. Ia tidak menyangka dengan keputusan yang dibuat wanita itu.

"Iya, aku serius."

"Kenapa kamu nggak mulai kerja di perusahaan aku aja, aku akan nvasih posisi yang bagus buat kamu. Atau kalau kamu mau memulai berkarier sebagai artis aku bisa bantu sebagai investor kamu."

Mendengar hal-hal luar biasa yang dapat dilakukan Bara dengan mudah membuat Alvaro kalah saing.

"Kalau kamu butuh pekerjaan untuk membayar biaya hidupmu. Aku akan menambah uang tunjangan buat kamu."

Mendengar perkataan dua pria pamer itu membuat Anna langsung mengusap wajahnya gusar.

"Dengarkan ini baik-baik, aku nggak butuh koneksi atau duit kalian, dan Al kamu bisa berhenti mengirim uang tunjangan buat aku, kamu tabung saja uangnya untuk biaya pendidikan Alana kelak." Anna menoleh pada Alvaro awalnya lalu menoleh lagi pada Bara. "Kamu juga Bara, kamu harus berhenti mengirimi aku uang atau barang-barang mahal. Lebih baik uangnya kamu pakai untuk berdonasi."

Anna menarik napas dalam-dalam. "Itu impian baruku, aku ingin melakukannya meskipun terlambat. Kalian akan mendukungku, kan?" Anna bertanya kembali pada dua laki-laki itu.

"Tentu saja!" jawab keduanya kompak.

Mendengar hal itu, Anna tersenyum lebar. "Kalau begitu, kalian berdua harus berhenti menganggu dan menempel padaku. Aku akan sibuk untuk mempersiapkan banyak hal dan belajar untuk tes, jadi setelah ini lebih baik kalian berdua pulang!" usir Anna tidak tanggung-tanggung.

The Second Life Memory (COMPLETED) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang