8. Fine Moving Forward

65.6K 5.4K 188
                                        

"Final design already sent, jangan lupa di cetak buat kita serahkan ke Mbak Bya,"

Gendhis melepas kacamata yang sejak pagi ia gunakan, memijat pangkal hidungnya yang mulai terasa lelah.

Khisna mengangguk, perempuan yang sudah merapikan barang-barang yang dirinya bawa itu juga sempat tersenyum sebelum beranjak meninggalkan ruangan kerja Gendhis.

Sudah beberapa hari ini dirinya disibukan dengan revisi desain milik clientnya. Bukan hanya dirinya, Khisna—asistennya—beserta timnya juga ikut turun tangan.

Belum lagi, proyek apartemen yang sedang dirinya pegang bersama tim Mas Feri itu masih berjalan sekitar tiga puluh persen.

Menyandarkan punggungnya, Gendhis sempat menghembuskan nafas dalam. Mencoba kembali menetralkan tubuhnya yang terasa lelah.

Tangannya segera menyahut ponsel yang tergeletak di atas meja. Membuka salah satu aplikasi berlogo kamera.

Matanya mengamati unggahan pertama yang menyapa di bagian paling atas timeline miliknya. Sebuah unggahan yang menampilkan seorang perempuan yang memamerkan sebuah cincin ke arah kamera.

Revina.

Si pemilik unggahan yang sudah beberapa detik membuat Gendhis terdiam.

Ada perasaan aneh yang tiba-tiba mencubit sisi hati Gendhis. Bagaimana seorang Revina tersenyum bahagia dengan latar salah satu pantai, serta sebuah cincin putih tersemat indah di jari manisnya. Tak lupa, Revina juga menandai Catra pada unggahannya.

Perempuan mana yang nggak bahagia dilamar? batin perempuan dengan bibir mengatup itu.

Dengan cepat Gendhis mengetikan sesuatu pada laman komentar unggahan Revi. Sebuah ucapan disertai dengan dua emoticon yang dirinya sematkan pada akhir kalimat.

Sebuah panggilan masuk tepat setelah Gendhis menekan tombol sent pada kolom komentar.

Laras Tedj is calling...

"Mbak gula!" teriakan itu langsung terdengar begitu Gendhis menempelkan ponselnya pada telinga.

Sebuah teriakan yang langsung membuat Gendhis menjauhkan ponsel dan melihatnya. Bisa pecah gendang telinganya. "No need to shout, Ms. Tedjokusumo," ucap Gendhis mendekatkan bibirnya pada speaker.

"Are you ok?" pertanyaan yang langsung memasuki rungu Gendhis setelah kembali menempelkan benda pipih itu pada telinga. Sebuah pertanyaan yang membuatnya mengerutkan kening.

Menggigit pelan bibir bawahnya, Gendhis berusaha menetralkan degup jantungnya. "I'm great, Ras. Ada apa memangnya?" jawab Gendhis dengan sedikit keheranan.

Laras terdengar dengusan pelan di ujung panggilan itu, "I know everything, Mbak Gula. I know about you, your biggest secret, and your unrequited love. So, are you ok with Revi's latest post?" dengan cepat Laras menyambar.

Suara Laras terdengar lebih berhati-hati, sebuah tanda jika saat ini perempuan itu sedang serius dengan obrolan itu. Hal yang membuat Gendhis menggigit bibir bawahnya lebih keras.

"Unrequited love apa sih, Ras?" elak Gendhis mencoba berdalih.

Dengusan Laras kembali mengisi ruang obrolan itu, kali ini diiringi dengan decakan yang dikeluarkan Laras di ujung sana. "Kamu suka sama Catra 'kan?" tanya Laras dengan cukup tegas.

Gendhis bisa membayangkan bagaimana ekspresi Laras sekarang ini, perempuan itu pasti sedang berusaha menahan emosinya.

Panggilan itu tiba-tiba berganti, Laras yang mengalihkannya ke panggilan video. Tentu saja, Gendhis sangat hapal dengan sifat teman baiknya yang satu ini. Tidak sabar.

The StationTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang