32. Light To Light

42.7K 4.2K 127
                                        

"Oke, good!"

Teriakan photographer itu terdengar disela riuhnya ruangan yang sudah disulap menjadi studio foto. Dengan background berwarna smoke grey, Elfari—photographer pilihan Revi—dan timnya berhasil menyulap ruang multifungsi di samping ballroom menjadi studio.

Gendhis yang berdiri tepat di samping Revi segera mengelus lengan kiri temannya yang duduk di tengah sebelum beranjak dari posisinya.

"Kalian jangan lupa makan dulu," seruan Catra pada para bridesmaid and groomsmen yang sudah beranjak dari tempat mereka.

Rasanya masih sedikit tidak menyangka, bagaimana semalam Gendhis, Laras, dan Revi menangis. Dan pagi ini, ketiganya sudah bisa tersenyum seolah tidak terjadi obrolan yang menguras air mata.

"Ini nikahan rasa foto katalog kebaya," seruan tim photographer yang membuat suasana kembali riuh. "Auranya itu loh, menyala," puji Fari dengan tawa renyahnya.

"Apa menyala? orang kita yang nyalain apinya kok," potong Laras masih sibuk merapikan kebaya yang dipakainya. "Kita semua itu bensinnya, Catra sama Revi koreknya," jelasnya yang langsung membuat tawa riuh mereka.

Tim photographer sampai bergeleng kepala mendengar celetukan Laras. Bahkan keluarga kedua mempelai itu juga tertawa dengan tingkah random jajaran groomsmen and bridesmaids.

Gendhis kembali merapikan kain brokat berwarna rust yang membungkus tubuhnya. Gendhis selalu menyukai penampilannya ketika terbalut kain tulle, ketika dirinya mengenakan kebaya.

Seperti pagi ini, perempuan itu tidak menambahkan terlalu banyak aksesoris. Hanya square stud cluster earrings with halo from Leviev yang terpasang di telinganya serta cincin putih pemberian Riga yang menghiasi jari manisnya.

Tak ada sanggul atau sasakan pada rambutnya, Gendhis lebih memilih clean low bun untuk tatanan rambutnya. Membuat penampilan seorang Gendhis mejadi cukup sederhana namun tidak meninggalkan aura elegan perempuan cantik itu.

"Nggak bisa godain Gendhis lagi deh," celetukan itu berhasil membuat Gendhis menjeda kegiatannya.

Meletakkan kembali garpu berisi potongan salmon dan menatap lurus ke arah laki-laki di seberangnya. Mata Gendhis memicing menatap Ryan yang tersenyum jahil disana. "Bener-bener buaya senior," decaknya.

Mereka memang sedang berada di ruangan lain untuk sarapan, berada di satu meja bundar besar yang memang diperuntukkan untuk mereka—bridemaids dan groomsmen—menunggu sesi foto keluarga selesai.

"Serius kaget, lama nggak dengar kabar tau-tau udah terpasang cincin aja itu jari manis... kan aku jadi patah hati, Ndhis," bukannya berhenti laki-laki seangkatan Gendhis itu masih belum usai disana.

Laras yang duduk di samping Gendhis langsung berdecak. "Dengar saran aku... mending mundur aja," sahut Laras dengan wajah serius. "Kebanting banget soalnya, Yan," lanjut Laras dengan mata menyipit.

Kepala Gendhis menggeleng mendengar celetukan Laras, bahkan nada bicara Laras juga terdengar sangat jahil di telinga Gendhis.

"Omong-omong, calon kamu yang di DP Mall itu kah, Ndhis?"

Ucapan cepat Gianna—salah satu bridesmaids, teman Revi—yang tiba-tiba membuat Gendhis langsung terbatuk.

"Beneran berarti," gumam Gigi setelah melihat Gendhis menyesap air mineral dari gelasnya. "Aku pikir salah orang, tapi nggak mungkin ada yang mirip kamu satu Semarang raya," sambungnya dengan nada lebih yakin.

Kedua alis Gendhis terangkat membalas tatapan Gigi, "kok bisa tau, sih?" herannya. Masalahnya, seingat Gendhis dirinya dan Riga tidak bertemu orang yang ia kenali di DP Mall bulan lalu.

The StationTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang