Haiii.. bab ini kubuat dengan POV Andra yang udah lama absen di cerita ini.
Jadi..waktu dan tempat dipersilahkan buat mas Andra curcol.
Cuss laahh..
💌💌💌💌💌
" Minggu depan Syibilla wisuda. "
Aku terdiam saat suara pria gagah yang selalu membuatku berdebar ketika berinteraksi dengannya.
Walau ini hanya melalui sambungan telepon.
Masih menahan suaraku agar tak keluar sembarangan.
" Saya hanya mengingatkan, setelah nama Syibilla disahkan sebagai sarjana, perjanjian kita selesai. " tiga kata terakhir itu membuat mataku terpejam.
Debaran jantung ini sudah tak berirama merdu. Jelas saja, karena terlalu banyak ritme ala gebukan drum yang tak beraturan.
" Baik Om. Terimakasih atas pemberitahuannya. " sambutku formal.
Setelah itu pembicaraan usai , meninggalkan reaksi linglungku bak orang jetlag.
' Minggu depan '
' Wisuda '
' Perjanjian usai '
Hanya itu yang bisa terngiang jelas di telingaku. Kalau saja itu ditulis dalam sebuah cetakan pasti semua kata² itu akan tercetak tebal, dan bergaris bawah.
Mungkin bisa saja dicetak miring sekalian.
Perjanjian itu ....
Semua carut marut yang membuat Syibilla menatapku sengit dan penuh kebencian pada akhirnya itu berawal dari perjanjian.
Ya sebuah komitmen yang kujalani sebagai konsekuensi ketika aku memutuskan untuk memunculkan diri di hadapan orang tua Syibilla.
Aku tahu, ini semua bukan salah orang tua Syibilla, dalam hal ini ayahnya, Om Arif.
Aku paham sepaham2nya ini semua adalah kesalahanku juga. Boleh saja kalian bilang ini kebodohanku.
Aku tahu, kali ini aku juga melukai hati Syibilla, lagi. Bukan hanya aku, tapi gadis favoritku itu juga sangat marah pada seluruh keluarganya.
" Jadi kalian semua menutupi ini dari aku ? Padahal kalian tahu semua yang terjadi ? " mendengar tawa sumbangnya terasa begitu nyeri di dadaku.
" Terus cuma aku yang bodoh, menangisi dan meratapi ratusan hari ditinggalkan tanpa kejelasan oleh manusia ini ? " tunjuknya padaku yang langsung terpejam.
Menyebut namaku aja dia tak sudi.
Manusia ini.. sebutnya untukku, aahhh... sakit meeennn.
Wajah cantik itu terlihat berona merah, bukan salah tingkah atau malu² seperti yang selalu jadi reaksi favoritku. Tapi merah padam menahan emosi.
Jujur, kali itu aku merasa takut setengah mati saat melihat reaksinya.
Lebih menakutkan dibanding pasca kejadian apartemen dulu.
Jauh lebih mengerikan, mungkin saat ini ibaratnya aku sudah berada di tepian jurang.
Aku sangat takut ia akan membenciku seumur hidupnya.
Come on, aku bersedia menjauhinya hampir dua tahun ini demi mendapat restu dari ayahnya. Lalu saat restu itu didapat, gadis itu justru memilih pergi dan menjauh ?
Tidak !
Aku bisa makin gila !
Semua bermula dari niatku untuk segera membuka jalan mendekat ke keluarganya.
Yaa, udah tau kan kalau aku bermasalah sama keluarga besar kekasihku itu ?
Masalah intinya adalah aku sudah membuat kesalahan besar beberapa tahun lalu.
Kejadian malam itu.
Yang ahhh... sudahlah.. mengingatnya membuat aku ingin membenturkan kepalaku ke dinding lagi.
Efek dari semua itu, keluarga kami semua bersepakat untuk memberi larangan padaku agar tidak menemui Syibilla seumur hidup.
Sebagai konsekuensi dari kesalahan besarku dan pencabutan laporan di pihak kepolisian.
Tapi siapa yang tahu jika takdir membawa kami semua hingga beriring, beberapa tahun kemudian?
Aku yang dulu hanya bisa melihat, mengagumi dan memantau Syibilla cantikku dari jauh, justru Tuhan beri jalan untuk membersamainya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Those Eyes
Fanfiction" Diam adik kecil! Tangismu ga ada gunanya! " desis pemuda itu saat tangan kanannya mencengkeram erat pipi mulus seorang gadis yang sudah meleleh ketakutan persis di hadapannya. " Semua gara² kamu! " lanjut pemuda itu memberikan senyuman smirk yang...
