41

39.8K 2.3K 28
                                        

Happy Reading

Samuel buru-buru menghampiri anak-anaknya di ruang perawatan Jean. Putra sulungnya itu dirawat di ruangan yang bersebelahan dengan ruangan Liana. Samuel begitu panik saat papanya mengatakan jika Jean tertusuk di mansion. Pria itu buru-buru ke ruangan Jean, beruntung istrinya sedang tertidur.

"Pah, gimana keadaan Jean?" tanya Samuel.

Mario menghela napasnya, "Dokter bilang luka tusukan di perut Jean cukup dalam, keadaannya sekarang masih belum stabil. Bahkan tadi perutnya harus dijahit beberapa kali," jelas Mario.

"Mengapa ini bisa terjadi, apa ada penyusup?" tanya Samuel.

"Aku tadi lihat abang udah tergeletak gitu aja di balkon, tapi aku sempat lihat ada beberapa kerikil yang mengotori lantai balkon, sepertinya ada seseorang yang mencelakai abang Jean," jelas Ricko.

"Kalian sudah cek CCTV balkon?" ujar Samuel.

"Udah pah, tapi entah kenapa CCTVnya mati di jam itu. Kayaknya ini beneran di sengaja. Waktu itu aku juga sempat diteror," sahut Ricky.

Samuel menghela napasnya berat, "Hah...yasudah kita tunggu saja sampai Jean sadar,"

"Papa nggak jagain mama?" tanya Ricky.

"Mama lagi tidur, papa udah minta bodyguard buat jaga di depan kok," balas Samuel yang diangguki oleh Ricky.

***

Keesokan paginya...

Hari ini adalah hari minggu, sehingga Rama dan anak-anak libur. Mereka memilih untuk menemani Elio di rumah sakit.

"A..abang.." lirih Elio.

Sabian mendekat ke arah Elio, "Kenapa sayang? Ada yang sakit?" tanya Sabian.

Elio menggeleng, "El bosen di sini terus, boleh kita keluar nggak?" tanya Elio.

Sabian terlihat berpikir, "Em...abang tanya Dokter Kenan dulu ya," ucap Sabian yang diangguki oleh Elio. Sabian segera keluar dari ruangan Elio untuk menemui Dokter Kenan. Tak lama kemudian Sabian kembali.

"Gimana abang, bolehkan?" tanya Elio dengan antusias.

"Boleh kok, tapi cuma ke taman rumah sakit aja ya," ujar Sabian.

"Iya abang ayok.." Elio terlihat semangat membuat hati Sabian menghangat. Akhir-akhir ini Elio lebih sering menangis dan terlihat lesu membuat hati Sabian sedih.

"Pakai kursi roda ya!" ucap Sabian. Elio hanya mengangguk. Sabian mengangkat Elio dan didudukkan di atas kursi roda. Tak lupa Sabian juga membawa infus milik Elio.

Mereka keluar menuju taman rumah sakit. Jika kalian bertanya ke mana tiga 'Delion' yang lain, maka jawabannya mereka masih tertidur. Semalam mereka tidak bisa tidur karena Elio yang selalu muntah-muntah, anak itu bahkan sampai sesak napas. Elio mengeluh seluruh badannya sakit dan ia kembali mimisan, sehingga mereka benar-benar terjaga sepanjang malam.

Elio dan Sabian sampai di taman rumah sakit. Netra Elio mengedar menatap hamparan rumput hijau yang penuh dengan tanaman hias serta bunga-bunga yang indah. Elio tersenyum.

"Suka hm?" tanya Sabian.

Elio mengangguk antusias, "Suka abang, di sini udaranya segar, enggak kayak di ruangan itu, pengap El rasanya," keluh Elio. Sabian terkekeh, ia mengusap kepala Elio yang tertutup oleh beanie hatnya.

"Abang El haus.." ujar Elio.

"Mau abang beliin minum?" tanya Sabian yang diangguki Elio.

"Yaudah abang beliin, tapi kamu di sini aja jangan ke mana-mana!" tekan Sabian.

ELIO [ end ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang