NAURA
Aku langsung mendesah lega begitu sampai ruanganku. Kulepaskan higheels lalu menggantinya dengan sandal bulu nyaman dan merebahkan badan di sofa. Lelah ada kata yang paling tepat untuk menggambarkan keadaanku sekarang.
Seharian ini aku banyak bertemu klien, mendengarkan keluhan dan keinginan mereka membuatku lelah secara mental. Terlebih banyak artis yang mulai tertarik memakai rancanganku di tengah-tengah aku mulai menerima pesanan bridal gown. Baru-baru ini, couture gown yang kubuat dilirik oleh salah satu penyanyi terkenal Amerika untuk konser World Tour-nya. Berkat itu, makin banyak klien yang menghubungiku.
Sebenarnya baik bridal maupun couture gown punya tantangannya sendiri. Bridal gown aku lebih banyak mendengarkan keinginan klien dan menyesuaikan dengan karakteristik mereka agar saat hari bahagia itu, gaun tersebut dapat merepresentasikan diri mereka. Sedangkan untuk couture gown, aku berimajinasi sendiri sesuai dengan apa yang kuinginkan. Sama seperti Barra yang bisa mendekam di dalam studio-nya berhari-hari. Aku pun begitu ketika mengerjakan couture gown. Apalagi lagi aku sangat gila dengan detail. Aku akan mencoba banyak teknik untuk mendapat hasil yang memuaskanku.
Actually, industri fashion tidak semudah kelihatannya. Orang-orang banyak salah paham dengan fashion designer karena penampilan kami yang fashionable dan on point. Padahal ketika sedang bergelut dengan kreativitas, keadaan kami tidak selalu serapi itu. Lagipula, bagaimana klien mau percaya jika kami tidak memiliki personal branding sebagai fashion designer?
Baru sepuluh menit aku memejamkan mata beristirahat, suara ketukan pintu serta derap langkah kaki yang mendekat membuatku terpaksa kembali membuka mata. Kintan datang untuk mengingatkan soal meeting dengan tim marketing.
"Lima menit lagi ya, Kin. Saya mau istirahat sebentar."
"Baik, Mbak." Kintan menjawab cepat. Lalu pamit undur diri.
Barra bilang sekali-kali aku harus mulai percaya pada kemampuan Kintan agar tidak semuanya aku kerjakan sendiri. Jujur saja, aku sangat picky dalam memilih designer. Tidak banyak yang mampu bertahan bekerja denganku. Hanya Kintan yang selama dua tahun ini tahan akan komentar pedasku setiap kali ia menunjukan desain yang ia buat.
Bukannya aku meremehkan kemampuan Kintan karena dia tidak pernah kuliah fashion di luar negeri. Tapi aku ingin Kintan manjadi sosok yang tahan banting. Industri fashion lebih kejam dari yang terlihat. Aku sudah melihat perkembangan Kintan. Hanya menunggu waktu, aku yakin Kintan akan memiliki kesempatan lebih besar suatu saat nanti.
Mataku terbuka setelah lima menit berlalu. Aku pun menurunkan kaki. Memakai lagi higheels tujuh centi yang cukup menyiksa kakiku. But what can I do? Tubuhku yang tidak terlalu tinggi membuatku lebih percaya diri ketika menggunakan higheels. Padahal aku sudah sering mengeluhkan nyeri tumit. Namun tetap saja, setiap hari aku bertahan dengan benda itu.
Meeting dilakukan di lantai satu. Soal strategi penjualan biasanya aku tidak terlalu banyak ikut campur. Aku menyadari aku tidak expert di bidang marketing. Walaupun begitu, setiap keputusan baru dieksekusi setelah mendapatkan suara dariku. Karena sekali lagi, aku orangnya detail dan perfeksionis. Aku tidak suka sesuatu tidak berjalan sesuai dengan apa yang kuinginkan. Sebab itu, pagelaran fashion show kemarin membuatku cukup stres.
"Okay. Kalau gitu kita pakai ide Tiwi ya. Nanti Tiwi langsung ke Kintan aja." Aku mengakhiri meeting itu. Tidak bisa berlama-lama karena aku masih banyak pekerjaan.
Aku melangkahkan kaki keluar dari ruangan, berniat kembali ke atas untuk menyelesaikan pekerjaanku. Dipastikan hari ini aku akan lembur. Dan ... oh shit! Aku lupa sudah menjanjikan dinner dengan Barra hari ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bittersweet Love
CintaLavanya Naura Sastrawijaya dan Alfarezi Barra Salim terlibat hubungan rumit. Mereka telah mengenal satu sama lain sejak kecil. Akan tetapi baru benar-benar dekat setelah Naufal menjadi jembatan yang menghubungkan mereka berdua. Ketiganya bersahabat...
