v. Padamu, Luka

494 45 23
                                        


" Pelan² kak. Jangan dipaksa kalau belum kuat. " Bunda mengingatkan Syibilla yang melangkah sedikit terburu².

" Gak papa bund. Harus dilatih biar ga manja kakiku. " senyum sang gadis perlahan sudah kembali kerap hadir.

" Iya, dilatih itu pasti. Tapi ga sembarangan juga. " balutan khawatir itu kentara khas ibu² yang berusaha melindungi anaknya dari bahaya.

Tasya menatap dalam diamnya.
Melihat kondisi fisik Syibilla saat ini memang sudah beranjak lebih baik.
Selebihnya pun ia menilai psikologis Syibilla juga jauh lebih stabil.
Tatapan Tasya mengamati langkah Syibilla yang sedang mendekat ke arahnya duduk.

Dalam hati ia bertanya² apakah ini akhirnya ?
Ketika Syibilla benar² merasa tenang, bahagia dan lepas ketika jauh dari Andra ?
Ingin menyangkal namun itulah yang ia lihat selama recovery gadis itu tanpa campur tangan langsung Andra.
Kali ini kembali Tasya menjadi informan untuk Andra yang memantau kondisi Syibilla.

" Kak, abang masih sibuk shooting ya ? "  sebuah tanya dari Syibilla pada Tasya, membuatnya tergagap dari lamunan

" Ehh.. mm.. iya dek. Programnya masih on process. Tapi mungkin gak lama. Beberapa hari lagi kami harus balik Jakarta. " jelas Tasya sambil mengerjapkan matanya.

Syibilla tersenyum tipis, menganggukkan kepalanya, mengingat setelah itu tak ada lagi suasana ramai seperti ini di rumahnya.
Om Adi dan Tante Diva sudah lebih dahulu kembali ke Jakarta beberapa hari yang lalu.

Ayah kembali sibuk dengan pekerjaannya.
Belva dan Nadhif yang masih akan dihadapkan dengan ujian akhir semester.
Tak lama lagi Tasya dan Melvin pun akan kembali ke Jakarta.

Sedangkan Andra ?
Sosok itu sudah tak pernah muncul sesuai dengan pintanya sendiri.
Termasuk kabar dan sapa dalam room chat.
Beberapa kali Syibilla menengok ponselnya, menunggu sebuah notifikasi yang tak kunjung hadir.
Aneh. Seolah bertolak belakang dengan otaknya.

Sepekan lebih yang lalu ia begitu merutuki notifikasi pesan dari Andra yang selalu hadir setiap hari.
Menganggapnya bak hama yang selalu menerornya.
Namun sejak pintanya pada lelaki itu untuk menjauh, ada ruang yang terasa kosong.
Hampa tanpa bisa ia tutupi dengan hal lain yang ingin ia gantikan.

Memilih untuk melangkah memasuki kamarnya, mengalihkan fokus dari gundah yang entah dari mana tiba² hadir menggelayut.

Mungkin ia bisa bersandiwara dengan tersenyum dan tertawa lepas saat melihat hal yang disukai.
Bersenda gurau dengan keluarga, namun kala ia sendiri, sepi itu kembali menyeretnya perih.
Rasa rindu kembali hadir bahkan lebih hebat, kehilangan perhatian yang baru saja muncul bahkan hanya dalam sepekan seolah dunianya kembali hilang.

Ia kembali menggulir room chatnya dengan Andra. Terakhir percakapan mereka saat dirinya masih di rumah sakit.
Lelaki itu tak pernah absen menanyakan keadaannya.
Mengingatkannya untuk beristirahat, meminum obat  juga menanyakan apa saja perkembangan dari dokter.
Lalu menatap bubble chat darinya yang hanya singkat.
Syibilla menghela nafasnya.
Mengapa kini resah terasa menyerang, rasa bersalahnya menyapa seolah menertawakannya.
Kehilangan akan terasa ketika lena akan sebuah perpisahan kini menjadi nyata.

Ia mencoba mengetikkan sesuatu, menyapa kembali lelaki itu.
Entah keberanian dari mana, namun sedetik kemudian ia menghapusnya kembali.
Memandang lepas halaman di hari beranjak siang dari jendela kamarnya.
Meletakkan kembali ponselnya di meja. Meliriknya seolah tak ingin menyentuhnya.
Namun sedetik kemudian menyentuh benda itu lagi , lalu melemparnya kesal.
Tak terasa sebuah teriakan kecil dilepaskan.
Membuang resah yang sekiranya ada di dalam batinnya yang sedang tak baik² saja.

Syibilla tak menyadari sepasang mata Tasya mengamati gerak geriknya sejak tadi dari depan pintu kamarnya.
Sejak beberapa hari lalu ada yang ingin Tasya sampaikan pada adik sepupunya itu.
Tentang Andra.

Those Eyes Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang