COMPLEMENT - 10

30.9K 1.6K 16
                                        

Haloo👋

Happy Reading 😊

Jangan lupa vote dan komentarnya yaa

.

.

.


Arash menyalakan kran air untuk mencuci tangannya yang kotor setelah melakukan peletakan bata secara simbolis yang menandakan dimulainya pembangunan. "Pak," panggil sekretarisnya pelan. Arash hanya meliriknya sekilas. "Pak Uki sudah tiba di hotel tempat Bapak menginap." Salah satu agen personal investigator itu baru saja tiba di tanah air. Fredy sudah membuat janji temu dengannya dua hari lalu namun baru bisa terlaksana hari ini. Arash mematikan kran airnya, Fredy dengan sigap menyodorkan sapu tangan pada atasannya. "Festival musik nanti, tepatnya jam berapa gadis itu akan naik panggung?" tanya Arash yang sudah menghadap penuh ke Fredy. Fredy bergumam pelan sebelum menjelaskan kepada atasannya jika nama penyanyi yang dimaksud diduga batal manggung karena namanya tiba-tiba saja dihapus dari daftar pengisi acara.

Apa terjadi sesuatu pada gadis itu? Rasanya tidak mungkin jika EO yang membatalkannya secara tiba-tiba. Dari berita yang dibacanya tentang Zea Arundati juga tidak pernah ada yang menuliskan jika sang artis tidak profesional. Nomor si penyanyi juga masih belum bisa dihubungi sampai saat ini. Sedangkan nomor manajernya juga tidak ada respons ketika dihubungi. Sekretarisnya sudah mencoba menghubungi agensi yang menaungi sang penyanyi namun hasilnya juga sama nihilnya.

Lelaki berkemeja abu-abu itu sudah duduk di bangku penumpang yang ada di belakang. Tangannya sibuk mengutak-atik komputer tablet membaca email yang harus segera diperiksanya. "Langsung ke hotel 'kan Pak?" tanya orang dibalik roda kemudi. "Ya," jawab Arash tanpa mengalihkan pandangannya.



***



Berbeda dengan orang pada umumnya. Kedua manusia yang telah resmi bercerai itu nampak jelas bahagianya dengan status baru yang ditetapkan oleh hakim beberapa menit yang lalu. Keduanya memasuki mobil yang sama dengan tujuan untuk makan siang bersama guna merayakan selesainya sidang perceraian yang dijalani. Rimaldi mulai melajukan mobilnya keluar dari pengadilan agama. "Selamat," ucapnya melirik sekilas wanita yang duduk disampingnya. Sang wanita balas dengan geleng-geleng kepala, "seneng banget ya kamu janin yang aku kandung udah nggak ada?" tanyanya setelah melihat sang mantan suami yang tersenyum dengan ikhlas. Beberapa bulan menjadi istrinya, Susan belum pernah melihat Maldi tersenyum selepas dan seikhlas itu. "Kamu tahu sebesar apa aku kehilangan dia," balas Maldi dengan menekan setiap kata yang keluar dari mulutnya. Dia tidak setuju dengan apa yang terlontar dari mulut Susan. Walaupun Maldi tidak mencintai sang istri namun dia sangat merasa kehilangan sewaktu Susan harus mengalami keguguran. Semua orang di kamar rawat inap Susan kala itu juga tahu semarah apa Maldi kepada Susan yang telah lalai menjaga dirinya sendiri.

Keduanya memang tidak ada yang menghendaki pernikahan itu. Baik Maldi maupun Susan memang sangat ingin pernikahannya segera berakhir. Tuhan memang mengabulkan keinginan mereka namun keinginan itu harus dibayar dengan kehilangan mahluk yang kehadirannya bisa menyatukan Maldi dan Susan dalam ikatan pernikahan.

Dari awal Rimaldi sudah memiliki pujaan hati. Dia dan wanita yang dicintainya baru saja sepakat untuk menjalin hubungan dengan tujuan yang serius. Namun, semua itu hanya rencana. Tuhan menakdirkan dia harus menikahi Susan walaupun pernikahan mereka hanya seumur jagung. Susan sendiri dengan terpaksa harus menjadi istri Rimaldi karena kehamilannya yang diketahui oleh keluarga Salim. Sebenarnya Susan sangat bersyukur memiliki suami seperti Rimaldi karena semua kebutuhannya tercukupi bahkan lebih tanpa harus bekerja. Akan tetapi dia adalah wanita yang bebas, tidak suka dengan banyaknya aturan dari keluarga Salim yang harus dipatuhinya.

COMPLEMENTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang