9. Just More Honest

65.9K 4.9K 54
                                        

"Gila, bisa-bisanya Tama milih Nadia jadi leader tim sales, bukan main peletnya,"

Decakan heran Albi menjadi latar suara di ruangan besar yang mulai sepi itu. Sebuah decak heran yang sarat dengan ketidakpercayaan.

Riga menggelengkan kepalanya, laki-laki itu tersenyum dengan tangan mengapit iPad miliknya. "Bagus dong, kinerja Nadia juga bagus sejauh ini," balasnya sebelum berjalan meninggalkan ruangan besar itu.

Albi kembali berdecak, "sialan, pantes aja gue mau ambil Nadia nggak di lepas," kesal Albi dengan nada tak terima. "Greget banget elah," masih dengan nada yang sama. Albi terus menggerutu atas kejadian beberapa waktu lalu itu.

Rapat antara tim marketing dan tim finance memang sudah rutin dilakukan setiap minggu. Termasuk hari ini, ketika tiba-tiba seorang Nadia berdiri memimpin rapat koordinasi itu.

Sebuah perebutan sengit antara dua departemen besar di dalam perusahaan.

"Udahlah, cari kandidat baru. Mungkin Nadia itu rezekinya tim sales, Bi."

Sahutan yang terdengar begitu saja dari sisi kiri Riga. Membuat Riga maupun Albi terlonjak kaget dengan suara bariton milik laki-laki yang berjalan mengikuti langkah mereka.

Radhitama Nias tersenyum lebar menatap wajah suram Albi. Laki-laki itu terlihat sangat bangga dengan pencapaiannya hari ini.

"Coba bilang sama gue, dimana alamat dukun yang lo bayar, Tam?" cecar Albi ketika mereka masuk ke dalam lift.

Kalimat yang berhasil membuat Riga langsung memukul laki-laki itu dengan file yang dibawanya. "Asbun banget, Albi," cicit Riga tak habis pikir.

Bukannya marah, Tama hanya terkekeh geli mendengar ucapan Albi. Laki-laki bahkan dengan santai melipat tangan di depan dada.

"Mungkin pesona seorang Radhitama lebih besar dari anda, Pak Albi," lirih Tama dengan senyum jahilnya. Laki-laki itu bahkan menaikan satu alisnya, "udahlah, Al, ikhlas aja," tambahnya.

Albi kembali mendengus, "masih nggak terima, mainnya nikung soalnya," balas Albi cepat. "Har-" ucapannya Albi seketika terhenti ketika pintu lift terbuka di lantai lima.

Riga bahkan langsung menyenggol tangan Albi, "saran gue sih mending diem, kalau nggak mau rusak citra seorang Albi Djiwa," bisik Riga dengan senyum jahil.

Bisikan yang berhasil membuat Albi menunduk, laki-laki yang tentu saja tidak ingin citranya di perusahan rusak.

Tak sampai tiga menit, pintu lift kembali terbuka di lantai sembilan. Albi dan Tama memang berniat untuk mampir ke ruang kerja Riga.

"Hai, Gea," sapa Albi pada perempuan berambut pendek yang tersenyum ramah pada mereka. "Kalau bosen jadi fruit child Riga, feel free to call me," lanjutnya mengedipkan mata kiri.

Hal itu lantas membuat Riga memukul punggung temannya itu. "Beneran minta disantet nih orang," ucapnya dengan gesture meminta Tama menarik laki-laki itu menjauh dari kubikel Gea.

"Mohon maaf, bolo, Pak Albinya lagi frustasi," lirih Tama dengan wajah menahan malu.

Ketiganya segera masuk ke dalam ruang kerja Riga. Dua orang memilih duduk di sofa dan si pemilik ruangan yang mulai sibuk di coffee station kesayangannya.

Riga segera membawa dua cangkir kopi, meletakkannya di depan Albi dan Tama. Tak lupa membawa kopi miliknya.

"Jadi?"

Dengusan Riga langsung terdengar, laki-laki itu bahkan langsung memutar matanya dengan malas.

"Ambil?"

The StationTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang