Apa kalian tau jika ada sebuah larangan di Pura Mangkunegaran?
Sebuah larangan untuk melakukan adat pernikahan bagi siapapun yang tidak memiliki garis keturunan Raja Mangkunegaran.
Ya, kalian tidak sendiri jika baru mengetahuinya sekarang. Karena Gendhis, juga baru mengetahui hal ini ketika persiapan pernikahan mereka beberapa bulan ini.
Perempuan tiga puluh tahun itu bahkan baru menyadari mengapa dulu Sekha dan Diaz hanya melakukan resepsi menyambut tamu undangan disana, sedangkan acara adat pernikahan dilakukan di rumah keluarga Diaz.
Rasanya, bukan hanya statusnya yang berubah. Tapi juga wawasan serta akar budaya perempuan cantik itu yang ikut berubah drastis. Mendampingi seorang Raja sesungguhnya di tengah lajunya dunia modern ini.
Rangkaian demi rangkaian acara pernikahan keduanya seolah bersambung antara satu episode ke episode lain. Dari siraman, pengajian, midodareni, hingga akad yang sudah dilaksanakan di Semarang minggu lalu.
Kini keduanya kembali menjadi tokoh utama rangkaian prosesi panjang itu. Lihatlah bagaimana keduanya yang masih saling berpegangan tangan dengan senyum merekah mengikuti arahan photographer pernikahan mereka.
"Tremor sedikit, ndak ngaruh sih," gumam Fari yang berhasil membuat tawa Gendhis maupun Riga meledak sempurna. Laki-laki dengan kemeja batik itu bahkan terlihat sangat hati-hati setiap mengarahkan kedua mempelai di depannya. "Ngeri-ngeri sedap aja rasanya," lanjutnya seolah belum puas.
Kalian tidak salah, Gendhis menjatuhkan pilihannya kepada Elfari dan timnya. Tentu saja, selain Gendhis sendiri yang sudah tidak asing dengan tim fotografi itu. Elfari juga menjadi langganan sejak pernikahan Sekha dan Diaz bertahun-tahun lalu.
"Aku tuh juga takut kalau salah tingkah terus dihujat satu Indonesia raya," kali ini Laras lebih dulu membuka suara. Perempuan dengan kebaya berwarna smoke green itu meringis.
Tak hanya Laras, namun kelima perempuan lain disana juga ikut mengangguk. "Kita takut salah langkah sih," balas Brenda yang berdiri di samping Laras dengan nada takut-takut.
"Loh, salah itu ndak masalah loh Mbak... asal setelah tau itu salah nggak diulangi lagi,"
Suara Ibu berhasil membuat mereka semua menoleh. Bagaimana tatapan mereka langsung mengarah pada seorang perempuan tujuh puluh tahunan dengan kebaya berwarna pear sorbet yang baru memasuki ruangan besar itu.
Tidak sendirian, Ibu bahkan bergandengan tangan dengan Bunda yang diikuti Ayah dan Om Hendro-adik Almarhum Romo-di belakang keduanya.
"Jangan takut salah, nanti kalau kalian semua takut salah malah nggak berani main ke rumah Gendhis ini," ucap Ibu dengan lembut.
Laras dan Brenda langsung mengangguk, keduanya terlihat cukup canggung berhadapan langsung dengan Ibu.
Bukan, bukan karena Ibu mengintimidasi teman-temannya. Tapi sepertinya mereka sadar bagaimana aura seorang Gusti Putri Mangkunegaran XIV tersebut, sebuah aura yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata secara gamblang.
Ibu duduk di kursi samping Revi, "aduh, ini si cantik atau si bagus ini udah diajak main ke Mangkunegaran," ucap Ibu menyapa Revi. "Sudah berapa bulan, Mbak?" tanya Ibu penasaran.
Revi mengangguk pelan, "sudah hampir lima bulan, Gus-"
"Panggil Ibu aja, seperti teman-teman Mas Riga yang lainnya," potong Ibu dengan cepat. "Sehat-sehat ya, Mbak. Nanti waktu acara jangan telalu capek," wejangan Ibu dengan lembut.
Revi kembali mengangguk, perempuan hamil itu kembali membawa tangannya mengusap perutnya yang menyumbul dari kebaya yang dikenakannya. "Nanti boleh kan Bu kalau sudah lahir si adek main-main sama anak Gendhis disini?" isengnya mencoba mencari obrolan.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Station
RomansaBagi Gendhis stasiun bukan hanya sekedar tempat untuk menunggu rentetan gerbong besi yang akan mengantarkannya. Stasiun menjadi tempat untuknya menuju sebuah rasa yang menjadi obat. Stasiun bukan hanya tentang kereta untuk Auriga. Stasiun menjadi se...
