Perlahan suara dengan lirik menyesakkan itu menjauh, namun meninggalkan sakit yang semakin menyentak untuk Syibilla.
Landas pacu sudah lengang, sehampa relung Syibilla yang tiba² merasa kosong.
Gadis itu menundukkan kepalanya.
Masih dengan deraian air mata, tanpa suara isak sekalipun.
Hingga pundak yang tampak naik turun itu perlahan terasa hangat oleh sentuhan.
Sontak Syibilla mengangkat kepala dan menoleh ke arah belakangnya.
Wajah Melvin dengan senyum sendunya muncul dengan menganggukkan kepala lembut.
Tanpa perlu banyak kata, gadis itu berbalik seolah ingin mengadu sesaknya. Namun Melvin sudah mendahului dengan merengkuh kedua bahu gadis itu dan memeluknya.
" Maafin abang ya dek. Abang gagal bawa kamu ke Andra. " bisik lelaki itu dengan suara tercekatnya ke sisi Syibilla.
Dalam hitungan detik pecahlah tangis Syibilla dalam pelukan sang Abang. Melvin hanya mengusap pundak gadis itu tanpa ingin berucap kembali.
Jangan ditanya bagaimana kacaunya lelaki itu kini. Betapapun mereka tak memiliki hubungan darah, namun sejak awal mengenal Syibilla, ia sudah menganggap gadis itu adalah adik kesayangannya.
Maka setiap gadis itu menangis pilu seperti ini, ia pun merasakan getir yang sama.
Melvin membiarkan Syibilla menghabiskan tangisnya, hingga tenang kembali.
Gadis itu melangkah mundur saat nafasnya sudah kembali tertata perlahan.
Mengusap wajahnya yang kacau beberapa kali berebutan dengan tangan Melvin yang mengusap pipi sang gadis perlahan dengan tissue yang ia bawa.
" Bang " Syibilla berusaha mengucap walau nafasnya masih kadang tersengal. Hidung gadis itu memerah kontras di kulit wajahnya yang putih.
" Abang jangan minta maaf, abang gak salah. Aku yang makasih banget sama abang. " Syibilla nampak masih menahan tangisnya agar tak kembali datang.
" Seandainya abang tahu sejak pagi. Abang gak akan pergi dulu tadi. " sahut Melvin yang ditanggapi dengan gelengan Syibilla yang menguat.
" Enggak. Enggak Bang. Aku yang salah. Abang udah bantuin aku banget. Makasih bang. " Syibilla berusaha tersenyum, menerima semua konsekuensi atas semua keras hatinya selama ini.
" Semangat. Masih banyak jalan lagi. Abang yakin Andra gak akan bodoh ninggalin kamu. Jakarta masih satu pulau kan sama Jogja. Masih satu negara, gak perlu paspor. " hibur Melvin yang hanya ditanggapi tundukan kepala Syibilla.
Melvin mengajak gadis itu duduk di bangku ruang tunggu yang masih lengang. Sepertinya memang jadwal keberangkatan pesawat selanjutnya tidak dalam waktu dekat. Walau sudah ada beberapa penumpang yang tenang menunggu dengan jarak terpaut jauh dari mereka duduk saat ini.
Menyodorkan sebotol minuman air mineral pada Syibilla yang masih berusaha menerima apa yang baru saja terjadi.
Beberapa kali hanya hembusan nafas yang terdengar dari keduanya tanpa kata.
" Kita pulang ? Atau mau kemana ? " tanya Melvin lembut, setelah beberapa menit berlalu yang mereka lalui dalam hening percakapan.
Gadis itu hanya mengendikkan bahunya pasrah. Terdiam kembali sebelum perlahan membuka suara paraunya.
" Abang kalau ada keperluan, mau pulang duluan gak apa. Aku ditinggal aja. " ucap Syibilla yang membuat Melvin menghela nafas dengan kening berkerut.
" Mana bisa gitu. Kalau kamu mau kemana ayok abang antar, abang temenin. " tolak Melvin masih dengan intonasi lembut, tanpa ingin melepaskan Syibilla.
" Aku pengen sendiri dulu, Bang. Boleh kan ? Biar nanti sampai rumah gak jadi pikiran orang rumah. " pinta Syibilla dengan tatapan memohon.
Melvin mènatap gadis itu dalam diam.
Tak salah apa yang Syibilla pinta kali ini.
Jika dia dalam posisi gadis itu, mungkin akan melakukan hal yang sama.
Namun ia juga tetap menimbang beberapa opsi dalam kepalanya.
Agar semua tetap terkendali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Those Eyes
Fanfic" Diam adik kecil! Tangismu ga ada gunanya! " desis pemuda itu saat tangan kanannya mencengkeram erat pipi mulus seorang gadis yang sudah meleleh ketakutan persis di hadapannya. " Semua gara² kamu! " lanjut pemuda itu memberikan senyuman smirk yang...
