20. Quite Figure Out

51.5K 4.5K 135
                                        

Beskap hitam itu masih menempel sempurna pada tubuh Riga. Bahkan blangkon yang dirinya kenakan juga belum tanggal dari kepala.

Melewati beberapa abdi dalem dan tim organizer yang sedang merapikan Pendopo. Laki-laki itu tersenyum membalas sapaan para pekerja yang mulai sibuk itu.

Para tamu sudah sepenuhnya meninggalkan aula pendopo, hanya tersisa beberapa keluarga Mangkunegaran yang membantu acara tujuh bulanan Sena atau sekedar mengobrol di Pendopo.

Melewati pintu besar yang menghubungkan Pendopo dan selasar, Riga sempat berpapasan dengan seorang abdi dalem yang membawa sebuah keranjang besar. "Hati-hati, Pakdhe," ucap Riga menahan pintu besar itu agar si abdi dalem bisa melewatinya.

Menundukkan kepalanya, si laki-laki paruh baya itu tersenyum. "Matur suwun, Gusti," balasnya sopan.

Tadi, Sena sempat berpesan jika Gendhis menunggu Riga di selasar depan kamar Sena. Pesan yang membuat Riga berusaha untuk sampai disana dengan cepat.

"Nah, ini dia yang ditunggu,"

Suara Budhe Arum lebih dulu menyapa pendengaran Riga. Budhenya itu bahkan tersenyum cukup puas melihat Riga mendekat.

Keduanya berpapasan ketika Budhe berjalan menjauh, sepertinya akan kembali ke kamar.

Tidak hanya Budhe disana. Ada Mbak Sena, Ibu, Alicia, dan beberapa perempuan keluarga lain yang duduk bersama Gendhis. Syukurlah, setidaknya Gendhis tidak sendirian disana.

Ibu lebih dulu beranjak, tersenyum tipis menatap wajah Riga yang terlihat tegang. "Ngobrol di taman samping kamar Ibu aja, Mas. Disini banyak orang lewat," suara lirih Ibu dengan sangat tenang.

Riga tersenyum dan mengangguk pelan, "terima kasih, Bu," ucapnya pelan membalas tatapan lembut Ibu.

Laki-laki itu beralih, menatap gerombolan perempuan yang masih terlihat saling bertukar cerita.

"Boleh aku bawa Mbak Gendhisnya?" tanya Riga yang langsung mendapat sorakan dari perempuan-perempuan disana. Laki-laki itu hanya tersenyum tipis, menatap Gendhis.

Sepertinya Riga benar-benar menjeda obrolan menarik mereka, sebuah hal yang membuat Riga sedikit lega sekali lagi karena Gendhis terlihat cukup santai berada di antara anggota perempuan Mangkunegaran.

Perempuan yang dipanggil namanya itu berdiri, tak lupa mengucapkan permisi sebelum berjalan mendekat ke Riga.

"Ayo," ajak Riga menggeser tubuhnya guna memberi kode agar Gendhis berpindah ke sampingnya.

Gendhis sempat membalikkan tubuh guna membalas celotehan Alicia dan sepupu Riga yang lain. Tentu saja mereka terus menggoda Gendhis dan Riga disana.

Keduanya berjalan beriringan, menjauh dari area selasar dan masuk ke selasar lain di dalam Mangkunegaran. Melewati beberapa ruang yang menjadi kamar tidur para keluarga Mangkunegaran.

Tak ada obrolan yang keluar dari keduanya, hanya suara helaan napas lembut yang saling beradu bersama langkah kaki yang masuk semakin dalam menyusuri area istana luas itu.

"Duduk, Mbak," pinta Riga mempersilahkan Gendhis, laki-laki itu menunjuk sebuah kursi kayu lebar yang menghadap ke arah taman.

Laki-laki itu tersenyum tipis menatap wajah Gendhis, "Mbak Diaz pulang?" tanya Riga setelah menyadari tidak adanya Diaz di selasar tadi.

Kepala Gendhis mengangguk, masih dengan senyum tipis terpatri di wajah cantiknya. "Iya, mau jemput Mas Sekha juga di Balapan. Kasian juga Zio cuma sama Mbaknya di rumah," balas Gendhis menjelaskan.

Kepala laki-laki itu terangguk, paham dengan penjelasan perempuan yang sudah duduk dengan tenang itu.

Segera menyusul, Riga ikut mendudukkan dirinya pada sisi kosong di samping Gendhis. "Maaf karena udah buat Mbak Gendhis bingung," lirih Riga tak ingin membuat Gendhis semakin larut.

The StationTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang