w1. Lepas Landas ...

307 53 48
                                        

Hari masih pagi, mentari pun masih enggan tersenyum dibalik mega yang menggelayut.
Hawa dingin nan sejuk menyelimuti sekeliling.
Pemandangan puncak Merapi yang tertutup kabut itu membentang gagah di hadapan balkon berpagar kayu.

Hiruk pikuk di ruang tengah sebuah villa itu masih berlangsung.
Beberapa koper berukuran sedang hingga besar tertata di sudut dan tengah ruangnya.
Tak hanya itu, ada beberapa travel bag yang sudah mulai tersusun rapi di dekat pintu.

" Sudah semua ma ? Gak ada lagi yang ketinggalan ? " tanya Andra pada mamanya yang sudah cantik di atas kursi rodanya.

Wanita paruh baya dengan gurat wajah ayu nan elegan itu pun menggelengkan kepalanya. Senyumnya tersungging ramah.

" Ya udah habis ini Andra masukkan barang² ke mobil ya. " pamit putra semata wayangnya lalu beranjak menata barang² yang usai mereka susun.

Ibu Dewi pun mengangguk dan melihat sang putra beringsut menjauh.

Andra menarik koper yang masih tersebar di beberapa titik itu lalu dikumpulkan dekat pintu akses villa.
Memandangnya sejenak lalu iseng menarik ponsel dari saku celananya.
Mengambil gambar yang memperlihatkan susunan koper dan travel bag yang sudah rapi.

Memperhatikannya sejenak, sebelum sebuah anomali pikirannya menuntun untuk memposting gambar itu ke media sosialnya.
Lalu diberikan sebuah caption singkat 'Packing '
Lalu segera menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku celana.

Perjalanan dari Kaliurang ke bandara YIA memang cukup jauh. Memakan waktu hampir 2 jam lamanya jika tak singgah.
Padahal menurut rencana, mereka akan mampir ke sebuah depot untuk menyantap makanan khas Jogjakarta.

Andra mendorong perlahan kursi roda mamanya, diikuti langkah ibunda Dhimas dan 2 orang kerabat mereka.
Sementara Dhimas sudah lebih dahulu kembali ke Jakarta untuk kembali ke London, beberapa hari lalu.

Menempati sebuah bangku dan meja panjang. 5 orang rombongan itu segera memilih menu yang sudah membuat perut mereka auto keroncongan.
Sembari menunggu menu dihidangkan, Andra membuka ponselnya.
Menggulir layar ke zona percakapan karena ia melihat beberapa notif pesan masuk di pop-up.

Sebuah pesan dari seseorang membuatnya tersenyum tipis namun tak membuat inginnya muncul untuk membuat balasan.

*********

Syibilla baru saja menyelesaikan pekerjaannya di dapur. Membantu bunda memasak adalah salah satu kegemarannya belakangan ini tiap pagi.
Kegiatan jogging yang dulu rutin ia kerjakan setiap pagi, terpaksa dihentikan dahulu sebelum kakinya benar² pulih.
Kali ini ia sudah belajar untuk tak memakai tongkat sebagai bantuan melangkah, namun tetap saja ia harus berhati² melangkah.
Jadwal kontrol masih beberapa hari lagi, semoga saja sudah semakin membaik.

Ia menyambar handuk yang berada di jemuran samping rumah.
Gerah dan lengket setelah beraktifitas di depan kompor membuatnya ingin segera membersihkan badan.
Sekilas ia melihat Tasya sedang duduk di ruang keluarga, asyik menatap ponselnya.
Tatapan serius dengan gesture tubuh sedikit menegang membuat Syibilla sedikit bertanya². Namun ia memilih untuk berlalu menuju kamar mandi tanpa ingin bertanya lebih lanjut.
Rindu dengan guyuran air yang menyegarkan lebih menguasai Syibilla kali ini.

Tasya menoleh cepat melihat kelebatan langkah Syibilla.
Ia melihat adiknya sudah terlanjur masuk ke kamar mandi sebelum sempat memberitahukan sesuatu.

Tasya kembali mengetikkan kalimat di kolom pesan ponselnya.

Me
Dra, lo dimana ?

Those Eyes Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang