u1. Tracking

361 45 46
                                        

Haiii...
Perjalanan ini aku bagi 2 bab juga yaa.. biar ga kepanjangan.
Yuk mulai yuk..
Selamat menikmati..
***********************

🏡💖🏡💖🏡💖

Suara pintu kamar yang baru saja terbuka membuat Syibilla menoleh.
Giatnya yang sedang memasukkan barang dalam backpackernya terhenti.
Melihat sosok Bunda yang tersenyum di balik pintu.

" Bunda boleh masuk kak ? " tanya Bunda mohon ijin yang diangguki oleh Syibilla.

Perempuan berwajah teduh itu pun melangkah mendekat pada putri sulungnya. Duduk di pinggiran ranjang menatap Syibilla yang masih berkutat pada barang²nya. Sebagian sudah terpacking sementara beberapa masih berserak.

Bunda mengusap kepala Syibilla yang belum mengeluarkan sepatah kata pun sejak tadi.

" Barangnya sudah lengkap semua kak? " Bunda mendobrak keheningan yang terasa mengikat.
Syibilla hanya mengganggukkan kepalanya.
Pandangannya masih terfokus ke area ransel yang baru saja ia beli tadi pahi dan beberapa barang hasil huntingnya di salah satu toko brand untuk petualang.
Tabungan selama ia magang lalu beberapa harus ia relakan untuk memenuhi ambisinya kali ini.

" Kakak masih marah sama Bunda ? " tanya Bunda kembali, masih dengan intonasi lembut.
Syibilla terdiam, menghela nafasnya sambil menunduk.

" Bunda minta maaf ya sama Kakak. Kalau kakak pikir bunda ikut bohongin kakak.. " bunda berucap lembut

" Aku gak marah sama bunda " potong Syibilla pelan. Namun wajahnya masih enggan menatap sang bunda.

Bunda tersenyum. Membiarkan putrinya menata emosi. Setidaknya Syibilla tak meledak-ledak seperti siang tadi.

" Kakak yakin mau ikut tracking besok ? " tanya Bunda yang pasti khawatir dengan kegiatan putrinya itu.

" Lawu bukan tempat mendaki buat pemula kak. " bujuk bunda

" Kalau gak mencoba , kita gak akan tahu kita mampu atau tidak Bund. Tolong Bunda ga usah kuatir. " jawab Syibilla kali ini dengan kalimat agak panjang.

Bunda menangkup wajah Syibilla dengan kedua tangannya. Mengajak mereka bertukar tatap. Masih menyuguhkan senyuman teduh nan hangat.

" Anak bunda sudah dewasa sekarang, udah gede. Bunda kayak masih ngerasa baru kemarin antar kakak sekolah. "
Senyuman teduh bunda tertangkap jelas di netra gadis cantik yang sedang tak baik² saja itu. Ingin rasanya ia memeluk sang bunda karena jujur ia butuh dukungan moril tapi entah mengapa ada sesak yang masih ia rasa.

" Makin cantik, makin banyak kumbang yang ingin mampir. " senyum ceria bunda

Syibilla mendesah, " Bundaa.. "

" Benar kan ? Kenapa gak cerita sama bunda sih ? Kalau punya calon setampan Andra ? "

Syibilla yang tadinya sudah akan tersenyum tiba² kaku kembali.
Kenapa harus nama itu lagi disebut, batinnya.

" Bunda please.. " Syibilla melepaskan rangkuman tangan Bunda di wajahnya.
Ia menghembuskan nafas resahnya.

" Jangan sebut lagi nama itu. Aku benci dia. " gumam Syibilla lirih. Ia merosotkan badannya, duduk di hamparan karpet, punggungnya bersandar pada pinggiran ranjang.
Tatapannya lurus ke depan, tajam dan penuh amarah.

Bunda mengelus lembut kepala Syibilla, sebelum duduk berdampingan dengan putri tercintanya itu.

" Kenapa benci ? Bukannya dulu cinta ? Kakak ga ketemu dia hampir 2 tahun lho. Ga rindu sama dia ? " tanya Bunda

Syibilla tak menjawab.
Ia tak punya kosakata tepat untuk membuat alasan yang tepat dari sebuah kata benci.
Lantas apakah ia memang sungguh² benci pada lelaki itu ?
Rindu ? Ahh... sudah sejak hari pertama kepergiannya pun Syibilla sudah akrab debgan itu hingga kini menjadi mati rasa ?
Entahlah..

Those Eyes Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang