34

40K 2.6K 24
                                        

Happy Reading

Sabian saat ini masih memeluk Elio, bedanya remaja kecil itu kini sudah berpindah ke pangkuannya. Jemari mungil Elio mengusap pipi Sabian yang basah oleh air mata.

"Abang kenapa nangis?" tanya Elio.

Sabian hanya menggeleng, "Sejak kapan?" suara Sabian terdengar serak. Elio mengangkat alisnya karena tidak paham.

"Sejak kapan kamu sakit?" tanya Sabian lagi.

"Kurang lebih satu bulan yang lalu," balas Elio.

Sabian mengusap surai Elio, "Apa karena itu kamu bekerja hm?" tanya Sabian. Elio mengangguk pelan.

"A..abang udah nggak marah sama Elio?"

Sabian kembali mendekap Elio, "Emang kapan abang marah sama kamu?"

"Tadi, abang Al dari tadi diemin El terus, abang marah kan sama El," ujar Elio. Sabian menggeleng, ia menjelaskan apa yang sebenarnya ia rasakan kepada Elio. Pemuda itu tidak marah, hanya saja ia belum bisa menerima kenyataan yang baru saja ia terima. Ia takut suatu saat nanti Elionya pergi meninggalkan dirinya, sama seperti bunda dan adiknya.

"El, kamu mau sembuh kan?" tanya Sabian yang diangguki Elio dengan sedikit ragu.

"Abang nggak mau kehilangan kamu dek, abang sayang banget sama kamu. El mau kan kalau berobat," Sabian mencoba untuk membujuk Elio.

Elio memejamkan matanya, "El mau sembuh abang tapi El takut, kemoterapi itu pasti sakit. El juga nggak mau kalau rambut El rontok, nanti El jadi jelek abang," lirih Elio.

"Enggak kok, adek abang nggak akan jelek. Mau ya, abang mohon.."

Elio menghembuskan napasnya, "Nanti El pikirin lagi ya bang, El butuh waktu," balasnya. Sabian tersenyum tipis dan mengangguk. Pemuda itu kemudian mengajak Elio untuk segera tidur.

Di sisi lain

Saat ini Ricko tengah termenung di kamarnya. Ia memikirkan adik bungsunya yang entah saat ini berada di mana. Hari ini Nio sudah pulang dari rumah sakit setelah menjalani pengobatan di sana. Beruntung tidak ada cedera serius yang dialami adik angkatnya itu.

"Kamu di mana dek? Apa benar kamu yang udah dorong Nio?" monolog Ricko. Ada rasa bersalah di hatinya. Remaja itu memutuskan untuk pergi ke kamar Elio.

Ceklek..

Ricko membuka kamar Elio yang bahkan isinya tidak semewah milik anak-anak Samuel yang lain. Ricko mendudukkan dirinya di ranjang Elio. Wangi khas Elio menguar dari ruangan itu. Mata Ricko mengedar, netranya melihat tumpukan lukisan di sudut ruangan. Di atas nakas Ricko melihat sebuah ponsel dan botol vitamin yang berisi beberapa butir obat. Remaja itu lantas mengambil botol tersebut.

Mata Ricko memicing, "Ini obat apaan ya? Mana kagak ada merknya lagi, apa gue tanya aja besok ke apotek ya? Ah iya aja kali ya," monolog Ricko. Remaja itu lalu keluar dari kamar adiknya seraya membawa botol vitamin milik Elio.

***

Sabian terbangun lebih dulu dari Elio. Pemuda itu bangkit dan bergegas ke kamar mandi untuk siap-siap pergi ke sekolah. Selesai mandi, ia turun ke bawah untuk sarapan. Ia ingin membangunkan Elio sebenarnya, namun anak itu terlihat kelelahan, sehingga Sabian akan membangunkannya nanti.

ELIO [ end ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang