Woaaahh cantik banget
Eeh.. siapa itu
Orang tua murid? Cantik banget
Riuh siswa-siswi terdengar, beberapa panitia pun sampai melihat kearah belakang, termasuk Zee.
Zee menatap lurus sosok wanita yang bukan pertama kali ia lihat itu apalagi saat wanita itu berjalan lurus kearah nya.
Sosok tinggi berkulit putih dan rambut panjang hitam menjuntai tambah memperindah penampilan nya.
"Saya mau bicara sama kamu"
Shani, dia adalah Shani sosok anggun itu terlihat dingin malam ini, tak jarang sayup-sayup suara orang yang memujinya tapi berbeda dengan Zee, ia tak suka dengan tatapan Shani malam ini.
Zee menganggukkan kepalanya lalu berjalan mengikuti Shani menuju ruang guru.
Marsha yang melihat itu pun menaruh curiga, entah kenapa ia merasa ada kekhawatiran di wajah Zee tadi.
"Itu bu Shani, donatur terbesar di sekolah ini, denger-denger sih beliau itu Tante nya Raisa"
Mendengar penjelasan Jessie membuat Marsha semakin merasa khawatir pada Zee.
Zee duduk dengan sopan di sofa berhadapan dengan Shani yang tak henti menatap nya.
"Ada apa ya Tante?" Tanya Zee yang sudah mulai tak nyaman dengan tatapan Shani.
"Saya sudah meminta orang untuk memeriksa kasus keponakan saya, ini memang murni kecelakaan, tapi itu hampir menghilangkan nyawa keponakan saya, dan dia harus nya tak seperti ini kalau tidak menyelamatkan kamu"
Zee menunduk, ia memejamkan matanya kuat-kuat, yang di katakan Shani benar. Zee berhutang nyawa pada Raisa.
"Apa Tante mau aku bertanggung jawab soal ini? "
"No, ini bukan salah kamu Zee, Raisa disini tinggal sendirian, saya dan om nya selalu meminta Raisa untuk tinggal bersama kami tapi dia lebih memilih untuk tinggal di rumah orang tua nya sendirian karena orang tua nya masih berada di luar negeri, saya hanya ingin menitipkan Raisa pada kamu, tolong temani dia, apalagi setelah pemeriksaan lebih lanjut, ada sedikit kerusakan di otak raisa karena benturan itu"
"Kenapa? Raisa kenapa?"
Zee tak siap untuk kemungkinan terburuk, tapi ia akan sangat menyesal jika tak tau seberapa menderitanya Raisa karena menyelamatkan nya.
"Raisa lumpuh, tidak terlalu parah hanya saja untuk anak seusianya saya khawatir pada mental nya"
Zee kembali menunduk, sekarang ia menangis membayangkan penderitaan Raisa karena nya, bahkan ia tak memperdulikan Shani di hadapan nya, bahu Zee bergetar ia tak bisa lagi menahan tangis penyesalan nya.
Shani berdiri, berjalan menghampiri Zee, menarik tubuh Zee kedalam pelukan nya.
Hangat...
Shani tersentak sebentar, seperti ada rasa yang aneh di dalam dadanya tapi selanjutnya ia memejamkan mata, mendekap erat tubuh Zee sambil mengelus pelan rambut Zee di dalam pelukan nya.
Zee membuka tangan nya, melingkarkan tangan nya di pinggang Shani, membalas pelukan sosok asing yang baru saja ia temui itu, seakan lupa siapa yang tengah ia peluk, Zee benar-benar menumpahkan tangisan nya di dada Shani.
"Aku minta maaf Tante, harus nya aku yang ada di posisi Raisa, aku mau lakuin apapun buat Raisa, aku.."
"Ssttt.. "
Shani mengusap pipinya yang basah, ia kaget karena tak sadar jika sejak tadi ia ikut menangis, air mata yang sama sekali tak ia sadari, tapi hatinya berkata lain, seperti bukan kesedihan yang ia rasakan.
