"Mas..." ucap Lala tercekat sedikit sebelum pertanyaan on pointnya. "Lo deketin gue ya?"
Dony menatap Lala dalam dengan mata teduhnya. Lalu menjawab, "Iya."
Lala tercekat, dia kebingungan sendiri harus menimpali bagaimana. Dia pikir Dony akan mengelak seperti sebelum-sebelumnya. Iya, dia pikir. Terus kalau Dony jawab gini dia mesti bilang apa?
"Hahaha..." Lala malah tertawa, mengelak, "Cowok gamon kok berani-beraninya deketin gue," kilah Lala.
"Siapa si yang gamon?" ujar Dony, membenarkan letak duduknya. Mencari lokasi garasi bis yang akan Lala naiki di aplikasi peta, lalu ia melajukan mobilnya.
Lala tidak menimpali lagi. Gagal move on, pelarian, beda kasta, garis demarkasi. Lala menguatkan bentengnya sendiri. Kemungkinan-kemungkinan itu disebutkan dalam hatinya untuk menguatkan pertahanannya. Dia belum tau realitas sesungguhnya Dony seperti apa.
Iya, Dony sudah mengganti foto di layar hp-nya, tapi kan belum tau maksudnya apa. Bisa saja cowok itu ingin dekat dengan Lala dan menjadikan pelarian semata, bukan? Ingat, baru 10 hari, dan kurang dari sepuluh hari, cowok itu baru mengganti foto di layar hp-nya.
"La, kemarin kan gue udah nemenin Lo, gantian dong," rajuk Dony.
"Idih, pamrih Lo. Gue mesti siap-siap ditagih membalas kebaikan-kebaikan Lo nih?"
Dony terdiam. Nggak gitu...
"Eh, gue jadi inget," ujar Lala. Cewek itu mengeluarkan amplop putih dari pouch merahnya. Menyodorkan amplop itu ke Dony, "Ini dari ibu."
"Apa itu?"
"Itu ibu nitip ganti uang untuk Bulik Wati kemarin," terang Lala.
"Nggak usah, La," tolak Dony.
"Gue tau Lo kaya, tapi ini dari ibu. Kalau utang gue, gue belum bisa bayar," ujar Lala.
Dony tidak juga menerima amplop itu, "La, gue ikhlas, gue ga minta Lo balikin."
"Ye, baru aja Lo minta balasan karena udah nemenin gue." ucap Lala. Karena amplopnya tidak kunjung diterima Lala meletakkannya di konsol dekat persneling, begitu saja.
"Nggak gitu, La. Ya gue pengen ditemenin aja. Bakal sepi banget ke Jogja sendirian."
"Bukannya udah biasa Lo sendirian?"
"Iya, tapi udah semingguan ada yang nemenin, kayaknya rasanya bakal aneh aja gada yang bawel,"
Mereka baru saja melewati pertigaan dimana ada warung jadoel. Mereka belok ke arah kiri. Arah terminal. Ke arah garasi bus Safari Dharma Raya. Dony membawa mobilnya pelan. Santai saja, karena keberangkatan masih sekitar satu jam lagi.
"Lo ngapain mau balik Jakarta?"
"Karena Lo balik," ujar Dony.
"Eh?" lagi-lagi Lala dibuat terkejut dengan jawaban Dony.
"Bercanda, gue ada kerjaan. Kemarin-kemarin gue tolak karena ga tega Lo belum ketemu nyokap Lo. Tapi kemarin gue ditelpon lagi, tadi gue putusin ambil kerjaan itu," terang Dony.
"Oh," Lala mendengar ketulusan Dony yang mau menemaninya mencari ibunya.
Lala melihat aplikasi peta di hp Dony yang diletakkan di atas kaca speedometer. Lokasi garasi bus sudah dekat. Cowok itu sudah membantunya berhari-hari. Dony cuma minta ditemani pulang ke Jakarta. Saat itu Lala merasa bersalah karena sudah menolak ajakannya tadi. Pun Dony yang akan bayar tiketnya.
Sekedar balik bareng bukan berarti runtuhnya benteng pertahanan bukan? Lala tidak mau terburu-buru, meski sudah tau Dony memang mendekatinya. Sebuah sikap menunda, untuk mengetahui lebih dalam terlebih dahulu. Sikap supaya tidak mudah terbawa emosi semata.
KAMU SEDANG MEMBACA
Warna Bianglala [END]
RandomSebuah daerah di tengah Jawa Tengah, menarik perhatian Dony untuk datang mengunjunginya. Dony, seorang fotografer dari ibukota yang menyukai warna masa lalu. Daerah ini memiliki jejak cerita masa lampau yang panjang dan memukau. Jejak warnanya akan...
![Warna Bianglala [END]](https://img.wattpad.com/cover/356953909-64-k793863.jpg)