NAURA
Kurapikan poniku setelah memencet bel apartemen Barra. Tak lama pintu terbuka, menampakan sosok tinggi dan tegap Barra yang sudah wangi dan rapi. "Kamu kan udah tahu kode akses apartemenku," ia mengernyit heran seraya membuka pintu lebih lebar.
"Sengaja biar dibukain kamu." Cengirku.
Barra tersenyum. Merangkul bahuku lalu mencuri kecupan di sudut bibirku. "Cantik banget," katanya sembari memberi tatapan manis.
Aku membuang muka. Tak ingin menunjukkan wajahku yang tersipu. "Pagi-pagi udah gombal." Dengusku kemudian menarik stool dan duduk di sana. "Aku penasaran gimana cara kamu ngambil hati Mamaku. Kamu nggak mungkin gombalin Mamaku dan bilang 'Tante cantik banget pagi ini'."
Cowok itu terkekeh. "Aku bakal ditonjok Papa kamu kalau berani gombalin Mama kamu kayak gitu." Mengambil dua gelas mug yang berisi kopi, Barra melanjutkan. "Aku cuma nunjukin ketulusanku," Barra menaruh satu gelas mug di hadapanku. "Coffee latte less sugar."
"Thanks," ucapku seraya menyeduh kopi buatan Barra yang sesuai permintaanku pagi ini.
Yeah, aku pulang ke apartemenku sendiri kemarin malam sebab seperti yang kuduga. Mama menelponku dan memastikan aku tidak nakal dan bermalam di apartemen Barra. Walaupun bisa saja aku berbohong, aku tidak ingin melakukan di saat Mama baru saja melunak. Barra juga mengkhawatirkan hal yang sama sehingga dengan berat hati mengantarkanku ke unit apartemenku dan melepaskanku dengan ciuman perpisahan di depan pintu.
Aku membuka iPad, memeriksa schedule-ku hari ini yang cukup padat. Ada beberapa meeting di jam sepuluh pagi, dua siang, dan empat sore. Kesuksesan pagelaran fashion show membuatku kebanjiran ajakan kolaborasi. Itu kesempatan yang bagus dan sayang untuk kutolak.
"Many schedules, huh?" aku menoleh. Mendapati Barra menopang dagu melirik iPad-nya sebentar sebelum bertatapan denganku.
"Indeed." Anggukku. "Kamu hari ini mau ngapain aja?"
"Not much." Barra mengangkat bahunya. "Pagi ini mau golf sama Papa kamu. Mungkin siang nanti aku brunch sama Baskara. Terus di studio sampai malam."
"Kamu mau aku mampir?"
"Hm?"
"Meeting terakhirku nggak jauh dari studio kamu. Aku bisa mampir terus kita pulang bareng."
"Kamu mau?" mata Barra berbinar antusias.
"Kan aku yang nawarin," kekehku geli.
"Okay then." Barra tersenyum lebih lebar. Menciptakan bolongan di pipi sebelah kirinya. Aku menatap Barra dengan binar. Senang sekali bisa melihat Barra bisa tersenyum selepas dan sebahagia ini. Tanpa bisa menahan diri. Aku mengecup lesung pipinya. Membuat Barra terkesiap lalu menatapku. "What was that?"
"A kiss." Aku menjawab sembari menghindari tatapan dari Barra. Tersipu. Menempel bibirku ke pinggiran gelas mug.
"I know." Barra mencondongkan tubuhnya lebih dekat. Membuat lengan kami bersinggungan. "Tapi kenapa tiba-tiba cium aku?"
"Memang nggak boleh?" aku berusaha santai. Mengerjapkan mata polos ketika menolehkan kepala menghadapnya. Wajah kami yang hanya berjarak sejengkal tanganku membuatku bisa memperhatikan setiap detail wajah Barra. Mata bulatnya, hidung mancungnya, lalu saat berhenti di bibir, aku menelan ludah gugup.
"Boleh," katanya di depan wajahku.
Bola mataku kembali naik ke atas, bersitatap dengan netra hitam pekat milik Barra. Mendadak suasana berubah hening. Cahaya matahari pagi yang bersinar di atas kepala kami menciptakan keindahan yang tak terasa nyata. Detik demi detik berlalu. Pandangan Barra perlahan-lahan turun ke bawah, pada bibirku bersamaan dengan wajahnya yang mendekat, semakin dekat sampai aku menahan napas lalu memejamkan mata saat sesuatu yang lembut mengusap bibir bagian atasku singkat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bittersweet Love
RomanceLavanya Naura Sastrawijaya dan Alfarezi Barra Salim terlibat hubungan rumit. Mereka telah mengenal satu sama lain sejak kecil. Akan tetapi baru benar-benar dekat setelah Naufal menjadi jembatan yang menghubungkan mereka berdua. Ketiganya bersahabat...
