"Ananda Auriga Cakra Bagaskara Suma bin Atmojo Ganendra Suma almarhum, saya nikahkan dan saya kawinkan ananda dengan putri kandung saya yang bernama Shanaya Gendhis Anjana binti Wisnu Anjana dengan mahar berupa logam mulia sebesar lima puluh lima gram dan tiga puluh dinar dibayar tunai,"
Suara lantang Ayah berhasil membuat Gendhis meneteskan air matanya. Perempuan itu bahkan bisa merasakan bagaimana Ayah terdengar cukup gemetar mengucapkan kalimat panjang tersebut.
"Saya terima nikah dan kawinnya Shanaya Gendhis Anjana binti Wisnu Anjana dengan mas kawin tersebut dibayar tunai,"
Sekali lagi, untuk sekali lagi Gendhis mendengarkan namanya disebut di atas mimbar pernikahan. Sebuah kalimat pengalihan tanggung jawab yang sekali lagi berhasil Riga ucapkan dengan lantang dan penuh keyakinan.
Air matanya kembali merangsek turun, menyadari jika kini dirinya sepenuhnya menjadi tanggung jawab laki-laki yang baru saja menjabat tangan Ayah di hadapan para saksi disana.
Tak hanya Gendhis yang menangis disana, tapi lihatlah bagaimana semua bridesmaids yang juga ada di ruangan itu menyeka air mata mereka. Laras dan Revi yang mengapit di kanan dan kiri Gendhis sudah ikut terisak.
Tak hanya kedua teman baiknya itu, di ruangan itu sudah ada empat perempuan lain yang dirinya minta secara khusus untuk membantunya selama rangkaian acara pernikahan. Ada Liana dan Sresta-sepupunya yang tinggal di Bandung dan Makassar-dan juga teman baiknya yang jauh-jauh datang dari Tokyo dan Melbourne, Gistara dan Brenda.
Kini tak hanya Laras dan Revi yang mendekap Gendhis disana, perempuan lain dengan kebaya berwarna emerald blue juga ikut memeluk Gendhis. Bahkan Liana juga langsung turun tangan membantu Gendhis menyeka air matanya.
"Finally, welcome to the trophy wife era, Gendhis," suara Brenda berhasil membuat mereka tertawa.
Gendhis memukul lengan teman baiknya itu, "tolong bantu atasi, Re," pintanya pada Revi yang sudah ikut tertawa disana.
"Jangan, soalnya kawanmu ini kalau nangis nggak berhenti nanti... biar Brenda menjalankan tugasnya," kali ini Gistara lebih dulu membuka suara. "Mumpung ada badut gratis," lanjutnya yang langsung membuat Brenda memberengut.
Si pengantin yang masih sibuk menyeka air matanya ikut tertawa pelan. Melihat tingkah para bridesmaid-nya yang selalu tak kehilangan akal untuk menghibur dan menemaninya beberapa hari ini.
Ya, sudah hampir satu minggu segala rangkaian acara yang menyongsong pernikahannya dilaksakan. Dan tidak satu haripun keenam perempuan itu absen dari acara yang diadakan.
Dan benar yang Gistara ucapkan, mungkin jika Gendhis sendirian pasti dirinya akan banyak menangis karena perasaannya yang campur aduk. Apalagi Laras dan Revi, pasti malah keduanya ikut menangis bersama Gendhis.
"Kita keluar sekarang Mbak Gendhis, monggo," suara lembut seorang Ibu Adat dan tim wedding organizer itu berhasil membuat obrolan mereka terhenti.
Gendhis mengangguk pelan, menerima uluran tangan seorang ibu berumur lima puluhan tahun.
Langkah kaki Gendhis perlahan mulai melewati ruang tunggunya. Tangannya bahkan terasa gemetar karena ini juga kali pertama bagi keluarganya melihat dirinya dalam balutan kebaya dan riasan pernikhannya.
Ya, Gendhis sengaja meminta keluarganya untuk tidak melihat riasannya. Termasuk Ayah, Bunda, dan Sekha yang Gendhis larang keras melihatnya dirias. Bukan hanya Riga, tapi Gendhis juga ingin menjadi kejutan bagi keluarga besarnya.
"Tenang, Mbak... Mas Riganya sudah lolos kok akadnya," bisik Ibu Adat dengan tepukan pelan di punggung tangan Gendhis. "Suami Mbak Gendhis, berhasil menerima amanah baru," imbuhnya dengan suara lirih.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Station
RomanceBagi Gendhis stasiun bukan hanya sekedar tempat untuk menunggu rentetan gerbong besi yang akan mengantarkannya. Stasiun menjadi tempat untuknya menuju sebuah rasa yang menjadi obat. Stasiun bukan hanya tentang kereta untuk Auriga. Stasiun menjadi se...
