COMPLEMENT - 52

19.4K 1.1K 21
                                        

Haloo👋👋

Happy Reading 😊

Jangan lupa vote dan komentarnya yaa 🌟❣️

.

.

.

 



"Ndaa ... " Lembut suara Arash samar-samar terdengar di telinga Zea. Elusan jempol pria itu terasa di pipinya. "Bangun, Nda. Ayo, jamaah dulu." Suara Arash kembali terdengar sehingga membuat Zea perlahan membuka matanya yang masih terasa sangat berat. Selain masih mengantuk, matanya juga masih sembab akibat dari menangis semalaman. Entah pada pukul berapa Zea tertidur. Dirinya pun tidak tahu. Semalaman Zea hanya bisa menangis tersedu karena perbuatan suaminya.

"Aku minta maaf, Nda. Aku enggak akan berkilah, semalam aku memang salah. Aku menyesal banget udah bertindak seperti itu ke kamu. Kamu mau maafin aku 'kan?" Raut sedih sangat terpancar jelas di wajah Arash. Namun, Zea hanya mentapnya datar. Tidak ingin menanggapi kalimat yang keluar dari mulut pria yang berjongkok di hadapannya.

Sepertinya Arash juga tahu diri untuk tidak memaksa Zea memaafkannya saat ini juga.
"Aku udah siapin baju buat kamu. Mau sholat di sini atau di kamar kita?" tanya Arash kemudian karena Zea yang hanya diam setelah sekian menit berlalu dan mengalihkan pandangan tidak ingin memandang wajah suaminya.

"Kamar," jawab Zea singkat lalu bangun dari tidurnya. Tangan Arash yang terulur untuk membantu sang istri bangkit ditepis pelan.

Arash menghela napas panjang dan beranjak mengikuti sang istri ke kamar mereka.

"Baju kamu ada di atas kasur, Nda. Selagi menunggu kamu ganti dan wudhu, aku siapin alat sholatnya ya," ujar Arash yang lagi-lagi tidak mendapat respon dari istrinya. Arash penuh kebingungan harus melakukan apa agar sang istri bisa memaafkannya. Bisa-bisa pria itu dilanda frustasi jika tidak secepatnya mendapat maaf dari Zea. Arash lebih memilih untuk menghadapi Zea yang sering membantah atau pun membentaknya dari pada harus menghadapi Zea yang mendiamkannya. Ketika selesai sholat pun Zea tidak menyalaminya seperti biasa. Arash mendapati Zea yang sudah kembali bergelung di balik selimut tebalnya ketika Arash memutar tubuhnya. Arash mencoba untuk memberikan Zea waktu. Dia sadar ini adalah akibat dari tindakan cerobohnya. Arash akan menunggu waktu yang tepat untuk bisa berbicara dengan sang istri.

***

Hari ini Arash tidak ada jadwal meeting atau pun menemui klien di luar kantor. Agendanya hari ini hanya mengecek semua laporan yang ada di atas mejanya. Pikiran Arash sedari tadi pagi tidak bisa fokus. Di kepalanya hanya ada pertanyaan; bagaimana caranya agar sang istri mau memaafkannya? Berhubung sebentar lagi sudah waktunya makan siang, Arash memilih untuk pulang ke rumah untuk menemui Zea. Seingatnya hari ini Zea tidak ada agenda apa pun. Setelah menjadi istrinya, Arash memang meminta Zea untuk mengurangi jam kerjanya dan tidak menerima job di luar kota jika dirinya tidak bisa menemani. Dari lubuk hati terdalamnya, Arash menginginkan istrinya untuk tidak bekerja. Untuk menjadi ibu rumah tangga saja. Namun, Arash tahu jika istrinya sangat mencintai dan menikmati profesinya. Oleh sebab itu, Arash tidak tega juga untuk meminta Zea berdiam diri di rumah saja.

"Gimana? Udah dapat jawaban dari Andhis?" tanya Arash ketika sekretarisnya sudah berdiri tepat di hadapannya.

"Barusan saya telepon Mas Andhis, Pak. Katanya, Bu Zea masih ada meeting di kantor agensi untuk proyek iklan. Dan setelah meeting selesai, Ibu minta di antar ke rumah orang tuanya."

"Arunda masih marah? Dia ada bawa-bawa koper nggak?"

Fredy menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Emm .. saya sendiri tidak tahu-menahu soal perasaan Ibu, Pak. Saya juga enggak bertanya ke Mas Andhis tentang barang bawaan Ibu."

COMPLEMENTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang