Suasana rumah terasa sangat tenang, melingkupi seorang perempuan yang sudah duduk di halaman. Hanya ada suara gemericik air kolam yang masih tetap tenang disana.
"Ini,"
Suara pelan laki-laki yang baru kembali dengan sebuah nampan di tangan itu langsung membuat lamunan Gendhis terhenti.
Ada senyum tipis yang sudah mengembang pada wajah Riga, laki-laki yang masih sibuk memindahkan satu gelas teh, kopi, dan sepiring kue ke atas meja.
Gendhis tersenyum, membantu Riga memindahkan nampan yang mulai kosong. "Terima kasih... sebuah kehormatan diladeni sama Mas Wamen nih," ucap Gendhis dengan tawa pelan. "Kan saya jadi enak ya," lanjutnya dengan tawa yang belum terhenti.
Tawa Riga ikut terdengar disana, laki-laki itu bahkan sempat mengacak puncak kepala perempuannya kegemasan. "Udah bisa ngelawak ya berarti," gumamnya di tengah tawa.
Laki-laki itu ikut duduk, mengisi bean bag di samping Gendhis. Hanya mereka berdua di halaman luas tersebut.
"Jadi, mau ngomong apa, Mbak?"
Memulai lebih dulu, Riga tersenyum tipis menatap wajah perempuannya. Laki-laki itu seolah kembali terhipnotis dengan wajah ayu Gendhis disana, bahkan hanya cahaya lampu taman yang temaram keelokan seorang Gendhis masih tetap terpancar sempurna.
Gendhis menghembuskan napasnya, panjang. Perempuan itu seolah sedang menyusun sesuatu di dalam kepalanya, sebelum menggerakkan kepalanya untuk membalas tatapan Riga perlahan.
Ada raut tidak yakin yang tiba-tiba bisa Riga mengerti disana, tidak, Gendhis tidak terlihat sedih atau kebingungan. Tapi, Gendhis terlihat ragu dengan hal-hal di kepalanya sekarang.
Perempuan itu mengulum bibirnya, sebelum perlahan berganti dengan sebuah senyuman tipis menatap Riga. "Kalau aku mau tau tentang masa lalu Mas Riga, apa Mas Riga keberatan?" suara lirih Gendhis mulai terdengar sangat hati-hati memasuki pendengaran Riga.
Riga terdiam sesaat, laki-laki itu masih terus menatap perempuan di sampingnya lurus-lurus. Laki-laki masih sedikit terkejut dengan pertanyaan Gendhis yang tiba-tiba.
"Kalau keberatan... nggak usah di jawab nggak apa, Mas," ucap Gendhis setelah beberapa detik yang terlewatkan begitu saja. Perempuan itu masih tersenyum tipis, kali ini sudah menatap kolam renang di hadapan mereka.
Siapa sangka, sebuah senyum tipis mengembang begitu saja pada wajah Riga. "Mbak," panggilnya mencoba kembali meminta atensi Gendhis yang sudah kebali sibuk dengan isi kepalanya.
Bergumam pelan, Gendhis perlahan kembali membawa netranya membalas tatapan Riga. Perempuan itu bahkan masih bisa tersenyum membalas laki-laki yang sudah menatapnya.
"Apa yang mau Mbak Gendhis tau tentang Hilda?" tembak Riga dengan cepat, menyebut nama yang sepertinya ingin Gendhis ketahui. Laki-laki itu bahkan masih mempertahankan senyumnya untuk Gendhis.
Kedua alis Gendhis terangkat sempurna, tatapannya berubah. Ada keterkejutan yang jelas ketara pada wajahnya. Sekali lagi, Riga berhasil menebak dengan sempurna perasaan perempuannya.
Dengan gerakan kaku, kepala Gendhis terangguk pelan. Bahkan senyum Gendhis terasa sedikit canggung kali ini.
Berdeham pelan, perempuan itu kembali merubah posisinya. Perlahan, Gendhis menggerakan tubuh, membawa tubuh ramping itu menghadap ke arah Riga seutuhnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Station
Roman d'amourBagi Gendhis stasiun bukan hanya sekedar tempat untuk menunggu rentetan gerbong besi yang akan mengantarkannya. Stasiun menjadi tempat untuknya menuju sebuah rasa yang menjadi obat. Stasiun bukan hanya tentang kereta untuk Auriga. Stasiun menjadi se...
