Aku selalu bahagia
Saat hujan turun
Karena aku dapat mengenangmu
Untukku sendiri
Ooo..ooo..oww
Aku bisa tersenyum sepanjang hari
Karena hujan pernah menahanmu di sini
Untukku
( Hujan - Utopia )
****************************
Akhir pekan.
Musim penghujan mulai hadir menemani.
Langit gelap walau hari masih belum beranjak ke tengah perjalanannya.
Membuat siapapun enggan meninggalkan peraduan.
Bergelung di sofa sambil berselimut, menikmati curahan air dari langit yang kerap dari balik kaca jendela.
Ditemani secangkir teh hangat beraroma melati, berpadu dengan aroma petrichor dari luar sana.
Sangatlah syahdu.
Sepasang netra indah itu mengalihkan pandang ke layar benda pipih yang terletak tak jauh dari tangannya.
Mengetikkan deretan kalimat sembari menebar senyuman tipis. Menyalurkan kerinduan yang membuncah untuk keluarganya nan jauh disana.
Memandang kembali langit, membisikkan pesan rindu seolah ia dapat menyampaikannya ke tujuan.
Syibilla sangat menyukai hujan.
Namun tidak dengan petir juga gelegarnya.
Seperti saat ini, hari dimana ia tak ada kewajiban untuk mendatangi kampus.
Tentu saja memilih untuk santai sambil menikmati tetes curahan dari mega sangatlah menyenangkan.
Perbedaan yang kontras saat bergelung kehangatan dengan suasana basah dan dingin di luar itu membuatnya nyaman.
Menatap titik² air dari balik kaca ruang baca rumah besar keluarga Tasya.
Sekilas ia melihat sekelebatan bayangan Tasya yang melewati. Membuatnya berbalik arah meninggalkan pandangan di luar sana.
Benar saja, gadis berkacamata itu bersiap keluar rumah walaupun terpaksa.
" Mau kemana Kak, hujan² gini ? Tumben amat. " heran Syibilla, karena Tasya sebelas duabelas dengan dirinya yang tak akan pergi saat gemericik hujan membasahi bumi.
" Udah terlanjur ada janji. Kalau dicancel males banget bikin janji ulang. " urai Tasya walau dengan wajah yang sedikit tak bergairah. Membayangkan berkendara saat hujan memerlukan konsentrasi dan kesabaran ekstra ordinary. Itu saja sudah membuat mood Tasya menurun.
" Janjian ma siapa kak? penting banget kayaknya. " selidik Syibilla sambil mencomot sepotong bala² buatan Bik Inah yang masih hangat.
" Sama kakak tingkat. " sahut Tasya tanpa menatap wajah Syibilla.
" Ahh.. kating apa kating? bilang aja.. mau ketemu Kak Melvin ya? " goda Syibilla sambil terkekeh.
Sebuah nama yang membuat Tasya menoleh cepat ke arah Syibilla sambil menatap tajam. Tapi untuk Syibilla, tatapan itu sama sekali tak menyeramkan. Ia bahkan menjulurkan lidah dan menjulingkan mata untuk mengejek Tasya.
" Psstt! Anak kecil ga boleh sok tahu! " Tasya mengacungkan telunjuknya ke arah Syibilla, menutupi gugup setiap nama itu disebut.
Kekehan Syibilla beserta ledekan terus saja menggema. Tasya membiarkan itu semua, tak ingin membalas ataupun menyangkalnya.
Ia hanya memandang sekilas ke gadis yang masih tertawa ceria itu sebelum melangkah keluar rumah.
Belum saatnya Syibilla mengetahui apa yang akan dilakukannya setelah ini.
Tasya sengaja meminta pertemuan ini di sebuah cafe yang tak jauh dari kawasan tempat tinggalnya. Sesuai prediksi Tasya, hujan masih terus menemani hingga waktu pertemuan tiba.
Tak sampai 30 menit, kendaraan hitam metalic itu sudah memasuki sebuah sentral parkir. Kawasan yang ia tuju merupakan kumpulan usaha kuliner dan distro berupa stand semacam ruko, namun langsung ber akses ke jalanan utama.
Memakai payung silver, ia keluar dari mobil lalu melangkah hati² menghindari genangan air menuju sebuah bangunan berkonsep modern industrialis.
Saat seorang waiter membukakan akses untuknya, aroma kopi dan butter cream mendominasi.
Benar² aroma favorit untuk Tasya, apalagi di saat hujan masih mengguyur siang ini.
Candu yang tidak terlarang, batin Tasya.
Suasana Cafe tidak terlalu ramai, membuat Tasya leluasa memilih bangku untuk ditempati.
KAMU SEDANG MEMBACA
Those Eyes
Fanfiction" Diam adik kecil! Tangismu ga ada gunanya! " desis pemuda itu saat tangan kanannya mencengkeram erat pipi mulus seorang gadis yang sudah meleleh ketakutan persis di hadapannya. " Semua gara² kamu! " lanjut pemuda itu memberikan senyuman smirk yang...
