Suasana Pendopo besar itu masih cukup ramai dengan hadirnya tamu undangan. Riuh obrolan setiap tamu, canda beberapa orang yang kembali bertemu dengan kenalan mereka, hingga suasana haru beberapa orang lain disana berhasil membuat Gendhis kembali menikmati tugasnya.
Rambutnya sudah tersanggul dengan sebuah kain brukat berwarna hijau yang membalut tubuh rampingnya. Perempuan itu terus saja tersenyum menyapa tamu undangan disana.
"Mbak Gendhis, dipanggil sama Mbak Diaz," suara lirih seorang perempuan dengan kemeja hitam itu berhasil membuat Gendhis mengalihkan perhatiannya. "Saya sampai puterin satu pendopo tau, Mbak," lanjutnya setelah membalas seseorang yang berbicara melalui ht hitam di tangannya.
Gendhis kembali tersenyum, "maaf ya, Mbak... haus banget soalnya," balasnya dengan nada bersalah. "Ternyata capek juga jadi penerima tamu tuh," lanjutnya tertawa pelan.
Perempuan dengan name tag bertuliskan 'Askia' itu mengangguk dengan senyum tipis. "Masih jadi penerima tamu, belum jadi yang punya hajat ya, Mbak," jawabnya dengan tawa pelan.
Mendengar balasan itu, Gendhis langsung menggelengkan kepalanya. Perempuan itu bahkan langsung memasang wajah enggan, "jangan dulu deh, belum siap aku kalau harus berdiri disana berjam-jam," sahutnya menunjuk area lain di bagian utama Pendopo.
"Cantik banget memang, tapi sanggul dan segala perintilannya sepertinya belum masuk ke dalam bucket listku, Mbak Ki," imbuhnya melihat kegiatan beberapa orang disana.
Gendhis bisa melihat seorang laki-laki seumuran Ayah dengan sebuah beskap cream tengah menyalami kedua mempelai disana. Perempuan itu bahkan lebih memilih berdiri disana menonton bagaimana tamu itu terlihat akrab dengan Sekha dan Diaz.
Kedua sudut bibir Gendhis terangkat ketika seorang perempuan seumuran Bunda tersenyum ke arahnya, perempuan dengan kebaya berwarna biru yang ikut naik ke pelaminan bersama laki-laki dengan beskap cream tadi.
Ah, rasanya Gendhis tidak bisa berhenti untuk mengagumi bagaimana tamu-tamu keluarga Diaz disana. Seperti dugaannya, mengingat siapa kakak iparnya tersebut.
Lihatlah, bagaimana rapinya penampilan para tamu. Tidak sedikit dari para tamu undangan perempuan yang datang dengan rambut tersanggul rapi serta memakai kebaya. Sangat mengagumkan, meskipun ini bukan kali pertamanya menghadiri acara pernikahan.
Gendhis mengangguk pelan ketika matanya tidak sengaja menangkap Ayah yang menunjuk ke arahnya dengan sebuah senyum bangga. Tak lupa, bagaimana Gendhis juga tersenyum kepada dua orang lain yang tersenyum melihatnya.
"Mbak Gendhis, mau disiapkan apa sama tim?" tanya pelan Askia berhasil membuat Gendhis lebih dulu mengakhiri kontak mata. "Saya minta tim buat siapkan makanan dan cemilan buat Mbak Gendhis," lanjutnya lebih mendekatkan diri pada Gendhis.
Mengulum bibirnya, Gendhis menggeser pelan posisi tubuhnya. "Apa aja Mbak Ki, yang penting bisa ganjel perut," balasnya pasrah. "Maaf ya Mbak Kia, malah nambah kerjaan ngurusin perutku," sesal Gendhis yang langsung dibalas Askia dengan gelengan.
"Nggak kok Mbak, sudah tugas saya juga. Mari saya temani masuk ke dalam," ucap Askia mempersilahkan Gendhis untuk berjalan mengikutinya.
Iya, ada sebuah ruangan khusus yang disiapkan bagi keluarga mempelai. Sebuah ruang untuk istirahat atau sekedar makan bagi keluarga inti dan kedua mempelai disana.
Gendhis mulai mengikuti gerakan Askia, melewati beberapa tamu lain yang terlihat sibuk dengan kegiatan mereka pada acara resepsi pernikahan Sekha dan Diaz.
"Mbak Fi, ayo makan dulu," ajak Gendhis ketika berpapasan dengan Fiona yang berjalan berlawanan dengannya. "Sama aku," lanjutnya menarik tangan Fiona.
Perempuan itu terlihat pasrah ketika tangannya ditarik oleh Gendhis. "Aku temenin, tapi aku nggak makan ya," pasrahnya mulai berjalan beriringan dengan Gendhis.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Station
Lãng mạnBagi Gendhis stasiun bukan hanya sekedar tempat untuk menunggu rentetan gerbong besi yang akan mengantarkannya. Stasiun menjadi tempat untuknya menuju sebuah rasa yang menjadi obat. Stasiun bukan hanya tentang kereta untuk Auriga. Stasiun menjadi se...
