25. Take This Chance

51.7K 4.5K 181
                                        

"Jadi, kamu typhus gara-gara dilamar?"

Dengan suara tertahan Revi mengucapkan kalimat tersebut, perempuan itu bahkan menatap Gendhis dengan satu tangan menutupi bibir karena rasa tidak percayanya.

Gendhis mengedikan kedua bahunya, membawa kedua netranya guna menatap benda yang masih terpasang rapi pada kotak beludru di tangannya. "Nggak juga," lirihnya pelan. "Emang waktunya aku sakit aja," ulang Gendhis mendengus kesal.

Laras menatap wajah Gendhis sebelum kembali menatap kotak biru di pangkuan Gendhis. "Terus kamu jawabnya gimana?" penasaran Laras. Perempuan itu terlihat masih cukup tidak percaya dengan informasi penting yang Gendhis sampaikan beberapa menit lalu.

Gendhis mencebikan bibirnya, "belum aku jawab, lagipula itu bukan lamaran nggak sih masuknya tuh," balas Gendhis menatap Laras dan Revi yang duduk di dekat kakinya bergantian.

"Aduh..."

Mengaduh, Gendhis langsung mengusap keningnya yang mendapat sebuah sentilan dari Revi. Perempuan itu bahkan sampai meringis merasakan panas disana.

"Apasih?" protesnya melihat wajah Revi dan Laras. Masih sibuk mengusap keningnya yang masih terasa panas.

Kedua perempuan itu langsung berkacak pinggang, menatap Gendhis dengan tatapan tak habis pikir. "Udah gila temenmu, Rev," decak Laras lebih dulu.

Revi mengangguk pelan. "Iya, kasian banget nggak sih. Mana masih muda begini," balasnya dengan kepala menggeleng.

Bahkan Laras sudah menaikan sudut bibir kanannya. "Gini, Ndhis... disini yang baru pertama dilamar tuh nggak cuma kamu. Kebetulan aku sama Revi juga pertama kali dilamar, nih," dengan nada ramah yang dibuat-buat, Laras tersenyum tipis. "Tapi, responnya ya nggak gini juga loh, Ndhis," gemas Laras.

Gendhis hanya menipiskan bibirnya, perempuan itu mengangguk-anggukan kepalanya. Perempuan itu paham dengan maksud kedua temannya.

Mata Gendhis menatap benda kecil di pangkuannya, kotak beludru yang sudah terbuka menampilkan cincin putih di dalamnya. Sedikit tidak habis pikir, bagaimana bisa Riga mendapatkan Bee My Love solitaire in white gold, set with brilliant-cut diamonds di bagian tengah itu. Terlebih, melihat tulisan yang tercetak jelas di kotak beludru itu semakin membuat Gendhis keheranan.

Dan satu lagi, bagaimana bisa Riga bisa tau ukuran jarinya. Seingatnya, laki-laki itu tidak pernah menanyakan tentang hal itu. Atau mungkin...

Ah, sekarang Gendhis ingat. Dua bulan lalu Diaz pernah menanyakan tentang ukuran jarinya, Gendhis ingat saat itu Diaz beralasan jika Sekha akan membeli sebuah cincin untuknya dan Diaz.

Jangan tanya bagaimana Gendhis tau jika cincin itu pas di jari manisnya. Pagi tadi, dirinya sangat penasaran dengan isi di dalam kotak bertuliskan Chaumet itu. Diam-diam mencoba untuk menyematkan benda kecil itu pada jari manisnya.

"Tapi serius, Ndhis, Mas Rigamu tuh auranya bukan main," puji Revi yang sudah duduk di kursi samping tempat tidur Gendhis.

Mengangguk cepat, Gendhis ikut setuju dengan pujian yang dilemparkan Revi. "Memang," singkat Gendhis sebelum membuka mulutnya, memberi kode pada Laras untuk memasukkan potongan grilled salmon.

Lihatlah tiga perempuan muda itu, sangat tidak habis pikir. Bahkan Bunda juga sampai bergeleng kepala saat melihat Revi dan Laras datang tadi.

Bagaimana tidak, dua perempuan itu datang lengkap dengan tote bag berisi pakaian kerja mereka dan tiga tas lain dari restoran sushi langganan mereka. 'Anggap aja kita lagi staycation di Padma bukan SMC' ujar Laras saat Gendhis melotot tidak percaya.

The StationTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang