Suara riuh tepuk tangan orang-orang yang mengobrol masih mengisi ballroom besar itu. Hampir semua tamu undangan disana berdiri, memberi tepuk tangan setelah Mariana Tunggadewi resmi membuka acara Temu Kain Nusantara.
Mengenakan kebaya kutubaru berwarna baby blue dan rok batik berwarna biru tua. Perempuan itu membiarkan rambut panjanganya tertata sederhana dengan clean textured bun.
Siang ini Gendhis menghadiri sebuah acara yang menjadi kolaborasi antara Kementerian Kebudayaan bersama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Sebuah acara yang menjadi wadah pameran sekaligus pasar raya bagi penggemar kain tradisional di seluruh Indonesia.
Bukan hanya batik yang ada disana, tapi juga berbagai jenis kain tradisional dari seluruh pelosok negeri ikut dipamerkan pada acara tersebut. Ada kain songket, kain tenun toraja, hingga kain ulos Batak juga ikut andil dalam acara tersebut.
Datang mendampingi Amerti Panca-istri Irwanda Soedjatmiko-Gendhis tak henti-hentinya menebar senyum hangatnya. Terlebih banyaknya pengunjung yang juga mengenalnya dan meminta waktu untuk berswafoto bersama.
Ini bukan kali pertama atau event pertama bagi Gendhis selama menjadi istri seorang Auriga. Entah sudah berapa banyak event lain yang dirinya hadiri dengan atau tanpa hadirnya Riga sejak pernikahan mereka setengah tahun lalu.
"Kalau Mbak Gendhis sih nggak usah ditanya ya kalau perkara batik,"
Mariana tersenyum tipis, perempuan enam puluhan tahun itu bahkan menatap Gendhis lembut disana.
"Kalau yang satu ini sepertinya memang gudangnya batik cantik, Bu Riana," balas Amerti mengelus lengan Gendhis lembut. "Batik-batik yang dipilih belum pernah gagal soalnya," lanjutnya yang langsung membuat tawa perempuan lain disana terdengar.
Gendhis hanya mampu tersenyum, "saya masih banyak belajar juga, Ibu," ucap Gendhis pelan. "Dan mungkin saya harus mengucapkan terima kasih sama keluarga besar Mangkunegaran yang sangat sabar memberi saya banyak pengetahuan baru serta memberi izin membawa batik-batik bersejarahnya untuk diboyong pada acara ini," lanjutnya.
Kalian tidak salah baca, Gendhis memang membawa beberapa kain batik dari Mangkunegaran sebagai objek pameran di Temu Kain Nusantara. Kain yang memang memiliki cerita dan kenangan penting bagi Pura Mangkunegaran.
Tentu saja, perempuan tiga puluh satu tahun itu tidak asal main bawa kain-kain berharga itu. Tapi, bersama izin yang dirinya dapatkan setelah rundingan dan meminta izin pada keluarga Mangkunegaran.
Ada hampir dua puluh kain batik yang akhirnya berhasil Gendhis boyong. Kain batik yang memiliki beragam motif dan kisah menarik dibalik pembuatan serta cerita di baliknya.
"Emang ya kalau hati, pikiran, dan jiwa udah ditakdirkan untuk sebuah hal itu yang lain pasti akan langsung mengikuti di belakangnya,"
Celetukan itu terdengar diantara riuh ramainya acara yang berlangsung. Gendhis yang mendengar celetukan itu mengembalikan canting yang dipegangnya.
Saat ini, mereka sedang berada di salah satu booth batik dari salah satu sentra batik terkenal di Cirebon. Ketiga perempuan itu sedang sibuk dengan kain putih di tangan mereka, sibuk dengan motif batik mega mendung yang sedang mereka coba selesaikan.
"Ibu, kok saya lagi yang kena," ucap Gendhis yang terus menjadi topik utama candaan Amerti dan Mariana sejak tadi. "Punya Ibu Mariana itu juga cantik sekali padahal," sambungnya dengan nada malu-malu.
Amerti terlihat cukup puas karena kembali berhasil menggoda perempuan muda di sampingnya tersebut. "Loh, hasil batik Ibu memang cantik. Tapi, hasil punya Mbak Gendhis itu njiwani sekali," balas Amerti dengan tangan menekan bagian bawah kain putih miliknya. "Kalau saya jangan ditanya, jiwanya jiwa konsumen bukan produsen soalnya," imbuhnya yang memancing gelak tawa disana.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Station
RomansaBagi Gendhis stasiun bukan hanya sekedar tempat untuk menunggu rentetan gerbong besi yang akan mengantarkannya. Stasiun menjadi tempat untuknya menuju sebuah rasa yang menjadi obat. Stasiun bukan hanya tentang kereta untuk Auriga. Stasiun menjadi se...
