NAURA
Gimana kalau kita nikah.
Kalimat itu kembali bergema di kepalaku ketika aku duduk sendirian di pantry sembari menyeruput kopi. Aku bangun pukul lima pagi. Diam-diam melepaskan diri dari pelukan Barra lalu mengambil pakaianku di dalam lemari—sebab, yeah, you know gimana keadaan pakaianku sekarang. Melanjutkan kembali pekerjaanku yang tertunda semalam.
Setelah memeriksa laporan, aku tidak kembali ke kamar. Tidur Barra nyenyak sekali. Mungkin aku akan mandi di kamar tamu agar Barra bisa tidur dengan tenang. Sepertinya dugaanku benar soal Barra yang sedang banyak pikiran. Selain karena dia lebih agresif semalam. Ajakan menikahnya begitu mendadak.
Bukan berarti aku tidak mau menikah dengan Barra. Hanya saja, banyak yang harus kami perbaiki sebelum melangkah ke jenjang yang lebih serius. Selain itu, aku merasa ini bukan waktu yang tepat buat kami menikah. Aku tidak ingin melakukan sesuatu diburu-buru dan tanpa perencanaan yang matang.
"Naura,"
Panggilan dengan suara serak itu membuatku menoleh. Aku tersenyum melihat Barra mendekatiku dengan wajah terkantuk. Rambutnya acak-acakkan. Cowok itu berjalan hanya mengenakan bokser sehingga tanda-tanda merah di sekujur tubuhnya cukup menarik perhatianku. Seliar itu kah kami semalam?
"Hey," sapaku ketika Barra memelukku dari belakang. Posisiku yang sedang duduk membuatnya membungkuk. Kurasakan bahuku memberat akibat Barra yang menaruh kepalanya di sana.
"Kenapa bangun pagi banget, Nau?" tanyanya.
"Aku meriksa laporanku, Barra. Pagi ini kan aku ada meeting." Kuusap lengannya yang melingkar di atas dadaku. "Kenapa?"
"Aku nyariin kamu."
"Here I am."
"Makanya aku di sini," Barra mengencangkan pelukannya. Sementara aku khawatir punggungnya pegal karena berada di posisi ini terlalu lama. "Kamu mikirin apa?"
"Hm?" mataku mengerjap karena kami sempat terdiam beberapa saat.
"Soal lamaranku ... " Barra mengambil jeda sebentar. "Nggak usah terlalu kamu pikiran."
"Barra."
"Tapi aku serius mau menikah sama kamu." Sambungnya lugas. "Kamu mungkin berpikir aku impulsif. Aku nggak impulsif, Nau. Kamu satu-satunya cewek yang ada di hatiku aku sepuluh tahun ini. Aku nggak butuh waktu lebih banyak lagi buat yakin sama kamu."
"Bukannya aku nggak yakin sama kamu, Barra." Sergahku yang kali ini memutar badan—dekapan Barra otomatis terlepas. Cowok itu kembali meluruskan punggungnya. Tatapannya mengarah ke bawah, padaku. "Cuma ini terlalu cepat buat kita. Pelan-pelan aja ya. Aku nggak akan kemana-mana kok."
Aku tahu Barra tidak puas dengan balasanku. Mungkin sebelum aku tahu betapa besarnya perasaanya padaku—aku bakal terkejut mendengarnya memikirkan pernikahan. Barra nampak tidak pernah tertarik dengan relationship. Apalagi menikah. Meskipun aku bisa melihat dan merasakan dia sangat menyayangiku—still, pernikahan tidak bertahan hanya karena rasa kasih sayang.
"Anything you want," seperti yang kuduga. Barra akan mengalah. Dia mendekat. Menarik kepalaku hingga bersandar di dadanya. '"Selama kamu nggak kemana-mana dan tetap di sampingku. Aku bisa menunggu kamu siap menikah selama apapun itu."
"I don't want to make you wait again."
"So don't make me wait too long."
***
Aku sudah cukup lama mengenal Ela untuk tahu bagaimana keluarganya sekarang. Setelah orang tuanya bercerai karena ayahnya ketahuan selingkuh, Ela memilih tinggal dengan ibunya. Baru ketika dia lulus sebagai sarjana kedokteran, Ela memutuskan untuk keluar dari rumah ibunya dan hidup mandiri di apartemen. Namun sebulan sekali, Ela selalu menyempatkan waktu untuk mengunjungi ibunya yang tinggal di daerah Tangerang Selatan sendirian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bittersweet Love
RomanceLavanya Naura Sastrawijaya dan Alfarezi Barra Salim terlibat hubungan rumit. Mereka telah mengenal satu sama lain sejak kecil. Akan tetapi baru benar-benar dekat setelah Naufal menjadi jembatan yang menghubungkan mereka berdua. Ketiganya bersahabat...
