"Ayah!" teriak seorang gadis kecil masih dengan seragam sekolah berlari memeluk pria yang sedang duduk di sofa sambil mengecek beberapa dokumen di tabletnya.
"Gimana sekolahnya lancar?" Alvaro mengusap lembut rambut hitam sebahu sang putri.
"Iya, Ayah." Alana duduk di samping Alvaro. Menatap wajah ayahnya cukup lama.
"Ada apa, Sayang?" Alvaro paham karakter putrinya. Ia menatap lembut Alana.
"Alana rindu Mama, Yah. Mama kelihatannya berubah, apa Mama tidak sayang Alana lagi?"
Mendengar hal itu, sebenarnya Alvaro sangat kaget. Tapi, ia berusaha bersikap tenang dan mmberikan pengertian pada bocah berumur tujuh tahun itu.
"Mama pasti masih sayang sama Alana. Cuman sekarang Mama lagi sakit, jadi Alana harus mengerti ya, sama kondisi Mama."
Wajah sedih Alana tidak dapat berdusta. Ia mengangguk. "Baik, Ayah."
Elin masuk ke dalam rumah, ada yang ia ambil dari dalam bagasi. Ia menyerahkan tas sekolah bergambar Doraemon pada keponakannya.
"Alana ke kamar aja ya, Anti mau bicara sama Ayah." Elin berkata dengan senyuman hangat pada Alana.
"Iya, Anti." Alana patuh, ia menurut dan langsung masuk kamar.
Elin duduk di samping sang kakak. Ada banyak keluh kesah yang ingin ia bicarakan, karena sepertinya Alvaro sama sekali tidak tahu apa yang terjadi.
"Kak Al ngasih uang ke Kak Anna?" todong Elin langsung to the point.
Alvaro menoleh pada Elin. Seingatnya, ia tidak pernah menceritakan apapun soal pertemuannya hari itu dengan Anna.
Melihat pertanyaan Elin. Adiknya itu pasti tahu sesuatu, apa Anna yang bercerita?
"Tahu dari mana kamu?" tanya Alvaro balik bertanya.
"Jadi, benar tebakanku." Elin menghela napas panjang. Ia terlihat kesal.
"Tebakan apa?" Alvaro meletakan tabletnya di atas meja. Jika, pembicaraan yang sedang berlangsung ini menyangkut Anna, Alvaro menjadi sangat fokus.
Elin menyodorkan ponselnya pada sang kakak, menunjukan beberapa foto dan video yang ia ambil saat melihat Anna naik ke atas panggung di konser Ryan Nall kemarin.
"Lihat ini, Kak Anna benar-benar sudah gila, kan? Dia pasti pakai uang dari kamu untuk nonton konser ini." Elin kesal, suaranya meninggi beberapa oktaf.
Alvaro hanya menoleh singkat pada sang adik lalu bersikap abai.
"Lihat baik-baik, Kak! Kak Anna bahkan memakai baju pernikahannya dengan Kakak buat hal kayak begini. Apa dia sungguh kehilangan akal sehatnya?" Elin memperbesar foto Anna, memperlihatkan detail gaun pengantin yang dikenakan mantan kakak iparnya itu.
"Yang bikin aku marah, dia benar-benar caper, centil dan mengesalkan. Lihat, dia berakting sakit untuk dapat sentuhan dan pelukan Kak Ryan. Menyebalkan!"
"Dia merayu idolaku, Kak!" Elin bangkit dari duduknya, kedua tangannya terlipat di dada. Ia benar-benar benci dengan wanita itu.
"Bunda juga pasti udah cerita, kalau Bunda ditampar Kak Anna saat di mal, di depan Alana pula!" Elin naik pitam.
Alvaro ikut bangkit, ia sudah mendengarkan semua keluh kesah sang adik. Tapi, apa itu berguna?
"Lalu aku harus apa, El ...." Alvaro menggantung kalimatnya. "Aku dan Anna tidak ada urusan apapun lagi. Jadi, terserah dia mau hidup bagaimana."
"Kak Al harus atur dia!" Elin menahan lengan Alvaro yang hendak beranjak. "Dia masih dapat uang tunjangan dari kamu, Kak. Harusnya dia hidup tenang aja dan nikmati uang itu dalam diam. Kenapa dia sangat bertingkah?!"
KAMU SEDANG MEMBACA
The Second Life Memory (COMPLETED)
Romance~•~ follow dulu sebelum membaca, thx. Amanda Shopia artis paling fenomenal dengan banyak skandal dan anehnya ia masih wara-wiri di dunia hiburan. Arogan dan angkuh, hanya wajah cantik bak dewi itu yang menjadi daya tariknya. Tapi, dibalik itu semu...
