K. Kejutan

1.7K 142 51
                                        


Tasya menyerahkan lagi smartphone yang baru saja ia pandangi pada pemiliknya. Keningnya berkerut.
Ada perih yang masih tertinggal setiap mengingat tentang dia.
Entah mengapa.
Padahal sudah hampir satu purnama ini ia sudah tak memikirkan sosok itu lagi.

Sore ini, Syibilla berceloteh tentang chat Andra di wahana permainan tadi. Dengan segala aduan misterius khas Syibilla.

" Kamu masih suka chat sama dia, Dek? " tanya Tasya pada Syibilla yang berbaring santai di sebelahnya.
Gadis itu mengerutkan kening sejenak lalu menggeleng.

" Dulu pas awal² Kak Tasya sama Kak Andra renggang itu aja. Suka nanyain kabar kakak tuh, nanyain kakak lagi apa, sama siapa. Itu aja. " Syibilla memainkan ujung rambutnya dengan tatapan menerawang. Mencoba mengingat kembali memori percakapannya dengan Andra di masa² lalu.

" Sampai aku tuh kesel, Kak. Kenapa ga chat sendiri sama Kak Tasya coba. Serasa jadi mata² deh aku." sewot Syibilla melanjutkan lagi ceritanya yang disenyumi Tasya.

" Emang faktanya kamu udah jadi mata², bikin kamu kenyang juga kan sampe kayang. " seloroh Tasya sambil mengacak rambut lebat Syibilla gemas.
" Dari Donat lusinan, martabak Bangka, Sate Taichan, sampe paketan data kan kamu dapet dari dia? " lanjut Tasya dengan ringisan sebal pada Syibilla yang terkekeh.

" Eh aku kan ga pernah minta. Kak Andra sendiri yang kirim². Itu namanya rejeki anak sholihah kata pak Ustadz. Lagian kan buat aku, bukan buat kak Tasya. Cemburu yak? " gadis itu malah meledek Tasya yang kontan memberi pelototan tajam.

" Hissshh! Cemburu cap kumis pak Agil, Dek? Yang bener aja. " Tasya menyentil telinga Syibilla gemas. "Lagian mau²nya dimanfaatin Andra. Dia sih emang ga pelit kalo soal begituan. Royalnya minta ampun. Ya tapi ga gitu juga lah. Ngejual info tuh namanya. " Tasya melepas kacamatanya, mengurut keningnya perlahan.

Syibilla merengut tak terima, tapi ia hanya bisa mengendikkan bahu. Kakaknya sedang tak ingin diprotes soal masa lalu.

Angan Tasya mengembara kembali.
Menguak pribadi Andra yang menurutnya bukan lelaki yang buruk.
Setidaknya sampai saat ini.

Syibilla menipiskan bibirnya prihatin. Mengelus lengan Tasya, mengirimkan sorot puppy eyes pada sang kakak. Disambung senyuman tanpa berdosanya.
Tentu saja Tasya tak akan bisa lama menggerutuinya. Toh semua sudah berlalu.

Tasya sudah merelakan hubungannya dengan Andra berakhir.
Itulah yang terbaik, menurutnya.
Daripada membuat mereka semakin saling benci pada akhirnya. Lebih baik menyelesaikan di saat bentuk persahabatan masih bisa terjalin.

Walau pada kenyataannya hingga saat ini, tak ada niat berkomunikasi diantara mereka. Pun Tasya tak ingin merubah hal itu.
Biarlah mengalir apa adanya.
Dan fakta yang ia terjadi kini, mereka sudah menjalani hidup masing².
Tasya beberapa kali melihat Andra bersama Hera di kala ia sedang pergi bersama Melvin.

Ia sendiri tak sepenuhnya percaya jalinan persahabatan yang dijalani Andra dan Hera.
Mitos lama menyebut, tak ada persahabatan murni dari sepasang lelaki dan perempuan.
Pasti ada saja salah satunya bahkan keduanya yang akan menyimpan perasaan lebih.
Seperti yang sedang ia jalani dengan..

" Kakak sendiri sama kak Melvin gimana? Masih belum ada kemajuan? Aku nunggu PJ nya lho. "

Tasya nyaris saja mengumpat bila tak ingat kalimat itu keluar dari mulut Syibilla yang mulai banyak berceloteh. Memutus pikiran yang berkelebat di otaknya barusan.
Dan sepertinya menyalur kuat pada Syibilla,  terbukti dengan pertanyaannya barusan.

" PJ.. PJ.. hah..siapa sih yang ngawalin istilah begituu. Ada² aja. " elak Tasya jengkel.

" Yeee.. sewot si kakak. Eh tapi kenapa sih kak, ga jadian aja sama Kak Melvin? Kalau aku lihat², Kak Melvin sama Kak Tasya cocok kok... " Syibilla bersemangat jadi tukang kompor kali ini.

Those Eyes Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang