s. Kenyataan

414 50 29
                                        


..the story must go on..
Bismillah..

#####

Siang baru saja akan menjelang.
Menatap sejauh pandangan dari balik kaca laminasi mobilnya, mayoritas lahan hijau yang terhampar.
Entah sudah keberapa kali ia menguap.
Bukan hanya perjalanan sejak 3 jam yang membuatnya bosan, tapi lelah karena semalam ia baru saja tidur setelah tengah malam.

" Kak, mau makan siang dimana habis ini ? "
Bunda menoleh ke arah bangku tengah mobil, menghadap ke putri sulungnya, Syibilla.

Gadis yang nyaris saja membawa dirinya ke alam mimpi itu mengerjap kembali.
Terdiam beberapa saat sebelum menjawab dengan gumaman tipisnya.

" Terserah ayah bunda aja. "

Bunda pun tersenyum lembut, lalu memilih berbincang lagi dengan ayah yang juga sibuk dibalik kemudi.
Perjalanan masih hampir separuh diarungi.
Seharusnya ini menjadi hal yang menyenangkan bagi Syibilla.
Kembali ke rumah, kampung halamannya bersama orang tua tercinta.
Tapi separuh hatinya terasa berat meninggalkan ibukota.
Sesuatu hal yang tak biasa. Karena dahulu ia selalu antusias menyambut waktu kepulangannya.

Beberapa hari berlalu setelah wisuda, Syibilla pun diboyong orang tuanya untuk pulang.
Lusa, rencananya ayah bunda akan melangsungkan tasyakuran di rumah mereka.
Beberapa teman Syibilla semasa kecil dulu juga sudah ada yang mengkonfirmasikan kehadirannya.
Mereka rindu untuk bertemu dan berkumpul lagi seperti dulu.
Walau sudah jarang berjumpa, mereka tetap menjalin komunikasi lewat media sosial.
Terutama sejak Syibilla memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di ibukota.

" Kak Tasya janji nanti wajib dateng ya ! " tuding Syibilla di depan hidung Tasya.
Mereka usai berpelukan saat Syibilla dan ayah bundanya berpamitan.

" Insyaa Allah dek. Nih tergantung abangmu. " sungut Tasya sambil melempar wajah dan tatapannya ke arah Melvin di sebelahnya.

Lelaki yang dijadikan ' tersangka' itu hanya meringis lalu menggaruk kepalanya. Tetap dengan sebelah tangan yang merengkuh pundak Tasya, seolah tak ingin jauh dari bidadarinya.

" Abang, awas kalo ga dateng. Pokoknya aku gak mau tau. " ancam Syibilla dengan tatapan sok galaknya.

" Aku usahakan ya. Doain aja gak ada kerjaan dadakan. " papar Melvin berusaha menghibur Syibilla dan tentu saja sang istri.

Maklum saja, sekarang saung seni yang ia kelola baru saja bekerja sama dengan pihak televisi swasta untuk mengisi slot acara art local music talent.
Sebagai penanggung jawab tentu saja ia tak bisa sembarangan untuk meninggalkan tempat.

" Eh abang, ga setaun sekali juga lho aku bikin acara begini. " seloroh Syibilla protes.

" Ntar juga kan harus nyiapin cuti lagi pas kamu nikahan dek. " Melvin mengusap hidung lalu mulutnya, lalu memalingkan wajahnya segera.
Tasya menolehkan wajahnya cepat lalu membelalakkan mata sekilas pada Melvin yang memilih menghindarkan tatap.

Syibilla bukannya tak mendengar, walau perlahan suara Melvin, namun telinganya masih normal.

" Dih, nikahan ? Siapa juga yang mau nikah. Gak usah ngadi² ya Bang. Masih lama itu.. lamaa.. ga usah dipikirin. Jodohnya juga belum ada. " kembali Syibilla menjawab dengan sewot.

" Jangan gitu, siapa tau abis ini ada yang mau ngelamar lho. " timpal Tasya dengan senyum usil.

" Oh iya, abang sama kakak jangan lupa ajak Om sama Ante ya. Semua harus ikut. " kilah Syibilla mengalihkan pembahasan yang memuakkan baginya.

Ia sudah jengah dengan obrolan mengenai jodoh, pernikahan, segala hal yang berkaitan dengan hati, cinta, pernikahan.
Sejak pernikahan Tasya dan Melvin beberapa bulan lalu, ia kerap kali dihujani pertanyaan dan harapan untuk mengikuti jejak sang kakak.
Walau rasanya ingin menjerit dan berteriak protes, agar tak mengangkat tema itu, tapi Syibilla nyatanya hanya bisa menanggapi dengan senyuman basa basi atau memohon doa.
Tidak salah, namun cukup membuatnya jenuh.

Those Eyes Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang