Haiiii..
Ini lanjutan curcol mas Andra yaa
Oke deh.. selamat menikmati
💔❤️🩹💔❤️🩹💔❤️🩹
Usai berbincang dengan Tante Indah, aku masih dilanda resah.
Satu sisi aku lega karena sudah menyampaikan ceritaku dan Syibilla pada beliau.
Tapi apakah semua akan terselesaikan sampai sini?
No one knows.. aku benar² pasrah.
Ada hal yang membuatku terenyuh pada Tante Indah, di akhir pertemuan kami saat itu.
Kami saling bertukar kontak.
Bukan apa², aku sangat menghormati beliau.
Full respect karena sudah berkenan menemuiku, mendengarkan semua ceritaku.
Aku berharap bisa mulai membuka kembali jalan yang kuusahakan.
" Andra, kalau saat itu kamu gak mengingatkan kami tentang siapa jati dirimu, kami nyaris gak mengenalimu, nak. "
Aku berkerut heran dengan kalimat beliau. Namun seulas senyum hormat tetap kusuguhkan.
" Oh ya ? Pasti karena Om dan Tante sudah membuang ingatan tentang saya karena kesalahan dulu. " aku menatap pias, lagi dan lagi tentang hal itu.
Senyum tulus Tante Indah mengembang.
" Mungkin iya. Tapi melihat kamu, saya paham mengapa Syibilla berbuat nekad melawan arus. "
Aku hanya tersenyum sambil terus berpikir, maksud jelas beliau apa.
" Kamu anak baik. Dari tuturmu tadi, kamu paham sekali tentang Syibilla. Pasti banyak perempuan yang iri pada Syibilla ya ? " sedikit ada nada menggoda disana yang kutanggapi dengan tawa kecil bersama beliau.
" Banyak berdoa ya nak. Saya gak bisa berjanji membantu usahamu. Tapi demi Syibilla akan saya coba. Tolong jaga Syibilla baik² ya nak. " sebuah pesan yang tak pelak membuatku serasa disiram air pegunungan dari kepala hingga kaki.
Aku mengangguk pasti.
" Tanpa tante minta, saya akan berusaha sebaik mungkin. Terimakasih tante. Semoga gak keberatan ya berkabar dengan saya. " aku mengulurkan tanganku, menjabat erat tangan lembut itu dan menempelkan punggung tangan pada wajahku.
Sungguh, aura keibuannya membuatku nyaman.
" Iya Andra. Terimakasih ya. Semoga bisa bertemu lagi dengan suasana lebih baik. " harap yang langsung kuaminkan tanpa tapi.
Kami berpisah di ujung jalan.
Aku memesankan taxi online untuk beliau. Walau di awal beliau menolak. Namun sebagai ungkapan terimakasih, akhirnya tetap diterima dengan senyuman sesuai nama beliau.
Terimakasih banyak, Tante.
Aku semakin yakin Tuhan membuka jalanku sedikit demi sedikit.
Sudah sepekan lebih aku berkeliaran di kota tempat Syibilla berasal.
Aku belajar banyak dari kota yang tak sebesar Jakarta ini.
Betapa kehangatan, saling sapa juga keramahannya begitu memeluk.
Aku mulai nyaman walaupun tetap merindukan kehidupanku di Jakarta.
Terutama Syibilla.
Gadis itu sejak kemarin merajuk meminta video call. Aku nyaris kehabisan kata untuk menghindarinya.
Jujur aku merasa bersalah sudah terlalu banyak membohonginya.
Jadi kebanyakan kami berkabar dengan privat chat saja.
Sabar ya cantik.
Kamu alasan terbesarku untuk berada disini sampai saat ini.
Senja sudah berganti gelap malam.
Gerimis turun halus membawa sejuk yang memeluk tubuh. Aku menyukai atmosfer malam gerimis di kota kecil ini.
Kabut sedikit turun menyertai.
Jangan ditanya bagaimana dinginnya air yang nyaris membuatku beku saat pertama kali terpercik.
Suara notifikasi ponselku berbunyi.
Aku mengambil benda pipih yang tergeletak di dekat meja ranjang.
Mungkin sebiah pesan dari Melvin, Tasya, mama, atau Syibilla tebakku.
Tapi sebuah nama yang terpampang membuat mataku membola.
Kaget beneran guys.
KAMU SEDANG MEMBACA
Those Eyes
Fiksi Penggemar" Diam adik kecil! Tangismu ga ada gunanya! " desis pemuda itu saat tangan kanannya mencengkeram erat pipi mulus seorang gadis yang sudah meleleh ketakutan persis di hadapannya. " Semua gara² kamu! " lanjut pemuda itu memberikan senyuman smirk yang...
