u2. Menyerah ?

452 47 51
                                        

Tenda sudah berdiri.
Lahan tak cukup luas untuk berdiri beberapa tenda, karena memang bukan tempat yang biasa didirikan untuk camping.
Berhubung situasi darurat sajalah hal itu dimungkinkan.

Andra segera meletakkan Syibilla di salah satu tenda dari 2 tenda kecil yang bisa didirikan.
Anya dan Tisha segera masuk untuk melihat kondisi Syibilla.

" Tolong diganti pakaiannya kalau basah, usahakan jangan banyak pergerakan di kaki kanan dan badan yang sakit. " pinta Andra yang diangguki Anya dan Tisha.
Lelaki itu pun keluar dari tenda memberi kesempatan Syibilla dirawat.

Andra membuka backpack nya, mengambil beberapa peralatan yang mungkin ia butuhkan.

" Mas, gimana, langsung dibawa turun aja setelah ini ? " tanya Hendri mengkonfirmasi.

" Semakin cepat semakin baik bang. " sahut Andra masih dengan wajah tegangnya.

" Aku takut ada cedera yang butuh segera dimaintain oleh pihak medis. " lanjut Andra sambil membuka beberapa tas tempat menyimpan bebat dan spray anti nyeri yang ia bawa.

" Siap mas, unit segera disiapkan di base camp bawah. " Hendri lalu menyingkir untuk berkontak dengan pihak lain.

Waktu menunggu terasa lambat, dengan cemas di luar tenda walaupun masih turun hujan cukup deras.

" Aawwhhh.... sakit Nyaa.. " rintih Syibilla dsri dalam tenda terdengar hingga telinga Andra.

" Iya iya.. makanya jangan gerak² dulu Bil. Pelan² ya. Ayo kita bantu. " titah Anya lembut menenangkan.
Bagaimanapun ia beberapa kali sudah terbiasa dengan kasus seperti ini. Maklum saja sebagai mahasiswi kedokteran, ia cukup bisa diandalkan.

Tak lama Dandy pun muncul mendekat ke tenda. Pandangannya bertemu dengan tatapan mata Andra yang sedang tak bersahabat.

" Gimana kondisinya ? " tanya Dandy pada Andra

" masih dirawat temen²nya. " jawab Andra dingin, singkat. Masih ingat dalam kepala lelaki itu team leader Syibilla ini terlalu birokratif, daaan alasan utamanya jelas, Dandy sangat menaruh perhatian untuk Syibilla. Paham kan ?

" Saya udah hubungi pihak basecamp Ceto untuk siapkan emergency buat rujukan Billa. " papar Dandy

" Thanks, tapi saya juga sudah koordinasi sama team di bawah untuk siapkan rescue Syibilla sesegera mungkin. " papar Andra tidak mau kalah.

" Oh.. oke. " sahut Dandy pendek.

Setelah itu tak ada lagi yang bersuara. Mereka hanya diam, sibuk dengan prasangkanya masing².
Perang dingin kasat mata terasa sekali disini.

Sekitar 15 menit kemudian, Anya membuka tenda dan langsung menemui Andra dan Dandy yang terlihat cemas.

" Ada memar di pinggang kiri juga ankle sprain di kaki kanannya. Belum tau itu karena dislokasi atau robeknya ligamen. " lapor Anya yang ditanggapi dengan helaan nafas panjang oleh kedua lelaki didepannya.

Ankle sprain, alias cedera ankle, sendi pergelangan kaki kanan pada Syibilla. Andra meringis mendengarnya, bisa membayangkan betapa sakitnya yang dirasa gadisnya itu.
Dapat dipastikan, sementara waktu ini Syibilla tidak boleh menggerakkan kaki kanannya untuk berjalan.

" Aku ada kain bebat kalau dibutuhkan, juga beberapa obat pereda nyeri. " tawar Andra pada Anya yang kemudian diangguki gadis kedokteran itu.

Ia pun kembali membawa barang² dari Andra yang kemudian merawat luka yang diderita Syibilla.

" Mas, " Anya keluar dari tenda lalu memanggil Andra kembali. Lelaki itu segera mendekat.

" Billa harus cepat dibawa ke rumah sakit atau klinik. Kalau dibiarkan nanti khawatir akan ada inflamasi di tubuhnya. " lapor Anya yang diangguki Andra.
" Sementara udah saya kasih obat pereda nyeri dan anti inflamasi. Cuma itu durasinya cuma beberapa jam aja. " tambah Anya cukup cemas.

Those Eyes Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang