35. Divine Knowing You

45.5K 4.7K 298
                                        

"Mbak Desi, boleh tolong bantu bawa ini?"

Gendhis menatap perempuan di sampingnya dengan lembut, menunjuk satu box berukuran cukup besar yang baru saja diserahkan oleh kasir di hadapannya.

"Boleh, Ibu," balas Desi menerima kotak berisi beberapa kue yang Gendhis pilih tadi. "Ibu Gendhis mau dipanggilkan Pak Bono buat bantu bawa barangnya?" tanya Desi saat melihat kotak lain yang disana.

Kepala Gendhis menggeleng pelan, "nggak usah, Mbak," jawabnya sebelum kembali menghadap ke arah kasir yang terlihat selesai memasukan belanjaannya.

Hampir tiga puluh menit perempuan cantik itu menyelesaikan urusannya di Exquise. Tentu saja, Gendhis tidak hanya datang untuk mengambil kue pesannya. Perempuan itu juga membeli beberapa kue dan roti lain disana.

"Terima kasih," ucapnya pada kasir sebelum membawa box lain dari sana. Perempuan itu bahkan juga tersenyum membalas beberapa pegawai yang tersenyum saat berpapasan.

Sore ini tiba-tiba Desi datang ke rumah untuk menjemputnya setelah Gendhis selesai dengan panggilan video bersama Ibu Martha dan Sena.

Ya, Ibu Martha meminta Desi untuk menjemput Gendhis dari Menteng ke Kebayoran Baru setelah mendengar jika Gendhis akan memesan taksi.

Ketiga perempuan itu merencanakan sebuah kejutan untuk Riga. Laki-laki yang hari ini tepat berumur tiga puluh tiga tahun, merencanakan sebuah kejutan kecil di rumah Menteng.

Awalnya Gendhis memang ingin memberikan kejutan dengan memberikan kabar jika dirinya di Jakarta saat ini, namun minggu lalu Ibu Martha lebih dulu memberitahu Gendhis ide kejutan tersebut.

Saat itu, Ibu Martha menanyakan jadwal pekerjaan Gendhis. Tapi siapa sangka, ternyata rencana Ibu Martha seolah di dukung oleh semesta karena jadwal Gendhis yang kebetulan cocok dengan rencana beliau.

Dan disinilah perempuan dengan cotton chambray shirt dress dari Ralph Lauren duduk, di kursi penumpang Mercedez Benz GLC 450 milik Ibu Martha.

"Bapak udah sampai rumah belum ya, Mbak Desi?" tanya Gendhis setelah menengok jarum kecil di Reversonya hampir menunjuk angka tujuh. "Nggak lucu sekali kalau ternyata yang dikasih kejutan lebih dulu sampai," lanjutnya terkekeh pelan.

Dari tempatnya, Gendhis bisa melihat Desi yang menggelengkan kepalanya. "Tadi Mas Ibas info sih belum Bu, sedikit macet di tol katanya," terang Desi membawa wajahnya menatap Gendhis. "Tenang aja, Bu. Kalaupun terlambat selama ada Ibu Sena dan Ibu Martha, nggak akan gagal,"  lanjut Desi tersenyum lebar.

Gendhis sedikit menaikan alisnya, "kok bisa? memangnya udah pernah kejadian?" tanya Gendhis mulai penasaran.

Kali ini kepala Desi mengangguk. "Tahun lalu itu kan Mbak Alicia sama teman-teman Bapak mau kasih kejutan di Mangkunegaran. Hampir gagal, karena Bapak tiba-tiba masuk kamar..." cerita Desi dengan tawa pelan. "Panik semua sampai sembunyi di kamar mandi, terus Ibu Martha kasih ide buat telfon Bapak dan minta Bapak buat ke kamar beliau," lanjutnya dengan nada riang.

"Terus-terus," sahut Gendhis tidak sabaran.

"Ya nggak ada Ibu Martha di kamar beliau, orang Ibu Martha ada sama yang lain di kamar Bapak waktu itu," lanjut Desi mengingat kejadian setahun lalu dengan tawa pelan.

Gendhis bisa membayangkan betapa kesalnya laki-laki itu, mengingat jika jarak kamar Riga dan Ibu Martha cukup jauh. Ya, Gendhis bisa membayangkan Riga yang mungkin langsung tidak mood karena kejadian itu tiba-tiba mendapat kejutan.

"Terus, marah nggak si Bapak?" perempuan cantik itu terlihat masih penasaran.

Desi menggeleng pelan, "nggak sih, Bu... cuma memang kata Bapak selama jalan balik ke kamar beliau ngedumel aja katanya," lirih Desi yang sudah memiringkan tubuhnya.

The StationTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang