Hellooooo...
Jumpa lagi.. maafkan molor updatenya.
Pekan lalu aku sempat ambruk kena flu berat. Padahal ide sudah melimpah ruah buat dituangkan.
Badan lagi ga kompromi walaupun tinggal edit dll.
So semoga part ini bisa sedikit mengobati kangen kalian sama tokoh2 disini.
Oh ya.. makasih banyak yang sudah sudi komen dan vote di part² sebelumnya. Ah kalian selalu keren.
Jangan bosan ya kasih feedback macem komen dan krisannya.
Itu bener2 penyemangat buatku.
Dan buat yang rela marathon baca cerita ini.. smg cerita ini bisa memenuhi ekspektasi kalian yaa.
Virtual hugs buat kalian semua.. kecup satu².
Happy reading this part ya guys.
Maklumin kalo typo² masih suka nyelip tak terkendali hehehe...
‐----‐--------------------------------------------------
Lalu lintas kota selalu padat di jam siang.
Inilah mengapa Tasya selalu menghindari berkendara pada waktu neraka ini. Seolah semua pemakai jalan menjadi sadis dan tak ramah demi memenuhi nafsunya masing².
Cacian, sumpah serapah, ditambah dengan bisingnya klakson bersahutan.
Jangan dilupakan juga, debu dan asap tak sehat yang seolah menjadi provokator.
Tapi hari ini lain dari biasa.
Tasya harus menghadapi dengan sabar semua prahara itu.
Ya, walaupun dengan sedikit gerutuan yang terlontar dari balik kemudi dalam kabin berpendingin udara.
Mentralisir kebuntuan dengan memutar playlist favoritnya kali ini.
Mengajaknya berdendang meredakan stress di jalanan.
Tell me
Have you ever loved and lost somebody?
Wish there was a chance to say I'm sorry
Can't you see?
That's the way I feel about you and me, baby
Have you ever felt your heart was breaking?
Lookin' down the road you should be taking
I should know
Cause I loved and lost the day I let you go
( Have You Ever - S Club 7 )
Tasya bersenandung mengikuti nada lagu lawas yang masih easy listening di telinganya.
Gadis itu termasuk penyuka musik lintas jaman. Banyak lagu yang ia sukai berasal dari tahun sebelum ia lahir. Selama itu bisa dinikmati bagi Tasya tak masalah.
40 menit hingga ia memasuki kawasan elit nan rindang. Menelusuri jalanan yang tak terlalu padat, membuat Tasya bernafas lega.
Akhirnya neraka kepadatan di akses utama pun ia lalui.
Tak lama di pertigaan jalanan, Tasya membelokkan kemudi menuju pelataran parkir yang rindang.
Sebuah resto dengan konsep lokal Indonesia. Sangat homy dengan bangunan utama berbentuk joglo di tengah taman yang cukup luas sebagai foyer.
Suara gending dan alat musik tradisional menyambut siapapun yang datang kesana.
Mengusung konsep fine dining menjadikannya salah satu jujugan kaum bisnis dan ekspatriat yang ingin menjelajah rasa Nusantara secara premium.
Beberapa waiter melangkah menyiapkan pesanan untuk beberapa pengunjung yang tersebar di bangku yang selalu mempunyai sudut pandang tersendiri.
Aroma masakan khas nusantara yang sangat menggoda selera membuat pengunjung dimanjakan lidah oleh sajian resto ini.
Dipadu dengan penataan yang cantik, so appetizing kata chef² profesional. Karena untuk makanan, kesan pertama dari pandangan mata akan selalu lebih nikmat sampai ke perut.
Seorang waitress yang mengantarnya menunjuk dengan sopan ke sebuah sudut gazebo panggung di halaman belakang resto.
Tidak besar, hanya maksimal memuat 4 orang saja, namun jangan ditanya suasananya.
Dikelilingi rumpun tanaman perdu hijau dan sebuah kolam mungil nan artistik.
Letaknya di sudut halaman menyiratkan privacy yang ingin terjaga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Those Eyes
Fanfiction" Diam adik kecil! Tangismu ga ada gunanya! " desis pemuda itu saat tangan kanannya mencengkeram erat pipi mulus seorang gadis yang sudah meleleh ketakutan persis di hadapannya. " Semua gara² kamu! " lanjut pemuda itu memberikan senyuman smirk yang...
