Sebuah daerah di tengah Jawa Tengah, menarik perhatian Dony untuk datang mengunjunginya. Dony, seorang fotografer dari ibukota yang menyukai warna masa lalu. Daerah ini memiliki jejak cerita masa lampau yang panjang dan memukau. Jejak warnanya akan...
Lala melirik si badak lembut di sebelahnya, malah tertangkap mata teduh Dony yang sedang memperhatikannya. Lala kikuk, mengambil sewadah klepon, lalu memakannya.
Klepon di wadah daun pisang itu berisi 5 bola kecil berselimut ampas. Lala melahap habis satu wadah klepon. Dony senyum-senyum melihat kelakuan cewek aneh itu. Katanya kenyang?
"Apa?!" tanya Lala ketus tanpa suara saat Dony tersenyum melihat pipi cewek itu penuh.
Dony menggeleng. Senyum tengil tidak lepas dari bibirnya yang mengulum sebatang rokok. Dia menahan gemas, pipinya sampai pegal.
Semakin siang warung itu semakin ramai. Makanan di meja juga bertambah sate telur, sate usus dan bacem tahu. Tempat itu jadi semacam tempat berjualan pembuat makanan, saling support. Usaha akar rumput untuk saling berbagi penghidupan.
Hp Dony bergetar di kantongnya, ada telepon. Cowok itu keluar dari warung untuk mengangkat panggilan di hp-nya. Lala memperhatikan cowok itu, seperti tidak santai. Iya cowok lembut itu seperti mengerutkan keningnya. Saat Dony mendapati Lala memperhatikannya, dia melangkah lebih jauh supaya tidak terlihat.
Lala membungkus dua wadah klepon, dan ketan. Ketan ini tidak seperti jadah, tapi nasi ketan dengan taburan ampas, ada yang asin ada yang manis. Lala mengambil masing-masing dua. Setelahnya cewek itu mengeluarkan selembar uang seratus ribuan, membayar, semuanya, termasuk yang Dony makan. Iya, cewek itu diam-diam memperhatikan apa yang Dony makan. Kali ini dia mentraktirnya, itung-itung ucapan terimakasih.
Lala keluar dari warung itu, tidak enak berlama-lama disana karena semakin banyak yang datang. Cewek itu membawa tas bahu yang ditinggalkan pemiliknya, Dony. Lala menengok kanan dan kiri mencari sosok Dony. Tidak ada. Lala bingung, cowok itu menjauh saat menerima telepon, ngapain coba?
Lala hanya berdiri menunggu, memegang sekresek kecil makanan yang ia beli. Tangannya terlipat di depan dada. Sedikit kesal karena cowok yang bersamanya tiba-tiba menghilang. Sok misterius. Lala juga tidak ingin tahu menahu urusan cowok itu.
10 menit Lala berdiri menunggu saat Dony menunjukkan batang hidungnya dari arah kanan.
"La, sorry," ucap Dony setelah dekat dengan Lala.
Sorry untuk apa? Sorry untuk hal yang tidak jelas, buat apa. Lala menyerahkan tas bahu milik Dony.
"Lama ya nunggunya? Eh, gue bayar dulu," ujar Dony mengeluarkan dompet dari tas bahunya.
"Udah kok," ujar Lala.
"Ya udah, ini gue gantiin, berapa?"
"Udah nggak usah," Lala menolak pelan.
"La, jangan gitu lah," Dony tidak enak karena dialah yang mengajak sarapan.
Lala diam menatap cowok itu. Matanya yang membulat menunjukkan kekesalannya. Dasar singa betina.